Saat Menjenguk Bayi yang Baru Lahir, Jangan Lakukan Ini!

Sudah lama sekali ingin menulis topik mengenai menjenguk Ibu yang baru melahirkan. Tulisan ini dari pengalaman pribadi saat Bojo melahirkan. Saya dan Bojo memilih melahirkan di Bojonegoro. Alasannya lebih efektif dan efisien. Detail ceritanya pernah saya tulis. Bagi yang kurang kerjaan dan ingin tahu alasannya silakan dijelajahi blog saya yang bagai butiran Adem Sari ini.

Banyak tetangga dan teman yang menjenguk saat Bojo melahirkan. Seneng? Iya dong. Terganggu? Sedikit. Ada beberapa hal yang membuat terganggu. Alasan itulah saya membuat tulisan ini. Biar kalian yang berencana menjenguk teman yang baru melahirkan tidak melakukan hal-hal yang sedikit menganggu, baik bagi Ibu maupun bayinya.

Langsung ya,

Datang Di Saat yang Tidak Tepat

Mengatur jam berkunjung adalah hal pertama yang harus dipikirkan. Tanyakanlah pada diri kalian sendiri, “kira-kira jam segini dia lagi ngapain ya?“, “apakah saya akan menganggu kalau datang sekarang?“. Jangan asal sempat saja, kemudian berkunjung. Menurut saya waktu yang tepat adalah pukul 10.00-12.00 dan 16.00-18.00. Di jam itu, Ibunya tidak waktunya istirahat dan sudah selesai beberes juga. Kalian juga bisa sebelum berkunjung, mengabari temen yang ingin dikunjungi. Tanyakan kapan kira-kira waktu yang tepat.

Berkunjung Terlalu Lama

Ini juga hal yang sangat penting dalam berkunjung. Sebenarnya tidak hanya untuk Ibu yang habis melahirkan, tetapi untuk orang sakit pada umumnya. Sakit itu butuh istirahat. Jadi kalau kita menjenguk orang yang sakit, jangan lama-lama. Mereka masih butuh istirahat. Ibu yang melahirkan pastinya begadang coy. Sedekat apapun kalian dengan teman yang kalian kunjungi, pahamilah hal ini. Selain Ibu, bayinya juga butuh istirahat atau nenen. Menurut saya, durasi yang tepat sekitar 10-20 menit. Kalian perlu ingat juga kalau yang menjenguk bukan kalian saja. Bayangkan kalau setiap hari ada sepuluh teman yang berkunjung, 200 menit harus disisihkan untuk setidaknya menemani kalian ngobrol. Tidak mungkin kan kalau kalian ditinggal tidur?

Berharap Dijamu Sebagai Tamu

Kalau yang ini sudah jelas lah ya. Kan tujuannya mau jenguk orang sakit, masak kalian punya ekspektasi disajikan lontong sayur dan es kelapa muda. Namanya orang habis lahiran ya sibuk dengan bayinya. Kan ada keluarganya? Ya elahhh, kalau berharap dapat jamuan layaknya tamu, datanglah ke kondangan nikahan coy. Kalian salah tempat kalau menengok Ibu pasca melahirkan.

Membangunkan Bayi

Ini yang bikin sebel saat ada orang berkunjung. Anaknya sedang tidur, lha sama kalian dibangunkan dengan alasan ingin lihat kalau pas bangun atau nangis. Kalau kata zaman sekarang, kzl! Saat kalian datang berkunjung, bayinya tidur, ya biarkanlah. Jangan diganggu buat bangun. Mendingan ganggu Ayahnya biar bangun. Eh gimana? Hahaha

Menggendong dan Mencium Bayi

Dua hal ini yang kadang sering dilakukan orang-orang saat menjenguk Ibu pasca melahirkan. Saking gemesnya kalian melihat dedek bayinya, kemudian langsung main gendong saja. Eitss, tunggu dulu! Kalian harus minta izin dulu sama Ibu/Ayahnya. Sejago apapun kalian dalam menggendong bayi, harus minta izin terlebih dahulu. Kalau mengizinkan, barulah kalian bisa gendong. Kalau mencium bayi, hukumnya TIDAK BOLEH dengan alasan apapun. Kalau Ayahnya boleh (ditabok sama Bojo). Silakan di googling alasannya kenapa tidak boleh.

Merokok Sebelum Menjenguk

Bagi para perokok, pastikan ya kalau ingin berkunjung ke Ibu pasca melahirkan, kalian tidak merokok dulu. Baunya masih nempel di baju kalian. Masak bayi yang baru lahir sudah kalian racuni nikotin. Jangan lah!

