Kafka Plesiran ke Cirebon

Perjalanan jauh bagi Kafka sudah tak asing lagi. Saat usia 1,5 bulan, Kafka sudah menempuh sekitar 11 jam perjalanan dari Bojonegoro ke Jakarta. Alhamdulillah tidak rewel. Tidur dengan nyenyak dan bangun-bangun minta nenen, kemudian kembali tidur.

Tanggal 2 Februari, saya dan Bojo mengajak Kafka ke Cirebon untuk menghadiri pernikahan Ebi dan Nisa. Kami naik Kereta Api Cirebon Express dari Stasiun Gambir. Dari rumah, Kafka kami ajak naik KRL, Stasiun Pasar Minggu – Stasiun Cikini. KRL tak begitu ramai, karena bukan jam sibuk.

Sesampai Cikini, kami ingin naik Bajaj (Ayah dan Ibunya belum pernah sama sekali) tapi kami urungkan karena keterbatasan waktu. Takut tidak kekejar. Kami putuskan naik taxi.

Taraaaa… keluarga Saputro siap ke Cirebon. Saya dan Bojo sumringah, sementara Kafkanya menatap dengan wajah heran.

Alhamdulillah, sepanjang perjalanan tiga jam, Kafka tidak rewel sama sekali. Isinya, tidur-nenen-tidur-nenen, begitu seterusnya. Mirip Ayahnya. Bedanya Ayahnya tidak mungkin nenen di kereta. #ehgimana

Soal MPASI, Kafka kami kembalikan dulu ke menu tunggal. Alasannya biar tidak ribet bawa peralatan dan cari bahannya. Toh cuma sehari. Bahannya yang simpel, tanpa harus diolah terlebih dahulu. Pilihannya jatuh ke Buah Naga dan Alpukat. Dua bahan ini mudah sekali, hanya disaring dan siap dimakan.

Kami menginap di Hotel Cordela. Ini sumpah ya, kamar mandinya sempit sekali. Hanya cukup satu orang.

Lha emang lo mau ngapain di kamar berdua, Ndik?

Mandiin Kafka lah. Kafka nangis saat dimandikan. Dia takut sama shower. Duhh, ndesoo kamu, Nak. πŸ˜‚πŸ˜‚

Malamnya, kami ajak Kafka kulineran Nasi Jamblang. Alhamdulillah ya, Cirebon sudah ada ojek online. Ini sangat memudahkan kami dalam keliling Cirebon. Hingga Kafka lelah dan tidur sendiri.

Paginya, begitu bangun, I am a baby boss!! πŸ˜‚πŸ˜‚

Kafka jadi salah satu saksi pernikahan Ebi dan Nisa. Meskipun dalam keadaan tak sadar alias tidur.

Begitu Aksa sampai di lokasi, Kafka bangun. Kemudian mereka berdua langsung membentuk genk rambut seuprit.

Di acara resepsi yang hingar bingar suara penyanyi yang formasinya seperti GAC, tapi banyak fals pas nyanyi Akad, Kafka pun kembali tidur. Duh ini anak bisa tidur di tempat yang berisik. Apapun lokasinya, tidur nomor satu.

Selesai acara, kami sempatkan mampir ke rumah Kadek. Kami bikin pure alpukat untuk menunya Kafka. Jadi biar di kereta tidak ribet bikin makanan Kafka. Cukup nenen saja.

Perjalanan Cirebon-Jakarta, Kafka juga tidak rewel. Tidur-nenen-bercanda-tidur-nenen sampai Jakarta. Saya dan Bojo yang merasa lelah dan tidak sampai-sampai.

Sampai Jakarta, niatnya ingin naik KRL, tapi apalah daya. Kami sudah lelah meski Kafka masih semangat. Uber jadi pilihan. Sepuluh menit di mobil, Kafka kembali tidur. Sampai rumah baru bangun dan bermain kembali sama Mbah Utinya. Sementara saya dan Bojo kembali packing untuk perjalanan pulang kampung, Bojonegoro dan Lamongan.

Besok, Kafka siap kembali perjalanan jauh 11 jam. Mari tidur dulu.

Advertisements

MPASI Kafka – Menu Tunggal

Tepat 21 Desember, Kafka genap berusia enam bulan. Itu artinya waktunya menambah asupan nutrisi Kafka dengan Makanan Pendamping ASI atau yang biasa disebut MPASI. Dari istilahnya saja sudah jelas bahwa ini makanan pendamping, bukan pengganti. ASI masih tetap diberikan ke Kafka oleh Ibunya selama dua tahun. Terus Ayahnya kapan dong? Hahaha *just kidding pemirsaaaa.

Kami super excited untuk memasuki setiap tahapan baru Kafka, salah satunya MPASI ini. Satu bulan sebelumnya, kami sudah belajar melalui berbagai sumber. Baca artikel di internet, baca buku, follow IG mengenai MPASI, konsultasi dokter dan lainnya. Kami belajar sesuatu yang menyenangkan. Berdasarkan penelusuran tersebut, kami memutuskan untuk menerapkan MPASI versi WHO bukan BLW (Baby Led Weaning). Apa bedanya? Silakan dicari sendiri. Biar sama-sama belajar juga.

Menurut WHO, waktu yang tepat pemberian MPASI pertama kali saat bayi berusia enam bulan atau 180 hari. Pada saat usia tersebut, pencernaan bayi sudah siap untuk menerima makanan selain ASI. Itu pun tekstur makanannya juga ada aturannya. Mulai dari bubur atau puree, kemudian agak kasar, dan seterusnya. Tekstur ini ditentukan berdasarkan usia anak. Makin bertambah usia, tekstur makin kasar.

