Kafka on The First Flight

Belajar dari pengalaman cuti sebelumnya yang kami habiskan jalan-jalan (Cirebon-Jakarta-Bojonegoro-Lamongan-Jakarta), saya merasa cuti dua minggu tak terasa. Meski di perjalanan itu, quality time juga sama keluarga tapi rasanya cuti cepat habis. Akhirnya saya tidak merencanakan kemanapun di cuti bulan April ini. Inginnya di rumah saja, bermain sama Kafka.

Menjelang hari H cuti, saya dikabari jika harus pulang ke Bojonegoro karena ada keperluan mendesak. Saya langsung kabari Bojo, bisa cuti apa tidak. Ternyata kondisi pekerjaannya sedang tidak mungkin untuk ditinggalkan, lagi padat-padatnya. Akhirnya kami putuskan untuk balik ke Bojonegoro tanpa harus ambil cuti. Berangkat hari Sabtu, balik hari Minggu. Satu-satunya transportasi yang memungkinkan untuk hal ini adalah pesawat.

image_6483441
Design by Canva.com

Saya langsung booking pesawat pulang pergi. Berhubung kami keluarga yang menjunjung kata hemat, saya langsung menyusun budget kepulangan ini. Tujuannya biar terkontrol dan tidak bikin dompet jebol. Terima kasih Traveloka yang sudah memudahkan saya dalam pemesanan tiket pesawat kali ini (dapat potongan harga pula!). Saya baru tahu jika anak usia di bawah dua tahun, terkena biaya tiket (50-100an ribu). Selama ini saya pikir gratis seperti tiket kereta api.

Ini akan menjadi penerbangan pertama bagi Kafka. Saya dan Bojo agak khawatir kali ini. Jika naik kereta api, Kafka sudah lulus 100%. Perjalanan dari Jakarta-Bojonegoro (PP) dan  Jakarta-Cirebon (PP) sudah pernah ditempuh dengan mulus, tanpa rewel. Saat ini agak beda kondisinya. Jujur kami khawatir kalau nanti saat di pesawat Kafka rewel dan membuat penumpang lain terganggu. Secara kan tekanannya beda banget. Jangankan pesawat, setiap naik/turun via lift saja Kafka terasa tekanannya. Jadi pas digendong, langsung tegang. Kami coba baca-baca artikel mengenai membawa anak saat penerbangan.

Saat berangkat (Jakarta-Surabaya) kami memilih penerbangan pagi, jam 05:30 dengan maskapai Citilink. Kami harus berangkat dari kontrakan jam 03:30 yang mana Kafka masih tidur dengan nyenyak. Bojo hanya mengelap dengan tisu basah dan mengganti pakaiannya. Di perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta, Kafka kembali tidur. Kami sampai di bandara sekitar jam 05:00 dan Kafka terbangun. Alhamdulillah, kami masih sempat untuk sholat subuh secara bergantian.

Saat memasuki pesawat, Kafka masih terbangun. Begitu duduk di kursi, Bojo langsung menyusui Kafka biar kembali tertidur. Uhuyyy! Kafka kembali tidur. Pramugari memberikan seat belt dan life vest khusus untuk bayi. Seat belt­-nya ini tambahan untuk dipasangkan di seat belt utama (orang tua). Saya yang memilih untuk memangku Kafka. Perjalanan yang kami tempuh selama 1.5 jam lancar. Tidak hanya Kafka yang tidur selama perjalanan, kamipun juga. Begitu mendarat di Bandara Juanda, Kafka baru terbangun. Mirip sekali dengan saya yang setiap naik transportasi, duduk lalu tidur. Kamu pintar, Nak!

IMG_9615
Wajah Kafka Saat Mendarat di Bandara Juanda

Sesampai Surabaya, kami harus naik bus lagi. Inilah tidak enaknya naik pesawat. Kami harus naik bus dua kali baru sampai rumah. Total perjalanan kemungkinan sekitar 5-6 jam. Jika naik kereta api bisa langsung sampai Bojonegoro dengan total perjalanan sekitar 9-10 jam. Dari Bandara Juanda kami harus naik Bus Damri tujuan Terminal Gresik. Sepanjang perjalanan, Kafka tidak berhenti ngoceh dan teriak-teriak senang. Kemudian tidur sebentar, kembali terbangun dan ngoceh lagi. Bus Damri kan kecil, jadi terdengar dari depan sampai belakang. Mohon dimaklum lah ya, kan anak kecil.

Sesampai Terminal Gresik, kami harus ganti bus tujuan Surabaya-Cepu. Ini adalah bus ekonomi yang panas. Khawatir Kafka rewel karena gerah. Sebenarnya kami bisa memilih transportasi travel yang mana langsung ke tujuan rumah atau meminta dijemput di bandara. Kami urungkan rencana itu. Kami ingin mengajarkan Kafka untuk naik transportasi umum yang memang murah meriah. Jika Kafka tidak rewel naik bus ekonomi yang panas, maka naik transportasi yang mahalpun pasti nyaman. Alhamdulillah, Kafka lulus! Tidak rewel sama sekalipun. Padahal kondisi bus panas sekali. Good job, boy! Kafka bisa diajak untuk liburan ala backpacker. Kemana selanjutnya kita, Bojo?

Hari minggu besoknya, kami kembali ke Jakarta. Dengan rute yang sama, Bojonegoro-Terminal Gresik-Bandara Juanda, Kafka anteng-anteng saja. Untuk baliknya, kami naik pesawat maskapai Sriwijaya. Masih sama saat berangkat, pulangnya Kafka tidur sepanjang perjalanan. Dia terbangun saat sudah sampai di tempat tujuan. Ini mah tandanya Kafka doyan jalan-jalan. Ayo Bojo agendakan kembali jalan-jalan bertiga.

