Celoteh Anak-Anak Tentang Jakarta

Saat memberikan les persiapan OSK, saya memotivasi anak-anak saya dengan pertanyaan sederhana,

“Siapa yang ingin ke Jakarta?”

Delapan anak saya yang lolos ke semifinal jelas mengangat tangan semua. Kemudian pertanyaan saya lanjutkan,

“Memang kenapa ingin ke sana? Apa yang ingin kalian lihat?”

Source Pic: https://rovicky.wordpress.com

Jawaban mereka cukup bervariasi. Berikut celoteh anak saya tentang Jakarta:

“Saya ingin melihat gedung-gedung yang tinggi dan mobil gagah.” jawab Adil, anak kelas 2.

“Kalau kamu, Inal?” lanjut saya menunjuk ke yang lain.

“Kalau saya ingin ke Monas dan naik busway, Pak.” jawab anak kelas 4 ini.

Inal dalam mengucapkan busway lucu sekali, buswai. Saya pun mengkoreksi pengucapan kata busway.

“Kalau saya ingin naik pesawatnya saja sie, Pak. Hehehee..” giliran Geby, anak kelas 3, yang menjawab.

“Saya takut naik pesawat. Bisa ke Jakarta tidak naik pesawat, Pak?” sanggah Bulan, anak kelas 2.

“Bisa. Tapi lama sampainya. Lebih cepat naik pesawat.” jawabku.

“Biar lama, Pak. Yang penting sampai Jakarta.” Bulan melanjutkan pendapatnya.

“Siph. Yang penting sampai. Sekarang giliran Jumawan. Apa alasanmu, Wan?” tanyaku ke Jumawan kelas 4.

“Kalau lihat di televisi, Jakarta itu macet. Kalau macet berarti banyak mobil. Kalau banyak mobil berarti banyak polusi. Kalau nanti torang ke Jakarta, jangan lupa bawa bawa kain untuk menutup hidung.” Jumawan memberikan jawaban di luar ekpektasi saya.

“Berarti, Jumawan ingin melihat macet?” lanjut saya.

“Bukaaan, Pak! Saya ingin naik pesawat dan melihat Monas. Tadi saya ingin  memberikan informasi ke teman-teman” jawabnya sambil nyengir.

“Hahahaa. Oalah, Pak Andik pikir kamu ingin melihat macet. Lho, Uci dari tadi diam saja. Kenapa?” percakapan berlanjut.

“Uci takut ke Jakarta, Pak. Nanti mamak diajak juga kan?” ujar Uci, anak kelas 3 dengan muka khawatir.

“Tidak usah takut. Mamaknya boleh ikut ke Jakarta. Kalau ada yang lolos, mamaknya akan ikut ke Jakarta.”

“Asikkkk…” teriak mereka serempak.

****

Saya suka sekali melakukan percakapan random dengan anak-anak. Banyak hal yang saya temukan dari mereka. Celoteh tentang Jakarta ini memaksa pikiran kembali mengingat Jakarta versi saya. Thanks, kids!

 

*Sinorang, 24 Maret 2015

Advertisements

Dalam Kopaja 20

Saya kemarin bertemu dengan senior alumni SMA di salah satu mall Jakarta Selatan. Seperti biasa, transportasi andalan saya adalah kopaja baik untuk berangkat maupun pulang.

Oke, yang ingin saya tulis kali ini bukan pertemuan dengan senior saya. Tapi kejadian dalam kopaja 20 saat perjalanan pulang. Saya naik Kopaja 20 dari depan Gedung Cyber 2 menuju cilandak KKO. Sepanjang perjalanan, saya hitung ada 4 tipe pengamen yang bergantian mencari peruntungan di kopaja tersebut.

1. Preman

Pengamen tipe pertama yang mencoba mengais rezeki di kopaja tersebut. Tapi kalau saya bilang ini mah bukan pengamen. Tak ada nada yang dimainkan sama sekali. Dua orang pemuda dengan muka sok sangar melakukan monolog andalan mereka. Kemudian topi kebesaran ditodongkan ke penumpang. Dengan agak memaksa mereka meminta. Hasilnya, nihil. Tak ada satupun penumpang yang membagi rezeki ke mereka. Ya iyalah, hanya monolog tak berarti lantas meminta iba ke penumpang. Mana ada yang mau kasih.

Continue reading “Dalam Kopaja 20”

Jakarta, Kota Ilusi

Dulu saya tak pernah berpikir akan mencari rezeki di Jakarta. Saya ingat sekali, pertama kali saya ke Jakarta, saat masih berusia 5 tahun. Setelah itu, saya tak pernah lagi berkunjung ke kota ini. Bagi saya tak ada yang menarik dari kota ini.

Uanglah yang membuat saya harus ke sini. Lulus kuliah, saya berkunjung ke Jakarta yang selama ini hanya saya lihat di kotak persegi berukuran 32″ atau ceritanya sering saya baca di surat harian kabar.

Banyak yang bilang, Jakarta kejam. Ah, masa iya? Buktinya setiap tahun makin banyak yang datang ke Jakarta. Yakin Jakarta kejam?

Banyak yang bilang, Jakarta macet. Siapa coba penyebab macet kalau bukan kalian sendiri yang selalu mengeluh.

Tidak butuh lama untuk saya paham tentang Jakarta. Saya bukannya sok jago berbicara tentang kota ini. Saya mencoba berbicara dari pandangan saya pribadi. Ingin setuju silahkan, tak setuju juga tidak masalah.

Saya tidak tahu Jakarta dulu. Yang saya ketahui hanya Jakarta sekarang. Kota penuh dengan sejuta mimpi. Kota dikala pagi begitu padat dengan eksistensi diri. Menjelang malam berevolusi menjadi sebuah prostitusi.

Tak usah tutup mata dengan hitamnya Jakarta. Kota ini akan lebih jujur dikala malam hari. Manusia dengan segala penjuru melepas topeng mereka. Bergumul menjadi satu dalam riuhnya gemerlapnya lampu.

Apakah Jakarta punya sisi putih? Jelas, punya. Tapi entah bersembunyi di mana.

Jakarta, kota ilusi