Kami berdua berkomitmen untuk memberikan Kafka MPASI homemade alias bikin sendiri. Kami tidak ingin memberikan Kafka bubur instan yang dijual di pasaran karena rasa asli makanan tidak bisa digantikan oleh produk bubur instan. Rasa pisang asli sangat berbeda dengan rasa pisang di bubur. Rasa kacang hijau di bubur instan akan beda dengan kacang hijau asli. Begitu pun rasa-rasa yang lainnya. Kami ingin Kafka menikmati rasa yang asli dari sebuah bahan makanan. “Nggak repot, Ndik?” Pasti repot! Tapi kembali ke komitmen awal untuk Kafka, semua kami jalani dengan penuh cinta.

Soal peralatan MPASI, kami menyiapkan sebulan sebelumnya. Kami membeli food maker, dudukan untuk makan, dan lain-lain. Nanti saya buatkan tulisan tentang peralatan MPASI Kafka (kalau tidak lupa ya).

Permulaan MPASI dianjurkan menu tunggal terlebih dahulu yang artinya anak diberikan menu dengan satu bahan makanan saja. Misal, puree alpukat, bubur nasi putih, dan sebagainya. Durasinya ada yang menyebut dua minggu, ada pula yang menyebut cukup satu minggu. Ini tidak ada aturan pasti, yang mana saja boleh. Kafka kami berikan menu tunggal selama 2 minggu. Selama 2 minggu, tidak hanya makan satu bahan saja. Setiap harinya berganti. Kenapa harus menu tunggal? Pertama, untuk memperkenalkan rasa asli makanan ke Kafka. Kedua, mengetahui alergi makanan yang (mungkin) muncul di Kafka. Terakhir, mengetahui lahap atau tidaknya Kafka dengan bahan makanan tersebut.

Kami sudah menyusun menu tunggal untuk Kafka seminggu sebelum MPASI dimulai. Jadi kami tinggal lihat jadwal dan belanja bahan makanan dengan mudah. Saya yang menyusun makanan tersebut yang mana hal tersebut merupakan bagian support saya ke Bojo karena saya harus ke Kalimantan. Oh ya, alasan ini juga yang akhirnya kami putuskan untuk memajukan Kafka satu hari MPASI.

Maafkan Ayah ya, Nak. Ayah ingin menemani kamu MPASI pertama.

Seharusnya Kafka MPASI pertama di tanggal 21 Desember 2017. Saya dan Bojo majukan sehari, tanggal 20 Desember 2017. Hal ini karena saya harus berangkat ke Kalimantan di tanggal 21 Desember plus penerbangan pertama. Sehingga kalau sesuai jadwal MPASI pertama, saya tidak bisa menemani Kafka di tahapan barunya.

Balik soal menu tunggal Kafka, saya menyusun menu tersebut berdasarkan komposisi yang terkandung di bahan makanan. Karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur, buah, lemak, tinggi serat atau tidak, dan kemudahan dalam pembuatan. Untuk faktor terakhir saya masukkan terkait Bojo yang bekerja. Jadi menu yang susah pembuatannya saya taruh di jadwal libur Bojo. Menu sore saat Bojo masuk kerja saya pilih yang mudah karena Mbah Uti-nya yang menyiapkannya.

Menu Tunggal Kafka

Pengalaman pertama Kafka MPASI sangat lucu. Menu pertama paginya adalah bubur nasi putih dan menu harinya puree brokoli. Paginya Kafka tidak begitu lahap. Mungkin karena pertama bagi dia mencoba sesuatu yang baru. Wajar sie! Sorenya Kafka lahap makan menu brokolinya.

Alhamdulillah ya, Nak. Jangan seperti Ayah yang nggak doyan sayur.

Ekspresi Kafka Setelah Makan

Puree Brokoli ala Ayah Andik

Kami tetap menjadwalkan menu tunggal Kafka selama 14 hari terhitung dari tanggal 21 Desember. Jadi total menu tunggal Kafka selama 15 hari. Menu ini sudah berhasil dikonsumsi Kafka dan Alhamdulillah lulus dengan NO SEMBELIT dan NO ALERGI. Untuk lahap atau tidaknya, hampir semua lahap. Hanya saja waktu makan juga menentukan hal ini. Kalau lagi tidak pas (misal ngantuk), makan akan lama sekali. Bojo membatasi waktu makan Kafka hanya 30 menit. Setelah 30 menit tidak habis, harus disudahi proses makannya. Hal ini untuk membiasakan Kafka agar makan tidak terlalu lama. Menu paling favorit Kafka adalah puree edamane alias kedelai jepang. Ludes tak bersisa. Bojo saja juga doyan sekali.

Menu Favorit Kafka dan Bojo

Jika yang membaca blog saya ingin mengambil resep menu tunggal ini, silakan saja. Saya juga terinspirasi berbagai sumber kog. Tapi ingat ya harus pahami konsepnya dulu. Jangan asal ikut-ikut saja. Bahan berserat tinggi tidak boleh bertemu, harus ada jedanya. Komposisi yang sama usahakan juga tidak bertemu. Kenapa? Jika ada bahan yang lupa beli, masih bisa ditukar tetapi masih memperhatikan aturan tersebut. Tidak hanya mengganti jadwal tanpa aturan. Bojo juga melakukannya karena waktu itu cari hati ayam susah. Oh ya satu lagi, semua menu ini tanpa gula dan garam.

Lulusnya Kafka MPASI ini dikarenakan cinta kasih Ibunya yang luar biasa. Terima kasih Bojo sudah memberikan rasa cinta di setiap menu makanan Kafka. Meski disibukkan dengan pekerjaan kantor, Bojo dan Mbah Uti tetap berkomitmen memberikan yang terbaik terbaik untuk Kafka. Maafkan saya yang hanya bisa support jadwal menu tunggal dan menyemangati kalian dari jauh.