IMG_9633
Ibu dan Kafka di Waiting Room Bandara Juanda

For the last, saya akan membagi tips pribadi untuk mengajak anak usia di bawah dua tahun.

  1. Jadwal terbang

Menurut saya, jadwal terbang ini penting. Ayah dan Ibu bisa memilih penerbangan dengan menyesuaikan jadwal tidur anak. Sehingga saat penerbangan akan berlangsung, anak sudah tidur. Kita sebagai orang tua hanya tinggal memangku dan membuat posisi nyaman untuk anak tidur. Kitapun juga bisa tidur nyenyak.

  1. Pastikan kenyang

Pastikan perut anak kenyang. Jika memang usia di bawah enam bulan, maka cukup ASI saja. Tapi jika sudah di atas enam bulan, maka bisa diberikan MPASI sebelum terbang. Jika ASI eksklusif, jangan malu untuk memberikan ASI langsung dari pabriknya saat di pesawat. Rasanya Ibu-Ibu tidak perlu malu. Sudah ada kain penutup untuk ibu menyusui kan? Kalau anak kenyang, kemungkinan rewel kecil.

  1. Siapkan mainan

Untuk jaga-jaga, siapkan mainan untuk dibawa di pesawat. Saya waktu itu membawa buku yang biasa Kafka mainkan dan teether. Jadi sewaktu-waktu kalau rewel bisa dengan mudah dikeluarkan untuk dijadikan mainan anak.

*****

Tiga tips itu yang bisa saya bagikan. Semoga bermanfaat untuk Ayah Ibu yang membaca tulisan ini. Jika memang masih rewel, please jangan dimarahin. Saya suka kesal jika satu pesawat dengan orang tua yang membawa anak, kemudian memarahinya saat ia rewel. Mungkin saja anaknya risih karena pup atau sakit karena beda tekanan. Ini bisa terjadi lho! Oh ya, buat penumpang yang masih single, mohon juga dimaklumi jika ada anak yang rewel saat naik tranportasi (tidak hanya pesawat). Kami sebagai orang tua juga tidak menginginkan anak kami rewel.

IMG_9635
Kafka Sesaat Sebelum Tidur di Pesawat

Selamat jalan-jalan bersama keluarga!

Advertisements

Bojo dan Ibu Terhebat

Tanggal 18 April Bojo ulang tahun yang ke-17 tahun (keluarga Saputro satu garis keturunan dengan keluarga Cullen, jadi umurnya stop di 17 tahun). Saya dan Bojo bukan termasuk pasangan yang harus merayakan hari spesial, baik ulang tahun maupun anniversary (ya elah baru juga setahun). Ya biasa saja. Paling ngucapin saja dan mentoknya makan di luar. Biasanya kan ada thu pasangan yang memberikan kejutan di kantor atau tempat umum. Duhh, bukan kami banget lah. Bukan berarti perayaan di kantor atau tempat umum salah. Tergantung preferensi masing-masing.

Saya dari awal pulang cuti sudah bilang kalau bakal kembali ke Kalimantan tanggal 18 April, bertepatan dengan ulang tahun dia. Padahal baliknya tanggal 24 April. Saya ingin kasih sedikit kejutan Bojo. Romantis dikit lah, biar hubungan sebagai suami istri terjaga meski kami harus LDR sebulan (tapi berasa lama sekali).

Di hari itu, Bojo curiga kalau dibohogin. Bojo minta foto boarding pass dan foto saya sedang di bandara. Saya matikan HP, pura-pura mau flight. Sorenya sudah saya kabari kalau sampai hotel dengan melampirkan foto hotel tempat saya tinggal (foto lama 😂😂). Dia telfon dan saat itu sedang menggendong Kafka. Apa jadinya kalau pas telfon Kafka ngoceh. Kan doi sedang suka ngoceh. Tak kuangkat. Biar tidak curiga, jam 7an, aku kirim foto angkringan (foto hasil search di google). Dia percaya.

Saya beli kue dan memberikan sedikit properti ulang tahun di kamar. Saat Bojo pulang, buka kamar dan surprise!!!

Semoga berkah umurnya Bojo. Sehat selalu dan dilancarkan semua mimpi-mimpi kamu. Selalu menjadi Bojo dan Ibu yang hebat buat saya dan Kafka.

Bojo saya luar biasa. Selain menjadi ibu rumah tangga, dia juga bekerja di salah satu bank. Saya saat ini bekerja di Kalimantan yang mana mengharuskan jauh dengan keluarga selama sebulan (4 minggu di Kalimantan, 2 minggu cuti). Bojo dan Kafka ditemani sama Mbah Uti. Kami sedang mencari mbak-mbak untuk menemani Mbah Uti. Kemarin sempat dapat tapi tidak cocok.

Setiap hari Bojo berangkat naik motor. Saya suruh naik ojek online tidak mau. Hemat katanya. Saya suruh naik transportasi umum tidak mau. Lama katanya. Tahu sendiri kan jalanan Jakarta seperti apa? Macet. Belum kalau ban bocor atau hujan. Saya selalu kepikiran hal ini di Kalimantan. Bojo mah santai-santai saja.

Soal fashion, Bojo juga tidak rewel. Tidak harus bermerek dan mahal. Yang penting nyaman buat dia. Kelar. Bojo juga tidak begitu doyan belanja. Ya secukupnya saja lah.

Meski bekerja, Bojo juga seorang ibu yang baik untuk Kafka. Bojo berkomitmen untuk ASI eksklusif dan MPASI homemade. Tidak pernah absen untuk membuatkan menu MPASI Kafka sebelum berangkat kerja. Secapek apapun pulang kantor, selalu bahagia bermain dengan Kafka. Duhhh, Allah memang baik banget menjodohkan saya dengan Bojo.