Mengunggah Foto Bayi di Sosmed

Saat berkunjung, bayi teman kalian lucunya tidak ketulungan. Kemudian kalian foto dan unggah di sosial media tanpa izin orang tuanya. Ini sudah melanggar hak privasi orang coy. Kalian izin dulu ke orang tuanya. Kalau memang tidak diizinkan, ya jangan marah. Terus ngomong di belakang, “kayak anak artis saja, nggak boleh diunggah di medsos“. Ya elahhh, mbok jadi orang jangan baperan. Anak-anak siapa, kog situ yang baper. Kalau mau unggah foto anak, ya bikin atuhh. Eh, Jomblo ya? Maaph dehh.

Pastikan Kalian Bersih dan Sehat

Terakhir adalah pastikan kalian bersih dan sehat. Jangan paksakan kalian menjenguk jika pas pilek, batuk atau sakit lainnya. Yang kalian jenguk itu bayi baru lahir yang mana daya tubuhnya masih sangat rentan. Makanya pastikan sehat baru boleh berkunjung. Kalau jenguknya di rumah sakit, kalian cuci tangan dengan alkohol handrub yang biasanya tersedia di depan kamar. Kalau di rumah ya cuci dengan sabun. Intinya bersih dan sehat.

*******

Itulah beberapa hal yang dihindari saat kalian mengunjungi bayi yang baru lahir. Eh itu kan di Bojonegoro. Memang Jakarta ada kayak gitu? BANYAK!

Semoga tulisan ini membantu. Marilah kita respect dengan cara yang benar. Maksud hati baik tapi malah menganggu. Kan nggak enak.

Salam,

Ayah Pembelajar

Advertisements

Kafka on The First Flight

Belajar dari pengalaman cuti sebelumnya yang kami habiskan jalan-jalan (Cirebon-Jakarta-Bojonegoro-Lamongan-Jakarta), saya merasa cuti dua minggu tak terasa. Meski di perjalanan itu, quality time juga sama keluarga tapi rasanya cuti cepat habis. Akhirnya saya tidak merencanakan kemanapun di cuti bulan April ini. Inginnya di rumah saja, bermain sama Kafka.

Menjelang hari H cuti, saya dikabari jika harus pulang ke Bojonegoro karena ada keperluan mendesak. Saya langsung kabari Bojo, bisa cuti apa tidak. Ternyata kondisi pekerjaannya sedang tidak mungkin untuk ditinggalkan, lagi padat-padatnya. Akhirnya kami putuskan untuk balik ke Bojonegoro tanpa harus ambil cuti. Berangkat hari Sabtu, balik hari Minggu. Satu-satunya transportasi yang memungkinkan untuk hal ini adalah pesawat.

image_6483441
Design by Canva.com

Saya langsung booking pesawat pulang pergi. Berhubung kami keluarga yang menjunjung kata hemat, saya langsung menyusun budget kepulangan ini. Tujuannya biar terkontrol dan tidak bikin dompet jebol. Terima kasih Traveloka yang sudah memudahkan saya dalam pemesanan tiket pesawat kali ini (dapat potongan harga pula!). Saya baru tahu jika anak usia di bawah dua tahun, terkena biaya tiket (50-100an ribu). Selama ini saya pikir gratis seperti tiket kereta api.

Ini akan menjadi penerbangan pertama bagi Kafka. Saya dan Bojo agak khawatir kali ini. Jika naik kereta api, Kafka sudah lulus 100%. Perjalanan dari Jakarta-Bojonegoro (PP) danย  Jakarta-Cirebon (PP) sudah pernah ditempuh dengan mulus, tanpa rewel. Saat ini agak beda kondisinya. Jujur kami khawatir kalau nanti saat di pesawat Kafka rewel dan membuat penumpang lain terganggu. Secara kan tekanannya beda banget. Jangankan pesawat, setiap naik/turun via lift saja Kafka terasa tekanannya. Jadi pas digendong, langsung tegang. Kami coba baca-baca artikel mengenai membawa anak saat penerbangan.

Saat berangkat (Jakarta-Surabaya) kami memilih penerbangan pagi, jam 05:30 dengan maskapai Citilink. Kami harus berangkat dari kontrakan jam 03:30 yang mana Kafka masih tidur dengan nyenyak. Bojo hanya mengelap dengan tisu basah dan mengganti pakaiannya. Di perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta, Kafka kembali tidur. Kami sampai di bandara sekitar jam 05:00 dan Kafka terbangun. Alhamdulillah, kami masih sempat untuk sholat subuh secara bergantian.