Setelah 15 hari menu tunggal, Kafka beralih ke menu 4🌟. Sampai hari ini sudah berjalan hampir tiga minggu. Menu 4🌟 ini saya akan tulis di part berikutnya (masih wacana dan semoga terlaksana).

Sebagai penutup (emang ceramah?), MPASI juga merupakan komitmen orang tua ke anaknya. MPASI homemade itu sedikit ribet tapi kalau dijalankan dengan cinta akan mudah. Sebenarnya saya tidak pantas menulis kalimat itu karena saya bukan pelakunya. Tapi sangat boleh ditanya ke Bojo, dia akan mengamini kalimat tersebut. Betapa dia bahagia tatkala Kafka dengan lahap menghabiskan makanan yang disiapkan pagi sebelum berangkat kerja. Oh ya, boleh cek IG Bojo jika ingin mengetahui resep menu tunggal Kafka (@rinasafia).

Selamat mempersiapkan MPASI buat Ayah dan Ibu di manapun berada. Jangan lupa kasih bahan cinta ya saat meracik menunya!

Menjadi Ayah ASI

Setelah posting tentang Kafka yang lulus ASI eksklusif di enam bulan, beberapa teman (nggak banyak, tepatnya tiga) bertanya bagaimana tips memberikan ASI eksklusif. Saya tulis saja sekalian di sini dengan judul Menjadi Ayah ASI. Ini salah satu tips yang penting untuk menyukseskan ASI eksklusif.

Menurut konselor ASI yang saya kenal dan artikel yang bertebaran di internet, produksi ASI seorang Ibu sudah disiapkan saat Ibu mengandung. Kemudian dikeluarkan saat bersamaan dengan proses kelahiran. Jumlahnya tidak begitu banyak. Nah, inilah yang sering membuat Ibu khawatir jika tidak mencukupi untuk bayinya. Padahal, ukuran lambung bayi masih kecil (kurang lebih sebesar kelereng). Jadi ya cukup-cukup saja.

Beberapa yang saya dan Bojo lakukan untuk memberikan ASI eksklusif ke Kafka:

1. Niat atau Komitmen

Saya percaya niat itu akan menentukan segalanya. Niat berbanding lurus dengan usaha yang dilakukan. Makin besar niat, maka makin besar usaha dan komitmen yang dilakukan. Niat atau komitmen menjadi modal awal untuk memberikan ASI eksklusif ke Kafka. Saat Bojo dipastikan hamil, kami langsung berkomitmen akan memberikan ASI eksklusif ke calon anak kami. Ingat ya, komitmen kedua orang tuanya. Bukan hanya Ibu tetapi Ayah juga.

2. Cari Ilmu

Saya dan Bojo sadar bahwa kami buta tentang ilmu menjadi orang tua yang baik. Kami tahu bahwa ASI eksklusif baik tapi tidak mengetahui alasannya, bagaimana caranya, dan sebagainya. Hanya tahu dasarnya saja tetapi lengkapnya tidak. Memperdalam ilmu tentang suatu hal itu penting. Selain kami bertambah pengetahuan, hal itu bisa memperkuat komitmen kami. Carilah informasi sebanyak-banyaknya mengenai seluk beluk ASI. Toh internet sudah sangat membantu. Kalau memang mempunyai teman seorang konselor ASI, bisa tanya-tanya. Bisa juga dari buku atau sharing dengan teman yang sudah lulus ASI eksklusif. Atau bisa juga bergabung dengan milis-milis yang berkaitan dengan ASI. Trust me, ini sangat membantu.

3. Persiapan

Sejak usia kehamilan Bojo sekitar tujuh bulan, saya genjot dengan hampir setiap hari makan sayur daun katuk. Kami harus menyiapkan dari awal. Tantangannya adalah agak susah cari daun katuk di Jakarta. Ada sie di supermarket, tapi mahal. Waktu itu, saya pesan ke Ibu langganan sayur kami. Kalau misal tidak ada daun katuk, kami cari penggantinya. Intinya harus disiapkan dari sisi makanan. Saat sudah tinggal di Bojonegoro, kami lebih gampang cari daun katuk. Tetangga ada yang menanam, jadi minta (gratis).

Selain makanan, ada yang dilakukan Bojo saat itu, melakukan pijatan di payudara selama 10 menit setiap harinya. Caranya? Cari di internet, banyak! Apalagi kalau yang mijat suami. Hahaha. Bercanda coy!

Yang terakhir, saat dua minggu menjelang persalinan, istri diberi resep vitamin pelancar ASI oleh dokter kandungan. Bojo hanya mengkonsumsi itu saja. Tidak ada vitamin lainnya yang dikonsumsi selain perbanyak konsumsi sayur dan buah.

4. Afirmasi Positif

Satu hal lagi yang kami lakukan, selalu melakukan afirmasi positif ke diri kami. Saya dan Bojo setiap malam mengajak ngobrol calon anak lanang. Salah satu obrolannya tentang ASI. “Nanti Kafka minumnya ASI sampai dua tahun ya.. doakan semoga pas Kafka lahir, ASI Ibu langsung keluar“, kurang lebih seperti itu. Saya dan Bojo selalu menceritakan keinginan untuk ASI eksklusif ke semua orang. Menurut kami, itu merupakan bagian dari afirmasi positif. Toh, akan banyak orang yang mendoakan, kekuatan semesta.