Rina, kamu adalah Bojo terhebatku!

Kafka dan Imunisasi

Saya dan Bojo menginginkan hal yang terbaik dalam proses tumbuh kembang Kafka. Salah satunya dalam hal imunisasi, hukumnya wajib untuk dilakukan. Kami percaya bahwa imunisasi itu penting untuk perkembangan Kafka sehingga menjadi salah satu prioritas kami. Dengan mempertimbangan kondisi finansial, kami ingin membekali Kafka dengan vaksin lengkap sesuai dengan usianya.

Pertama kali kami mengimunisasi Kafka di rumah sakit saat dia lahir, RS Aisyah Bojonegoro. Dokternya memberikan informasi yang cukup lengkap mengenai imunisasi berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Beliau merekomendasikan untuk memberikan vaksin lengkap, minimal imunisasi dasar yang ditanggung oleh Pemerintah. Silakan dicari di google vaksin apa saja yang ditanggung oleh Pemerintah atau imunisasi dasar ini.

Dari RS Aisyah, imunisasi kedua dilakukan di salah satu Puskesmas di Jakarta. Saya dan Bojo yang mana adalah kategori keluarga menengah tanggung ingin mencoba bagaimana pelayanan imunisasi di pusat kesehatan milik Pemerintah. Toh sebenarnya imunisasi dasar yang dari Pemerintah sama kualitasnya dengan imunisasi di rumah sakit. Ekpektasi kami terlalu tinggi. Kafka hanya ditimbang berat badan dan kemudian diimunisasi. Tidak ada pencatatan di buku perkembangannya, tidak ada basa basi bertanya tentang Kafka, dan bahkan saat ingin bertanya langsung dipotong. “Ya elahhh, Ndik. Sudah gratis masih protes?” Bukannya seharusnya tugas bidan di Puskesmas menjelaskan semuanya? Ya sudah lah ya. Semoga Puskesmas lainnya memberikan pengalaman yang lebih baik dari saya dan Bojo. Terlepas dari masalah itu, imunisasi dasar di Puskesmas sangat saya rekomendasikan. Gratis dan sehat Tapi ya jangan terlalu tinggi ekspektasi pelayanannya, yang terpenting kan tujuannya dapat. Waktu itu kami hanya membayar dua ribu rupiah untuk administrasi.

Imunisasi berikutnya saya lakukan di Rumah Sakit Kemang Medical Care (RS KMC) dengan Dokter Made. Kebetulan imunisasi yang kedua ini adalah imunisasi yang bisa dicover oleh asuransi, jadi Alhamdulillah tidak bayar. Alasannya tidak terkait dengan itu saja, tapi kami juga ingin berkonsultasi mengenai perkembangan Kafka, baik fisik (berat badan, tinggi badan, lingkar kepala) dan tumbuh kembangnya. Dokter Made juga menjelaskannya detail sekali. Sebagai gambaran untuk biaya, imunisasi di Puskesmas gratis, di RS KMC biaya untuk vaksinnya 900 ribu rupiah (kalau vaksin yang sama seperti di Puskesmas, di RS KMC sekitar 350 ribu). Itu belum biaya dokternya. Pemerintah memang perhatian ke warganya dengan memberikan imunisasi dasar gratis. Jadi manfaatkan ya Ibu dan Bapak sekalian. Jadi tidak ada alasan Ibu dan Bapak tidak mengimunisasi anaknya dengan alasan biaya.

Imunisasi ketiga Kafka masih imunisasi dasar sekaligus imunisasi tambahan yang tidak ditanggung Pemerintah (berarti juga tidak ditanggung asuransi). Saya dan Bojo mencari alternatif tempat imunisasi. Setelah searching di google, ketemulah Rumah Vaksin (RV) Kebagusan. Kami tertarik untuk mencobanya. Kabar yang beredar di google, harganya lebih murah ketimbang di rumah sakit. Plusnya lagi adalah tidak ada biaya dokter. Sebagai keluarga kelas menengah tanggung, itu jadi point penting. Imunisasi tambahannya adalah PCV yang mana sebenarnya tidak wajib. Kami sepakat mengalokasikan dana untuk imunisasi ini. Datanglah kami ke Rumah Vaksin Kebagusan yang dekat sama kontrakan rumah.

Cukup mudah untuk menuju ke RV Kebagusan karena di aplikasi ojek daring sudah ada. Kesan pertama sampai di RV Kebagusan adalah nyaman sekali. Tidak ada kesan rumah sakit sama sekali, seperti rumah. Banyak mainan untuk anak-anak di ruang tunggu. Kami harus melakukan appointment terlebih dahulu sebelumnya untuk imunisasi di sini. Jangan langsung datang karena pasti akan ditolak. Kami disambut ramah oleh resepsionis yang merangkap sebagai kasir sekaligus asisten dokter. Kafka ditimbang dan diukur tinggi badannya. Kami dapat giliran kedua. Masuk ruang periksa, sudah ada dokter muda cantik yang ramah. Ruang periksanya lebih warna-warni dan banyak mainannya. Kami diajak ngobrol terlebih dahulu. Kemudian dijelaskan tentang imunisasi yang akan kami berikan ke Kafka. Setelah kami mengerti, dokternya langsung mengobservasi perkembangan Kafka, detail juga seperti Dokter Made. Waktu itu kami diingatkan tentang pembersihan area kelamin Kafka. Soalnya ada kemungkinan fimosis (lubang jalur kencingnya tertutup, sehingga akan jadi sarang bakteri). And it’s happen, sebulan berikutnya Kafka sakit ISK. Dokternya juga ngemong sekali saat imunisasi. Kafka diajak komunikasi. Setelah imunisasi, dokternya mengisi buku perkembangan dengan lengkap dan memberikan kami tips-tips apabila Kafka demam pasca imunisasi.