5. Ayah ASI

Support terpenting ASI eksklusif selain Ibu adalah Ayah. Menurut saya, Ayah menjadi garda terdepan sebagai support system Ibu. Saya berusaha menjadi pendukung pertama bagi Bojo. Caranya gampang kog! Saya selalu memberikan semangat Bojo dan menyakinkan kalau dia pasti bisa. Selain itu, saya juga yang mempersiapkan segala keperluan untuk mendukung ASI eksklusif. Pompa elektrik, botol/plastik ASIP, stiker botol, dot, cooler bag, apron menyusui, dan lainnya. Bojo saya bekerja, jadi banyak yang harus disiapkan. Kenapa kog mau? Saya ingin meringankan pikiran Bojo dari hal-hal yang bisa saya kerjakan. Biarlah Bojo fokus ke persalinan dan menata hati menjadi seorang Ibu.

Ayah ASI tidak hanya membantu saat persiapan, tetapi setelah lahiran, tetap ikut terlibat penuh. Bukannya ikut menyusui ya. Tapi menemani saat Bojo menyusui Kafka. Tengah malam saat bangun, saya coba menemaninya. Saya memberikan waktu istirahat untuk Bojo dengan bergantian gendong Kafka. Saya yang mandiin Kafka. Intinya mah bantu pekerjaan Bojo agar tidak terlalu lelah fisik.

6. Nutrisi

ASI menjadi makanan utama Kafka selama enam bulan. Jadi pabriknya ASI harus diisi juga dengan nutrisi yang cukup. Makanan yang bergizi harus tercukupi. Makanan bergizi tidak perlu mahal. Yang terpenting kandungan gizinya lengkap. Ada karbohidrat, protein, sayur, buah. Susu sebagai tambahan, itupun kalau bisa, kalau tidak bisa ya jangan dipaksakan.

Bojo tidak melakukan pantangan dalam hal makanan. Ya sudah makan saja. Yang terpenting jangan berlebihan. Tapi harus peka juga. Maksudnya kami melihat tanda-tanda yang muncul di Kafka. Khawatirnya ada alergi. Alhamdulillah, sampai sekarang tidak ada tanda alergi muncul di Kafka.

7. Diplomasi & Tim Sukses

Menjadi seorang pejuang ASI dibutuhkan kekuatan untuk mendiplomasi pendapat-pendapat orang bahkan keluarga yang tidak sependapat. Saya dan Bojo dibesarkan di keluarga yang masih belum teredukasi dengan ASI eksklusif. Diawal kami memiliki tantangan untuk menjelaskan keinginan kami untuk memberikan ASI eksklusif. Semua keluarga menyarankan campur susu formula agar Kafka tidak mudah lapar dan bisa tidur nyenyak. Padahal, nangis di malam hari ya wajar-wajar saja. Belum lagi omongan tetangga, “Gayanya ngikutin artis saja. Mau ASI eksklusif“. Kemampuan diplomasi untuk menjawab nyinyiran orang sangat diperlukan. Tak perlu emosi, jawab dengan ilmu yang sudah dipelajari sebelumnya. Alih-alih membantah pernyataan mereka, padahal bisa juga jadi sarana edukasi. Kalau udah kepepet, saya nyinyir balik, “ASI itu gratis lho. Susu formula bayar

Selain kemampuan Saya dan Bojo untuk menjelaskan ke orang-orang yang kurang mendukung, kami mencari tim sukses untuk mendukung statement tentang ASI eksklusif ini. Setelah selesai melahirkan, Saya meminta dokter kandungan dan dokter anak menjelaskan pentingnya ASI eksklusif di depan orang tua kami. Kemudian saat dijenguk bidan desa di rumah, saya juga meminta hal yang sama. Intinya mencari tim sukses untuk menyakinkan orang-orang yang belum mendukung. Alhamdulillah, semua keluarga akhirnya mendukung untuk memberikan ASI eksklusif.

8. Jangan Stress

Stress bisa menjadi faktor lancar atau tidaknya ASI lho. Makin tinggi stress, ASI semakin seret. Diawal-awal Bojo sempet khawatir kalau ASInya kurang. Saya yakinkan dia kalau jangan khawatir. Semakin dipikirin tambah stress, malah beneran tidak maksimal hasil ASInya. Saya juga berusaha untuk menjadi Ayah ASI yang maksimal. Bantu pekerjaan rumah. Saya yang mencuci, Bojo yang menyetrika. Saya memberikan waktu Bojo untuk me time, sementara Kafka saya yang jaga. Sementara untuk stress pekerjaan, saya berusaha untuk menyemangati Bojo agar tidak stress. Untuk tahu atur waktu pompa dan kerja, mungkin bisa tanya ke Bojo saya langsung.

****

Itulah beberapa cara yang Saya dan Bojo lakukan hingga Kafka lulus ASI eksklusif. Kalau ada pertanyaan, “Saya sudah melakukan itu semua tapi ASI juga belum keluar?“, ada faktor lain yang harus dikonsultasikan ke ahli. Saya baca waktu maksimal itu empat hari sampai ASI keluar. Teman-teman juga harus pantau berat badan bayi. Jika memang berat badannya turun sekitar 7% dari berat badan saat lahir, itu pertanda bayi kekurangan ASI. Donor ASIP atau susu formula bisa dijadikan pilihan. Jangan dipaksakan jika memang kondisi tidak memungkinkan.

Para Ibu harus tetap berusaha agar ASI keluar meski sudah pilihan sufor atau donor ASIP. Harus tetap mencoba menyusui bayi langsung dari payudara, melakukan pijatan dan atau pompa manual/elektrik. Karena semakin sedikit ASI yang keluar, maka semakin turun pula produksinya. Supply berbanding lurus dengan kebutuhan bayi. Makanya Bojo saya selalu mencoba rutin mempompa. Jangan nunggu kencang payudara. Kalau kencang artinya produksi ASI berlebihan dan akan menurunkan produksi ASI. Kenapa saya tahu? Karena saya dengan sengaja melibatkan penuh proses ini. Saya bisa jadi pengingat ke Bojo kalau sedang keluar rumah dan jadwalnya pompa.

Untuk para Ibu yang sedang berjuang memberikan ASI eksklusif, semangat ya! Cari lingkungan yang positif untuk mendukung. Fokus memberikan cinta kasih ke anak dan jangan stress.

Untuk para Ayah di luar sana, yuk jadi Ayah ASI. Dukunglah Istri Anda dalam memperjuangkan ASI eksklusif. Susah lho kalau sendiri! Minimal Anda sebagai penyemangat bagi istri.

Semangat Ibu ASI dan Hidup Ayah ASI!

Kafka Lulus ASI Eksklusif Enam Bulan Pertama

ASI atau Air Susu Ibu sampai saat ini masih menjadi nutrisi terbaik bagi bayi. Tidak ada penelitian yang menemukan kandungan terbaik bagi bayi yang mengalahkan ASI. Semahal apapun susu formula yang dibeli, kandungannya akan kalah dengan ASI yang gratis. Untuk itulah bayi berhak mendapatkan ASI.

Dari awal kehamilan, saya dan Bojo sudah berkomitmen akan memberikan anak kami ASI eksklusif selama enam bulan. Untuk mendukung komitmen tersebut, Bojo hampir tiap hari mengkonsumsi sayur daun katuk di usia kehamilan tujuh bulan. Kami berusaha menyiapkan segalanya jauh-jauh hari. Alhamdulillah, waktu IMD (Inisiasi Menyusui Dini), ASI Bojo langsung keluar. Kafka tampak semangat menikmati moment tersebut.

Komitmen kami untuk memberikan ASI eksklusif diuji. Saya harus balik ke Jakarta dan Bojo masih di rumah. Ujiannya bukan jarak, melainkan desakan dari orang tua, kakak, dan saudara untuk menggunakan susu formula. Mereka masih menggunakan paradigma lama bahwa kalau hanya dengan ASI, bayi masih lapar. Sehingga sering terbangun dan nangis saat malam. Padahal bayi nangis ya wajar. Kami jelaskan baik-baik ke mereka semua. Ya meski mereka masih saja mencoba memberikan saran. Kami pun tetap kekeh menolaknya.

Bagi saya, memberikan ASI eksklusif kepada anak itu bukan hanya komitmen seorang Ibu tetapi semua pihak. Pondasi yang paling penting adalah Ibu dan Ayah. Ingat ya, keduanya! Jika dua komitmen ini kuat, ASI eksklusif bisa dijalankan. Kemudian baru akan bisa mempengaruhi sekitar, orang tua, kakak, saudara dan tetangga. Banyak omongan yang kami dengar “Bayinya nangis terus. Nggak kasihan?” atau “Sudah kasih formula saja daripada rewel“. Kalau kami berdua tidak komitmen, maka akan kalah dengan omongan mereka. Waktu itu, kami tak memaksakan kondisi. Kami merasa bahwa Kafka cukup ASI jadi kekeh tetap ASI. Kami banyak belajar dari berbagai artikel, berapa kebutuhan ASI bagi bayi. Lain cerita jika memang Kafka saat itu kurang ASI. (Mungkin) akan kami carikan donatur ASIP. Sekali lagi, komitmen kami yang kuat untuk memberikan Kafka ASI eksklusif selama enam bulan. Sembari Bojo berusaha memproduksi ASI untuk memenuhi kebutuhan Kafka. Alhamdulillah cerita ini tidak terjadi.

Kalau misal ada yang memberikan bayinya susu formula dengan alasan ASI Ibunya tidak keluar, ya tidak masalah. Ayah dan Ibu bayi tersebut yang tahu perjuangan mereka sendiri. Saya pribadi tidak akan menyalahkan teman, saudara atau orang lain yang memberikan susu formula ke anaknya. Mereka masing-masing yang mengetahui kapasitas usahanya. Bagi Saya dan Bojo, memberikan ASI ke Kafka itu sebuah tanggung jawab utama sebagai orang tua.

Saat di rumah Bojonegoro, Bojo tidak melakukan pumping. Kafka langsung nenen di pabriknya. Karena kami berpikir nanti akan ke Jakarta, kalau di pompa juga percuma. Dua minggu sebelum balik ke Jakarta, Bojo baru mencoba mempompa untuk latihan Kafka pakai dot. Kenapa? Cuti Bojo sebentar lagi habis dan pasti Kafka akan ditinggal kerja. Jika ingin tetap ASI, satu-satunya jalan dengan ASIP (Air Susu Ibu Perah). Kafka harus berlatih minum dari dot. Kog pilih dot? Bukannya tidak bagus? Inilah contohnya kami tidak memaksakan keadaan. Idealnya kami ingin Kafka tidak menggunakan dot. Kami khawatir Kafka bingung puting. Pilihannya, menggunakan sendok atau cup feeder. Kemudian kami berpikir, yang jaga Kafka kan bukan kami melainkan Mbah Uti-nya. Kami membayangkan betapa repotnya jika harus menggunakan dua pilihan itu. Dengan kondisi itu, kami putuskan menggunakan dot. Kafka harus dilatih agar terbiasa. Setiap pagi dicoba satu botol.