RV Kebagusan sangat saya rekomendasikan untuk tempat imunisasi bagi Ibu dan Bapak yang tinggal di area Jakarta Selatan. Oh ya, waktu itu dokternya bukan dokter anak. Tapi penjelasannya detail layaknya dokter anak. Dokter anak ada hanya tiap hari Sabtu atau Minggu (lupa). Jika memang ingin imunisasi vaksin yang tidak ditanggung Pemerintah (read: asuransi juga), RV Kebagusan bisa menjadi solusi. Lumayan bisa menghemat biaya dokter (misal di RS KMC, 300 ribu). Sebagai keluarga hemat ceria, jumlah itu cukup untuk beli pampers Kafka.

Imunisasi berikutnya dilakukan di RV Kebagusan. Sekarang Kafka sudah berusia 9 bulan, artinya jadwal imunisasi campak. Vaksin di RV Kebagusan sedang kosong. Kami coba di RS KMC, ternyata juga kosong. Akhirnya balik lagi ke Puskesmas yang mana pasti ada. Ternyata memang masih ada stok. Karena saya masih di Kalimantan, Bojo datang ke Puskesmas bersama Mbah Uti. Tentunya dengan ekpektasi yang sudah kita adjust, minimal tujuannya tercapai, bisa imunisasi.

Intinya, dimanapun imunisasinya, yang terpenting tujuannya tercapai. Mau di Puskesmas yang gratis, mau di rumah sakit yang ada biaya dokternya, atau mau di rumah vaksin yang tidak ada biaya dokter, TIDAK MASALAH! Ibu dan Bapak sekalian jangan lupa jadwal imunisasi buah hatinya ya.

Salam Ayah ASI!

Kafka Plesiran ke Cirebon

Perjalanan jauh bagi Kafka sudah tak asing lagi. Saat usia 1,5 bulan, Kafka sudah menempuh sekitar 11 jam perjalanan dari Bojonegoro ke Jakarta. Alhamdulillah tidak rewel. Tidur dengan nyenyak dan bangun-bangun minta nenen, kemudian kembali tidur.

Tanggal 2 Februari, saya dan Bojo mengajak Kafka ke Cirebon untuk menghadiri pernikahan Ebi dan Nisa. Kami naik Kereta Api Cirebon Express dari Stasiun Gambir. Dari rumah, Kafka kami ajak naik KRL, Stasiun Pasar Minggu – Stasiun Cikini. KRL tak begitu ramai, karena bukan jam sibuk.

Sesampai Cikini, kami ingin naik Bajaj (Ayah dan Ibunya belum pernah sama sekali) tapi kami urungkan karena keterbatasan waktu. Takut tidak kekejar. Kami putuskan naik taxi.

Taraaaa… keluarga Saputro siap ke Cirebon. Saya dan Bojo sumringah, sementara Kafkanya menatap dengan wajah heran.

Alhamdulillah, sepanjang perjalanan tiga jam, Kafka tidak rewel sama sekali. Isinya, tidur-nenen-tidur-nenen, begitu seterusnya. Mirip Ayahnya. Bedanya Ayahnya tidak mungkin nenen di kereta. #ehgimana

Soal MPASI, Kafka kami kembalikan dulu ke menu tunggal. Alasannya biar tidak ribet bawa peralatan dan cari bahannya. Toh cuma sehari. Bahannya yang simpel, tanpa harus diolah terlebih dahulu. Pilihannya jatuh ke Buah Naga dan Alpukat. Dua bahan ini mudah sekali, hanya disaring dan siap dimakan.

Kami menginap di Hotel Cordela. Ini sumpah ya, kamar mandinya sempit sekali. Hanya cukup satu orang.

Lha emang lo mau ngapain di kamar berdua, Ndik?

Mandiin Kafka lah. Kafka nangis saat dimandikan. Dia takut sama shower. Duhh, ndesoo kamu, Nak. 😂😂

Malamnya, kami ajak Kafka kulineran Nasi Jamblang. Alhamdulillah ya, Cirebon sudah ada ojek online. Ini sangat memudahkan kami dalam keliling Cirebon. Hingga Kafka lelah dan tidur sendiri.

Paginya, begitu bangun, I am a baby boss!! 😂😂

Kafka jadi salah satu saksi pernikahan Ebi dan Nisa. Meskipun dalam keadaan tak sadar alias tidur.

Begitu Aksa sampai di lokasi, Kafka bangun. Kemudian mereka berdua langsung membentuk genk rambut seuprit.

Di acara resepsi yang hingar bingar suara penyanyi yang formasinya seperti GAC, tapi banyak fals pas nyanyi Akad, Kafka pun kembali tidur. Duh ini anak bisa tidur di tempat yang berisik. Apapun lokasinya, tidur nomor satu.

Selesai acara, kami sempatkan mampir ke rumah Kadek. Kami bikin pure alpukat untuk menunya Kafka. Jadi biar di kereta tidak ribet bikin makanan Kafka. Cukup nenen saja.

Perjalanan Cirebon-Jakarta, Kafka juga tidak rewel. Tidur-nenen-bercanda-tidur-nenen sampai Jakarta. Saya dan Bojo yang merasa lelah dan tidak sampai-sampai.

Sampai Jakarta, niatnya ingin naik KRL, tapi apalah daya. Kami sudah lelah meski Kafka masih semangat. Uber jadi pilihan. Sepuluh menit di mobil, Kafka kembali tidur. Sampai rumah baru bangun dan bermain kembali sama Mbah Utinya. Sementara saya dan Bojo kembali packing untuk perjalanan pulang kampung, Bojonegoro dan Lamongan.