Balik ke Jakarta, saya langsung menyewa pompa selama sebulan. Kenapa? Karena ingin mencoba terlebih dahulu. Kalau cocok, baru beli. Setelah sebulan, kami akhirnya kami membeli pompa dengan merk yang sama saat sewa, Spectra 9+. Semua persiapan ASIP, saya yang siapkan. Sewa dan beli pompa, beli botol/plastik ASIP, pesan stiker botol ASIP, cooler bag, dan lainnya. Inilah bentuk support saya ke Bojo dalam hal menyusui. Bojo langsung kejar setoran pompa agar punya stok ASIP. Jadi pas masuk kerja, tidak keteteran mengejar stok. Kami masih menggunakan kulkas lama untuk menyimpan ASIP karena freezer terpisah. Setiap hari produksi ASI Bojo bertambah.

Saat kerja, Kafka sudah disediakan 4 botol (seiring bertambahnya umur, bertambah botolnya). ASIP beku dipindah ke kulkas bagian bawah. Nanti Mbah Uti-nya akan menghangatkan apabila ingin diminumkan. Alhamdulillah sekali Mbah Uti-nya dengan cepat mengerti treatment penyajian ASIP. Selama Bojo kerja, Kafka akan minum ASIP melalui dot. Saat pulang kerja, Kafka langsung minum dari pabriknya sepanjang malam sampai sebelum berangkat kerja lagi. Begitu seterusnya sampai Kafka lulus ASI eksklusif selama enam bulan. Hebat Bojo dan Kafka!

Diusia Kafka 6+ ini, ASIP makin bertambah. Freezer kulkas lama sudah tidak muat. Akhirnya kami putuskan membeli kulkas yang khusus freezer. Kami hitung lebih efektif beli daripada sewa. Perhitungannya akan dipakai sampai Kafka umur dua tahun. Komitmen kami ingin Kafka mendapatkan ASI sampai dua tahun. Tentunya dengan didampingi MPASI (makanan pendamping ASI). Bismillah..

********

Istriku, kamu memang Ibu sempurna Kafka. Selamat ya, kamu sudah berhasil lulus memberikan ASI eksklusif untuk jagoan kita. Hebat kamu, yank!

Saya pribadi bangga bisa menjadi Ayah ASI yang menemani kamu yang begitu luar biasa enam bulan ini.

Love you,

Suamimu

Rational Use of Medicine (RUM)

Bagi saya, merawat anak bukan hal yang baru. Waktu SMP, saya mengurus keponakan dari mandi pagi sampai tidur siang (kebetulan saya masuk siang). Tapi menjadi orang tua lain hal dengan sekadar merawat anak. Itu merupakan hal baru bagi saya. Untuk itu saya perlu belajar. Salah satu yang saya pelajari saat ini mengenai Rational Use of Medicine (RUM).

RUM itu merupakan penggunaan obat yang rasional. Ingat ya, rasional! Bukan anti obat. Siapa sie orang tua yang mau anaknya sakit? Nah, kita cenderung kalau anak sakit segera diberi obat. Padahal (mungkin) tanpa obat juga bisa sembuh, dengan nenen, dikompres atau lainnya. Balita demam atau pilek itu hal yang wajar.

Setelah membaca beberapa sumber, RUM itu bukan anti obat, anti dokter, anti rumah sakit, atau anti-antibiotik. Bukan berarti kalau anak sakit ya sudah berusaha disembuhkan sendiri. Menurut saya, RUM itu tepat dalam penanganan, mendapatkan terapi sesuai dengan diagnosanya, mendapatkan obat sesuai dengan dosisnya, dan mendapatkan informasi yang tepat. Nah, di sini kita sebagai orang tua dituntut menjadi orang tua yang cerdas. Orang tua yang peka dengan informasi terkini mengenai kesehatan anak dan aktif menggali informasi dari dokter. Saya masih belajar banyak untuk menjadi orang tua cerdas. Belajar sambil jalan lah.

RUM sangat erat kaitannya dengan dokter karena dalam penggunaan obat, penentuan diagnosa ada di tangan dia. Menjadi tantangan sekali mencari dokter yang pro dengan RUM. Ini sama seperti mencari dokter kandungan Bojo. Meskipun sebenarnya (harusnya) semua dokter pro RUM tapi kenyataannya tidak demikian. Saya banyak membaca review di blog tentang dokter A, dokter B atau dokter C. Sebelum ke dokter tersebut, sebelumnya saya pasti mencari review dokter tersebut. Tidak hanya untuk anak, tapi semuanya. Screening awal. Alhamdulillah dokter Made, pro RUM.

Jujur ya, istilah RUM ini baru saya dengar setelah punya anak. Dulu sebelum tahu ini, selalu kesal kalau ke dokter dengan membawa keluhan dan hanya disuruh istirahat. Tak membawa pulang obat apapun. Sudah antrinya lama, pulang tidak bawa apa-apa. Sudah bayar mahal, hanya diminta istirahat. Padahal, itu yang benar. πŸ˜‚πŸ˜‚

Semangat belajar menjadi orang tua yang cerdas!

Kafka Nginep di Rumah Sakit

Duhhh, lama nggak nulis tentang Kafka. Eee, tiba-tiba nulis tentang Kafka yang sakit dan harus nginep di rumah sakit alias rawat inap. Padahal saya ingin sekali nulis tentang perkembangan anak lanang, Kafka. Semoga!

Siapa sie orang tua yang mau anaknya sakit? Nggak ada dong ya! Bagi saya dan bojo, Kafka sakit merupakan salah satu momok yang dikhawatirkan. Pertama, kami berdua orang tua baru yang sedang belajar untuk menemani Kafka berkembang. Kedua, kami kerja dan Kafka di rumah hanya dengan Mbah Uti-nya.

Kapan ceritanya? Oh ya!

Kafka sudah agak demam dari hari Kamis malam (9 November 2017). Saya dan Bojo mencoba tidak panik. Berbagai artikel dan postingan akun IG yang kami ikuti, demam pada anak hal wajar. Kami pantau terus suhu Kafka. Kafka di-nenenin Bojo lebih sering. Jumat pagi, Kafka baik-baik saja. Suhu juga sudah normal. Saya dan Bojo memutuskan untuk bekerja. Tentunya kami membekali Mbah Uti-nya dengan cara penggunaan termometer dan penggunaan obat demam. Setiap tiga jam sekali kami pantau via telfon.

Jumat malam sekitar jam 10-an, Kafka demam kembali, suhunya 38.2 derajat Celsius. Kami memberikan sanmol drop untuk menurunkan suhunya. Kompres air hangat juga kami lakukan. Malam itu, Kafka pun tidak rewel, hanya terbangun minta nyusu.

Sabtunya, kami ingin observasi dulu sebelum dibawa ke dokter. Rencana kalau masih demam, kami akan membawa ke rumah sakit malamnya. Seharian suhu normal saja (ya paling tinggi 37.4 derajat Celsius). Kami mengurungkan niat membawa ke dokter. Alasannya, kami masih menganggap demam Kafka masih batas wajar. Sabtu malam, Kafka kembali demam seperti hari sebelumnya. Saya dan Bojo udah khawatir kalau Kafka terkena demam berdarah. Kami masih melakukan treatment yang sama dengan kemarin, kasih sanmol, banyak nenen, dan kompres air hangat.

Minggu pagi, kami bawa Kafka ke klinik. Semua dokter anak di rumah sakit sekitar kontrakan tidak buka praktek termasuk dokter anak yang biasanya, dr. Made. Kami bawa ke dokter umum di klinik dekat rumah. Kafka masih ngoceh dan tidak rewel. Hasilnya, Kafka dibilang demam biasa dan tidak ada gejala DB. Alhamdulillah, lega rasanya. Tidak diminta untuk cek lab. Dokter juga menyarankan hal yang sama seperti yang sudah kami lakukan.

Singkat cerita, sampai hari Selasa sore (14 November 2017) Kafka tidak demam. Kami masih memantau suhunya. Pulang kantor, saya ke dokter THT di RSIA KMC, tenggorokan masih sakit sekali. Bojo langsung pulang ke rumah. Sekitar jam 9an malam, saya baru di rumah. Kafka sudah tidur, Bojo sedang lembur mengedit tulisan. Saya makan malam disambi ngobrol dengan Bojo. Sekitar jam 10an, Kafka terbangun dan langsung nangis. Saya pegang keningnya dan demam. Saya gendong untuk menenangkannya, masih nangis. Kemudian saya rasa dia bukan menangis biasa, tapi agak menggigil.

Saya langsung memesan ojek online untuk ke RSIA KMC. Sementara saya menenangkan Kafka, Bojo menyiapkan semua keperluan yang harus dibawa. Jujur kami panik hingga lupa cek suhu Kafka saat itu. Di dalam mobil, Kafka tambah menggigil. Saya gendong dan selimuti. Sumpah, waktu rasanya lama sekali.

Sampai di KMC, kami menuju IGD. Dokter jaga langsung cek suhu Kafka. 40.5 derajat Celsius. Saya dan Bojo kaget 😭😭. Untuk menurunkan suhunya, Kafka diberikan obat melalui (maaf) dubur. Beberapa menit kemudian, Kafka sudah agak tenang. Dokter jaga langsung menghubungi dokter Made dan meminta cek lab dan urin. Saat Kafka udah tenang dan demamnya turun, darah diambil. Ini pertama kalinya, saya dan Bojo mengalami proses ini. Tak tega kami. Saat diambil darah, Kafka sie nangis. Tapi begitu kelar, langsung ceria kembali. Tes urin yang butuh waktu lama karena urinnya belum ada. Kafka belum pipis, yang akhirnya dipasang semacam wadah penampung pipis.

Oh ya, Kafka harus dipasang infus. Duh, ini yang saya tidak tega. Baca-baca artikel, susah sekali pasang infus di balita. Ternyata benar! Dua kali dicoba dipasang infus oleh perawatnya, gagal! Sementara Kafka nangis waktu proses itu. Saya meminta untuk menunda infus. Toh, anaknya tidak lemas.

Saya diminta untuk mengurus administrasi rawat inap. Bojo dan Kafka tiduran di ruang IGD. Jam 12an dini hari, Kafka pindah ke ruang rawat inap. Jam 1an baru pipis dan diambil oleh perawat untuk dibawa ke lab. Saya dan Bojo gantian berjaga malam itu.

Rabu pagi, Bojo sudah jelas tidak masuk kantor. Kalau saya izin telat nunggu sampai dr. Made jenguk (ujung-ujungnya cuti juga). Dr. Made baru kunjungan jam 9an dengan membawa hasil lab urin. Hasilnya ada “darah” dan bakteri di urin Kafka alias Infeksi Saluran Kencing (ISK). 😭😭

Gejala ISK itu demam tinggi dan biasanya kalau kencing nangis. Kafka hanya mengalami yang pertama. Kata dokter, harus diberi antibiotik. Saya pribadi sedang belajar mengenai Rational Use Medicine (RUM) yang artinya penggunaan obat yang rasional. Ini saya bahas berikutnya (semoga). Karena itu, saya tanya ke dokter apakah harus dengan antibiotik? Iya! Beliau menjelaskan kalau RUM bukan berarti anti obat, tapi penggunaan obat yang rasional. Baiklah! Beliau menyarankan melalui melalui infus. Ya sudah, harus rela Kafka kembali ditusuk. Katanya kalau susah dari tangan, infus di kaki saja. Pernah lihat sie, tapi membayangkan itu di Kafka agak seram. Alhamdulillah, hanya satu kali percobaan, infus berhasil terpasang. Kata perawatnya, harus ditunggu demam turun. Kalau masih demam dipasang infus, pembuluhnya gampang pecah. Lha ini! Kemarin untung saja cuma dua kali percobaan. Kafka menangis pas dimasukin jarum. Setelahnya sudah ngoceh kembali.