Besok, Kafka siap kembali perjalanan jauh 11 jam. Mari tidur dulu.

Menjadi Ayah ASI

Setelah posting tentang Kafka yang lulus ASI eksklusif di enam bulan, beberapa teman (nggak banyak, tepatnya tiga) bertanya bagaimana tips memberikan ASI eksklusif. Saya tulis saja sekalian di sini dengan judul Menjadi Ayah ASI. Ini salah satu tips yang penting untuk menyukseskan ASI eksklusif.

Menurut konselor ASI yang saya kenal dan artikel yang bertebaran di internet, produksi ASI seorang Ibu sudah disiapkan saat Ibu mengandung. Kemudian dikeluarkan saat bersamaan dengan proses kelahiran. Jumlahnya tidak begitu banyak. Nah, inilah yang sering membuat Ibu khawatir jika tidak mencukupi untuk bayinya. Padahal, ukuran lambung bayi masih kecil (kurang lebih sebesar kelereng). Jadi ya cukup-cukup saja.

Beberapa yang saya dan Bojo lakukan untuk memberikan ASI eksklusif ke Kafka:

1. Niat atau Komitmen

Saya percaya niat itu akan menentukan segalanya. Niat berbanding lurus dengan usaha yang dilakukan. Makin besar niat, maka makin besar usaha dan komitmen yang dilakukan. Niat atau komitmen menjadi modal awal untuk memberikan ASI eksklusif ke Kafka. Saat Bojo dipastikan hamil, kami langsung berkomitmen akan memberikan ASI eksklusif ke calon anak kami. Ingat ya, komitmen kedua orang tuanya. Bukan hanya Ibu tetapi Ayah juga.

2. Cari Ilmu

Saya dan Bojo sadar bahwa kami buta tentang ilmu menjadi orang tua yang baik. Kami tahu bahwa ASI eksklusif baik tapi tidak mengetahui alasannya, bagaimana caranya, dan sebagainya. Hanya tahu dasarnya saja tetapi lengkapnya tidak. Memperdalam ilmu tentang suatu hal itu penting. Selain kami bertambah pengetahuan, hal itu bisa memperkuat komitmen kami. Carilah informasi sebanyak-banyaknya mengenai seluk beluk ASI. Toh internet sudah sangat membantu. Kalau memang mempunyai teman seorang konselor ASI, bisa tanya-tanya. Bisa juga dari buku atau sharing dengan teman yang sudah lulus ASI eksklusif. Atau bisa juga bergabung dengan milis-milis yang berkaitan dengan ASI. Trust me, ini sangat membantu.

3. Persiapan

Sejak usia kehamilan Bojo sekitar tujuh bulan, saya genjot dengan hampir setiap hari makan sayur daun katuk. Kami harus menyiapkan dari awal. Tantangannya adalah agak susah cari daun katuk di Jakarta. Ada sie di supermarket, tapi mahal. Waktu itu, saya pesan ke Ibu langganan sayur kami. Kalau misal tidak ada daun katuk, kami cari penggantinya. Intinya harus disiapkan dari sisi makanan. Saat sudah tinggal di Bojonegoro, kami lebih gampang cari daun katuk. Tetangga ada yang menanam, jadi minta (gratis).

Selain makanan, ada yang dilakukan Bojo saat itu, melakukan pijatan di payudara selama 10 menit setiap harinya. Caranya? Cari di internet, banyak! Apalagi kalau yang mijat suami. Hahaha. Bercanda coy!

Yang terakhir, saat dua minggu menjelang persalinan, istri diberi resep vitamin pelancar ASI oleh dokter kandungan. Bojo hanya mengkonsumsi itu saja. Tidak ada vitamin lainnya yang dikonsumsi selain perbanyak konsumsi sayur dan buah.

4. Afirmasi Positif

Satu hal lagi yang kami lakukan, selalu melakukan afirmasi positif ke diri kami. Saya dan Bojo setiap malam mengajak ngobrol calon anak lanang. Salah satu obrolannya tentang ASI. “Nanti Kafka minumnya ASI sampai dua tahun ya.. doakan semoga pas Kafka lahir, ASI Ibu langsung keluar“, kurang lebih seperti itu. Saya dan Bojo selalu menceritakan keinginan untuk ASI eksklusif ke semua orang. Menurut kami, itu merupakan bagian dari afirmasi positif. Toh, akan banyak orang yang mendoakan, kekuatan semesta.

5. Ayah ASI

Support terpenting ASI eksklusif selain Ibu adalah Ayah. Menurut saya, Ayah menjadi garda terdepan sebagai support system Ibu. Saya berusaha menjadi pendukung pertama bagi Bojo. Caranya gampang kog! Saya selalu memberikan semangat Bojo dan menyakinkan kalau dia pasti bisa. Selain itu, saya juga yang mempersiapkan segala keperluan untuk mendukung ASI eksklusif. Pompa elektrik, botol/plastik ASIP, stiker botol, dot, cooler bag, apron menyusui, dan lainnya. Bojo saya bekerja, jadi banyak yang harus disiapkan. Kenapa kog mau? Saya ingin meringankan pikiran Bojo dari hal-hal yang bisa saya kerjakan. Biarlah Bojo fokus ke persalinan dan menata hati menjadi seorang Ibu.

Ayah ASI tidak hanya membantu saat persiapan, tetapi setelah lahiran, tetap ikut terlibat penuh. Bukannya ikut menyusui ya. Tapi menemani saat Bojo menyusui Kafka. Tengah malam saat bangun, saya coba menemaninya. Saya memberikan waktu istirahat untuk Bojo dengan bergantian gendong Kafka. Saya yang mandiin Kafka. Intinya mah bantu pekerjaan Bojo agar tidak terlalu lelah fisik.

6. Nutrisi

ASI menjadi makanan utama Kafka selama enam bulan. Jadi pabriknya ASI harus diisi juga dengan nutrisi yang cukup. Makanan yang bergizi harus tercukupi. Makanan bergizi tidak perlu mahal. Yang terpenting kandungan gizinya lengkap. Ada karbohidrat, protein, sayur, buah. Susu sebagai tambahan, itupun kalau bisa, kalau tidak bisa ya jangan dipaksakan.

Bojo tidak melakukan pantangan dalam hal makanan. Ya sudah makan saja. Yang terpenting jangan berlebihan. Tapi harus peka juga. Maksudnya kami melihat tanda-tanda yang muncul di Kafka. Khawatirnya ada alergi. Alhamdulillah, sampai sekarang tidak ada tanda alergi muncul di Kafka.

7. Diplomasi & Tim Sukses

Menjadi seorang pejuang ASI dibutuhkan kekuatan untuk mendiplomasi pendapat-pendapat orang bahkan keluarga yang tidak sependapat. Saya dan Bojo dibesarkan di keluarga yang masih belum teredukasi dengan ASI eksklusif. Diawal kami memiliki tantangan untuk menjelaskan keinginan kami untuk memberikan ASI eksklusif. Semua keluarga menyarankan campur susu formula agar Kafka tidak mudah lapar dan bisa tidur nyenyak. Padahal, nangis di malam hari ya wajar-wajar saja. Belum lagi omongan tetangga, “Gayanya ngikutin artis saja. Mau ASI eksklusif“. Kemampuan diplomasi untuk menjawab nyinyiran orang sangat diperlukan. Tak perlu emosi, jawab dengan ilmu yang sudah dipelajari sebelumnya. Alih-alih membantah pernyataan mereka, padahal bisa juga jadi sarana edukasi. Kalau udah kepepet, saya nyinyir balik, “ASI itu gratis lho. Susu formula bayar

Selain kemampuan Saya dan Bojo untuk menjelaskan ke orang-orang yang kurang mendukung, kami mencari tim sukses untuk mendukung statement tentang ASI eksklusif ini. Setelah selesai melahirkan, Saya meminta dokter kandungan dan dokter anak menjelaskan pentingnya ASI eksklusif di depan orang tua kami. Kemudian saat dijenguk bidan desa di rumah, saya juga meminta hal yang sama. Intinya mencari tim sukses untuk menyakinkan orang-orang yang belum mendukung. Alhamdulillah, semua keluarga akhirnya mendukung untuk memberikan ASI eksklusif.

8. Jangan Stress

Stress bisa menjadi faktor lancar atau tidaknya ASI lho. Makin tinggi stress, ASI semakin seret. Diawal-awal Bojo sempet khawatir kalau ASInya kurang. Saya yakinkan dia kalau jangan khawatir. Semakin dipikirin tambah stress, malah beneran tidak maksimal hasil ASInya. Saya juga berusaha untuk menjadi Ayah ASI yang maksimal. Bantu pekerjaan rumah. Saya yang mencuci, Bojo yang menyetrika. Saya memberikan waktu Bojo untuk me time, sementara Kafka saya yang jaga. Sementara untuk stress pekerjaan, saya berusaha untuk menyemangati Bojo agar tidak stress. Untuk tahu atur waktu pompa dan kerja, mungkin bisa tanya ke Bojo saya langsung.

****

Itulah beberapa cara yang Saya dan Bojo lakukan hingga Kafka lulus ASI eksklusif. Kalau ada pertanyaan, “Saya sudah melakukan itu semua tapi ASI juga belum keluar?“, ada faktor lain yang harus dikonsultasikan ke ahli. Saya baca waktu maksimal itu empat hari sampai ASI keluar. Teman-teman juga harus pantau berat badan bayi. Jika memang berat badannya turun sekitar 7% dari berat badan saat lahir, itu pertanda bayi kekurangan ASI. Donor ASIP atau susu formula bisa dijadikan pilihan. Jangan dipaksakan jika memang kondisi tidak memungkinkan.

Para Ibu harus tetap berusaha agar ASI keluar meski sudah pilihan sufor atau donor ASIP. Harus tetap mencoba menyusui bayi langsung dari payudara, melakukan pijatan dan atau pompa manual/elektrik. Karena semakin sedikit ASI yang keluar, maka semakin turun pula produksinya. Supply berbanding lurus dengan kebutuhan bayi. Makanya Bojo saya selalu mencoba rutin mempompa. Jangan nunggu kencang payudara. Kalau kencang artinya produksi ASI berlebihan dan akan menurunkan produksi ASI. Kenapa saya tahu? Karena saya dengan sengaja melibatkan penuh proses ini. Saya bisa jadi pengingat ke Bojo kalau sedang keluar rumah dan jadwalnya pompa.

Untuk para Ibu yang sedang berjuang memberikan ASI eksklusif, semangat ya! Cari lingkungan yang positif untuk mendukung. Fokus memberikan cinta kasih ke anak dan jangan stress.

Untuk para Ayah di luar sana, yuk jadi Ayah ASI. Dukunglah Istri Anda dalam memperjuangkan ASI eksklusif. Susah lho kalau sendiri! Minimal Anda sebagai penyemangat bagi istri.

Semangat Ibu ASI dan Hidup Ayah ASI!

Perjuangan Bojo Untuk Kafka

21 Juni 2017, jam 4 sore, adalah waktu pertama kali saya dan bojo melihat anak lanang kami. Kafka Damarlangit Saputro. Itulah nama yang kami berikan ke anak lanang. Doa kami, semoga menjadi putra yang bebas bermimpi dan mampu menerangi sesama dalam hal kebaikan.