Kembali ke antibiotik tadi. Penentuan antibiotik seharusnya melihat hasil dari kultur urin yang mana hasil ini menentukan bakteri penyebab ISK. Sehingga, antibiotik yang diresepkan tepat. Untuk hasilnya, baru keluar setelah 5-7 hari. Dokter Made memberikan antibiotik yang general untuk pencegahan awal sampai hasil keluar. Alhamdulillah cocok. Tetapi tetap hasil kultur urin ini harus dilihat.

Setelah antibiotik masuk di hari Rabu pagi, malamnya Kafka masih demam tinggi. Menggingil hebat lagi. Duh, ini yang paling tidak tega. Perawat langsung memberikan obat demam. Setelahnya sudah turun dan Kafka bisa kembali tidur.

Kamis pagi (16 November 2017), dr. Made melakukan kunjungan dan meminta tes urin kembali untuk memastikan sudah baik. Kafka sudah diizinkan pulang kalau hasilnya baik dan tidak demam lagi. Malamnya dr. Made menengok dan mengabarkan kalau hasil sudah baik dan boleh pulang. Alhamdulillah. Jam 10an setelah proses administrasi selesai, Kafka sudah bisa dibawa pulang ke rumah.

Oh ya, sebelumnya saya juga bertanya, kalau memang harus disunat, ya tidak masalah. Kata dokternya, belum. Rabu tanggal 22, Kafka harus kontrol dengan melihat hasil kultur urin. Semoga baik-baik saja!

Sudah ya Nak, nginep di KMC-nya. Jangan lagi yak. Enakan tidur di rumah. Kasurnya lebih gede. πŸ˜‚πŸ˜‚

Review Buku: 9 Bulan yang Menakjubkan

Saat bojo positif hamil, hampir setiap hari saya membaca artikel tentang kehamilan. Cari artikel-artikel yang berkaitan dengan kehamilan. Apa saja yang boleh dikonsumsi dan tidak boleh dikonsumsi bojo? Bagaimana perkembangan janin? Apakah sering pusing wajar? Dan pertanyaan lainnya. Apakah membantu? Cukup membantu. Hanya saja informasi yang didapatkan tidak secara menyeluruh. Tapi waktu itu dinikmati saja. Toh, cukup membantu.

Beda halnya dengan bojo. Tetiba dia sudah membeli satu buah buku yang cukup tebal tentang kehamilan. Buku itulah yang akan saya bahas. Buku yang menemani perjalanan kami selama kurang lebih 9 bulan.

*****

Judul: 9 Bulan yang Menakjubkan

Penulis: Tim Ayah Bunda

Penerbit: PT. Aspirasi Pemuda

Tebal: 338 halaman

*****

Buku yang tebalnya 300 halaman ini cukup lengkap membahas tentang kehamilan.Β Buku best seller yang sudah dicetak belasan kali ini membahas tentang Β masalah fisik dan psikis yang dihadapi oleh ibu hamil dan cara mengatasinya, bagaimana janin berkembang, pemenuhan gizi bagi ibu dan janin, olahraga yang bisa dilakukan ibu hamil, bagaimana agar tetap cantik semasa hamil, senam hamil yang bisa dilakukan di rumah, dan masih banyak lainnya.

Pembahasan di buku ini bukan per tri semester tetapi per bulan. Jadi per bab dibagi tiap bulan kehamilan, hari persalinan plus ada bahasan peran suami dalam mendukung kehamilan.

Buku ini menarik dibaca karena dicetak full colour. Pembagian buku ini bukan per te i semester melainkan bab sudah dibagi per bulan, jadi bisa dengan mudah untuk mencari informasi tentang suatu hal. Buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi gambar yang sangat membantu.

Saya paling suka dari buku ini adalah dari segui bahasa yang digunakan. Bahasanya mudah dipahami oleh saya dan bojo. Ketika membacanya, langsung paham. Saya tetap menyarankan untuk tidak menjadikan buku ini sebagai satu-satunya patokan informasi tentang kehamilan. Buku ini bisa sebagai alternatif sumber informasi daripada mencari artikel di internet yang informasinya sepotong.

*****

Untuk pasangan yang sedang bahagia menyambut sang buah hati, kalian harus tetap aktif bertanya dengan dokter. Ini penting! Ketika waktunya kontrol, jadikanlah waktu itu sebagai ajang untuk menimba informasi. Menurut saya, kontrol kehamilan itu dua arah, bukan satu arah. Artinya tidak hanya dokter yang memberikan wejangan tetapi kita sebagai pasien juga harus aktif bertanya.

Terkhusus untuk para suami yang istrinya hamil, usahakan temani istri saat kontrol ke dokter. Ini super duper penting! Ingat PENTING! Mengetahui perkembangan janin itu bukan hanya urusan istri, melainkan berdua. Ingat ya, jangan asal buat terus melempar urusan ke istri semua. Hehehe. Kecuali memang benar-benar tidak bisa menamani karena suatu hal. USAHAKAN!

*****

Selamat membaca dan menikmati perjalanan 9 bulan yang menakjubkan!