(Dok Pribadi, Kafka saat berusia 9 hari)

***

Untuk anakku, Kafka, suatu saat apabila kamu sudah bisa membaca ini, kamu akan tahu bagaimana perjuangan Ibu demi kamu hadir.

***

Dari awal kehamilan, saya dan bojo sudah sepakat akan melahirkan di Bojonegoro. Memasuki usia 8 bulan, saya antar pulang bojo ke Bojonegoro. Tepatnya tanggal 10 Mei 2017. Di tanggal 14 Mei, mulailah kami dipisahkan oleh jarak, Jakarta-Bojonegoro. Jauh dari bojo yang sedang hamil tua itu sangat tidak menyenangkan. Perasaannya campur aduk, dimana yang paling dominan itu sedih dan khawatir. Sedih karena tidak bisa menjadi Ayah Siaga 100%. Khawatir karena saya dan bojo terpisah ratusan kilometer.

HPL (Hari Perkiraan Lahir) atau due date bojo jatuh di tanggal 18 Juni. Saya berencana pulang tanggal 16 Juni. Tapi Allah punya rencana lain. Tanggal 11 Juni jam 3 pagi, saya mendapatkan kabar kalau Bapak mertua meninggal dunia. Innalillahi wa inna illahi roji’un. Di hari yang sama, saya langsung pulang ke Lamongan. Saya memilih penerbangan paling pagi agar cukup untuk hadir di pemakaman Bapak. Tapi sayang sekali, masih tak sempat. Saya percaya, Bapak sudah bahagia, sudah tidak sakit lagi. Yang paling penting, pasti ini terbaik untuk Bapak.

Cuti untuk keluarga meninggal di luar kota mendapatkan jatah 4 hari dari kantor. Karena tanggung, akhirnya saya memutuskan untuk tidak kembali ke Jakarta. Statusnya adalah kerja dari rumah. Apabila istri melahirkan, baru ambil cuti. Baik sekali ya atasanku (semoga membaca, biar ditambah cutinya :D).

Percayalah, mendekati HPL rasanya was-was. Soalnya melahirkan itu bisa maju atau mundur dari HPL, bisa seminggu atau dua minggu. Bojo mengaduh dikit, langsung tanya udah kontraksi. Bojo ke toilet terlalu sering, langsung tanya udah keluar darah. Eee tapiii, sampai tanggal 16 Juni tidak ada tanda-tanda anak lanang mau keluar. Ini masih belum panik. Dokter bilang kalau misal sampai tanggal 20 Juni, anak lanang belum keluar, maka harus siap diinduksi. Tanggal 18 Juni, bojo belum merasakan apapun. Panik? IYA! Tapi saya sebagai suami yang baik, mencoba tidak panik. Saya tetap tenang di depan bojo. “Tenang bojo, belum waktunya. Kalau waktunya ya pasti keluar“, meski dalam hati, “Kog, nggak keluar-keluar.”

Tanggal 20 Juni, anak lanang masih betah sekali dalam perut bojo. Karena kondisi bojo yang masih sehat bugar, kami berangkat ke dokter menggunakan motor. Kata dokter, karena sudah melawati HPL, plasentanya sudah mengalami pengapuran. Apabila ingin menunggu sampai ada kontraksi alami masih bisa, maksimal 3-4 hari. Lewat dari itu, harus induksi. Setelah berdiskusi, saya dan bojo memutuskan untuk melakukan induksi hari itu juga. Jika menunggu 4 hari lagi waktunya tepat dengan hari lebaran. Dokternya akan cuti dan keluarga pasti riweh lebaran.

Jam 11 siang, induksi pertama dilakukan. Setengah jam pertama belum ada reaksi apa-apa. Sejam berikutnya mules mulai terasa. Saya ajak bojo jalan-jalan keliling rumah sakit. Biar proses kontraksi dan pembukaannya cepat. Hasil laboratorium mengabarkan kalau HB bojo rendah, sehingga harus ambil darah di PMI. Tenang, tenang, tenang! Satu kata itu yang terpenting dalam proses melahirkan.

Induksi dilakukan setiap enam jam sekali. Jam 5 sore, bidan kembali melakukan induksi sekaligus mengecek pembukaan bojo. Alhamdulillah sudah pembukaan satu. Kontraksi bojo semakin lama semakin kuat. Tidur dengan miring ke kiri, jalan-jalan, posisi merangkak, semua dilakukan. Bojo bertekad untuk melahirkan normal. Sebagai suami, saya mendukung keinginan tersebut. Enam jam berikutnya, jam 11 malam, induksi kembali dilakukan. Kata bidan, masih pembukaan satu. Tenang. Semangat bojo!!!! Tak tahan saya melihat bojo yang berjuang menahan sakit kontraksi yang muncul-hilang secara berulang. Tangan saya digenggam oleh bojo. Saat sakit, tangannya menggenggam kuat sekali. Malam itu kami berdua tidak tidur.

Hari pun berganti, jam 7 pagi, bidan kembali mengecek pembukaan bojo yang mana masih pembukaan satu. Tenang! Rileks! Kalau belum waktunya keluar, ya belum keluar. Itu yang selalu saya sugesti di pikiran saya dan bojo. Bidan juga selalu menenangkan bojo. “Wajar lama, anak pertama. Sabar ya, bu!“. Sudah 3 kali induksi dan hampir 20 jam masih pembukaan pertama. Tenang! Sungguh kasihan melihat bojo yang sangat kepayahan. Saya selalu ajak bojo untuk berpikir positif, “pasti kuat, pasti bisa“.

Kontraksi yang dirasakan semakin kuat dan semakin intens. Jam 11 siang bojo minta dipanggilkan bidan untuk dicek sudah pembukaan berapa. Setelah dicek, Alhamdulillah pembukaan dua. Hal ini menjadi titik cerah bagi kami berdua. Setidaknya ada kemajuan meski sedikit. Jam 12 siang, ketuban bojo pecah. Langsung saya panggilkan bidan jaga. Alhamdulillah pembukaan tiga. Setelah itu, bidan memberikan induksi melalui infus, tentunya melalui izin dokter.

Mulailah kontraksi hebat terjadi. Bojo mulai mencengkram bahu dengan kuat atau mulai memeluk dengan erat. Jam 1 siang dicek kembali oleh bidan. Pembukaan masih tiga, tapi ada kemajuan daripada tiga yang tadi. Kembali saya kuatkan bojo. Jujur, sekaligus menguatkan diri sendiri juga. Kata bidan bojo terlalu banyak mengejan sehingga ada penebalan di dinding rahim dan ini kalau semakin tebal akan menutup pembukaan kembali. Panik? IYA! Bayangkan sudah 24 jam lebih kemudian menutup kembali. Sekali lagi, tenang! Kata-kata positif kembali saya ucapkan ke bojo. Saya ajak beristifghar. Saya ajak untuk berpikiran positif bahwa dia kuat, dia pasti bisa.

Saya tidak bisa merasakan sakitnya di posisi bojo saat itu. Yang saya yakini, pasti sangat sakit. Bojo masih sering mengejan dan saya terus memberikan semangat. “Belum waktunya.. Nanti kalau waktunya mengejan baru sekuatnya. Sekarang ditahan. Biar tenaga juga tidak habis“. Kata-kata itu saya ulang-ulang terus. Saya semangati dia. Kontraksinya semakin kuat, semakin kuat juga genggamannya ke tangan saya.

Sekitar jam setengah 3 sore, bojo kembali mengeluarkan air ketuban. Bidan kembali mengecek  pembukaanya. Alhamdulillah sudah pembukaan lima dan kepala anak lanang sudah di bawah. Kemudian bidan tersebut menyiapkan peralatan melahirkan. Bojo gimana? Masih kontraksi hebat lah. Jam setengah 4, peralatan sudah siap semua. Bidan mengecek pembukaannya, pembukaan sembilan. Alhamdulillah, sebentar lagi bojo. Semangat!

Dokter sudah ditelfon tapi belum datang. Bojo tampaknya sudah merasakan kalau anak lanang sudah mau keluar. Tapi masih ditahan oleh bidan. Ada empat bidan yang saat itu di ruang bersalin. Satu bidan selalu memegang bagian bawah. Sepertinya dia menahan kepala anak lanang biar tidak keluar duluan. Bojo sudah tidak sabar, dia selalu menanyakan kapan dokter datang. Apakah bisa kalau tidak menunggu dokter? Jelas tidak bisa. Karena tanggung jawab ada di dokternya. Tenang! Rileks! “Sabar.. dokternya sedang perjalanan ke sini. Dia sudah di lantai 2“.

Dokter yang ditunggu datang juga. Langsung dia menggunakan peralatannya. Woalaaa!! Sekitar jam 4 sore, sekali bojo mengejan, langsung keluar anak lanang. Sumpah, takjub melihat anak lanang keluar dengan mudahnya. Alhamdulillah. Mendengar tangisan anak lanang pertama kali, saya dan bojo menangis terharu. Ini rasanya jadi Ayah dan Ibu.

Kami tak henti-hentinya mengucap rasa syukur sembari melihat anak lanang dibersihkan. Setelah bersih, proses IMD (Inisiasi Menyusui Dini) dilakukan. Saat anak lanang dan bojo melakukan proses itu, saya pandangi mereka berdua. Mulai hari ini, saya berstatus Ayah dan Suami. Saya mempunyai keluarga kecil. Bahagia sekali. Alhamdulillah, ASI bojo langsung keluar, sehingga anak lanang langsung bisa menyusu Ibunya. Tugas pertama saya sebagai Ayah adalah meng-adzani anak lanang. Ini saya lakukan setelah proses IMD selesai.

(Dok Pribadi, Kafka saat baru lahir)

Alhamdulillah, perjuangan bojo untuk anak lanang berakhir bahagia. Terima kasih kepada Allah yang sudah memberikan perjalanan yang luar biasa bagi keluarga kecil saya.

***

Untuk anakku, Kafka, itulah perjuangan Ibu dalam melahirkanmu. Ibumu tangguh! Kamu juga harus tangguh! Jangan pernah sakiti Ibumu. Karena Ayah menjadi saksi perjuangan yang luar biasa dari Ibumu demi kamu.

***

Untuk wanita yang sedang menyiapkan kelahiran anaknya, perjuangan setiap orang berbeda-beda. Maksud saya bercerita bukan untuk menggambarkan bahwa melahirkan itu sakit. Bukan! Perjuangan melahirkan itu indah. Saya selalu support bojo bahwa jangan mendengar perkataan jika melahirkan sakit. Melahirkan adalah proses yang indah. Memang sakit tapi ya itulah indahnya. Selalu berpikir positif dan jangan stress.

Bagi suami yang sedang menunggu istrinya melahirkan, sabarlah! Itu kuncinya. Jangan sampai kamu terlihat panik di depan istri kamu. Harus tenang meski sebenarnya panik. Dampingi istrimu saat melahirkan. Berikan dia semangat. Kita para suami tidak bisa menggantikan sakit yang dirasakan para istri. Tapi percayalah, dengan hadirnya kita, dengan semangat kita, istri jauh lebih kuat untuk menjalani proses melahirkan.

***

Selamat datang di dunia anakku, Kafka Damarlangit Saputro!

 

Salam,

Suami dari Rina dan Ayah dari Kafka