Saat memasuki pesawat, Kafka masih terbangun. Begitu duduk di kursi, Bojo langsung menyusui Kafka biar kembali tertidur. Uhuyyy! Kafka kembali tidur. Pramugari memberikan seat belt dan life vest khusus untuk bayi. Seat beltยญ-nya ini tambahan untuk dipasangkan di seat belt utama (orang tua). Saya yang memilih untuk memangku Kafka. Perjalanan yang kami tempuh selama 1.5 jam lancar. Tidak hanya Kafka yang tidur selama perjalanan, kamipun juga. Begitu mendarat di Bandara Juanda, Kafka baru terbangun. Mirip sekali dengan saya yang setiap naik transportasi, duduk lalu tidur. Kamu pintar, Nak!

IMG_9615
Wajah Kafka Saat Mendarat di Bandara Juanda

Sesampai Surabaya, kami harus naik bus lagi. Inilah tidak enaknya naik pesawat. Kami harus naik bus dua kali baru sampai rumah. Total perjalanan kemungkinan sekitar 5-6 jam. Jika naik kereta api bisa langsung sampai Bojonegoro dengan total perjalanan sekitar 9-10 jam. Dari Bandara Juanda kami harus naik Bus Damri tujuan Terminal Gresik. Sepanjang perjalanan, Kafka tidak berhenti ngoceh dan teriak-teriak senang. Kemudian tidur sebentar, kembali terbangun dan ngoceh lagi. Bus Damri kan kecil, jadi terdengar dari depan sampai belakang. Mohon dimaklum lah ya, kan anak kecil.

Sesampai Terminal Gresik, kami harus ganti bus tujuan Surabaya-Cepu. Ini adalah bus ekonomi yang panas. Khawatir Kafka rewel karena gerah. Sebenarnya kami bisa memilih transportasi travel yang mana langsung ke tujuan rumah atau meminta dijemput di bandara. Kami urungkan rencana itu. Kami ingin mengajarkan Kafka untuk naik transportasi umum yang memang murah meriah. Jika Kafka tidak rewel naik bus ekonomi yang panas, maka naik transportasi yang mahalpun pasti nyaman. Alhamdulillah, Kafka lulus! Tidak rewel sama sekalipun. Padahal kondisi bus panas sekali. Good job, boy! Kafka bisa diajak untuk liburan ala backpacker. Kemana selanjutnya kita, Bojo?

Hari minggu besoknya, kami kembali ke Jakarta. Dengan rute yang sama, Bojonegoro-Terminal Gresik-Bandara Juanda, Kafka anteng-anteng saja. Untuk baliknya, kami naik pesawat maskapai Sriwijaya. Masih sama saat berangkat, pulangnya Kafka tidur sepanjang perjalanan. Dia terbangun saat sudah sampai di tempat tujuan. Ini mah tandanya Kafka doyan jalan-jalan. Ayo Bojo agendakan kembali jalan-jalan bertiga.

IMG_9633
Ibu dan Kafka di Waiting Room Bandara Juanda

For the last, saya akan membagi tips pribadi untuk mengajak anak usia di bawah dua tahun.

  1. Jadwal terbang

Menurut saya, jadwal terbang ini penting. Ayah dan Ibu bisa memilih penerbangan dengan menyesuaikan jadwal tidur anak. Sehingga saat penerbangan akan berlangsung, anak sudah tidur. Kita sebagai orang tua hanya tinggal memangku dan membuat posisi nyaman untuk anak tidur. Kitapun juga bisa tidur nyenyak.

  1. Pastikan kenyang

Pastikan perut anak kenyang. Jika memang usia di bawah enam bulan, maka cukup ASI saja. Tapi jika sudah di atas enam bulan, maka bisa diberikan MPASI sebelum terbang. Jika ASI eksklusif, jangan malu untuk memberikan ASI langsung dari pabriknya saat di pesawat. Rasanya Ibu-Ibu tidak perlu malu. Sudah ada kain penutup untuk ibu menyusui kan? Kalau anak kenyang, kemungkinan rewel kecil.

  1. Siapkan mainan

Untuk jaga-jaga, siapkan mainan untuk dibawa di pesawat. Saya waktu itu membawa buku yang biasa Kafka mainkan dan teether. Jadi sewaktu-waktu kalau rewel bisa dengan mudah dikeluarkan untuk dijadikan mainan anak.

*****

Tiga tips itu yang bisa saya bagikan. Semoga bermanfaat untuk Ayah Ibu yang membaca tulisan ini. Jika memang masih rewel, please jangan dimarahin. Saya suka kesal jika satu pesawat dengan orang tua yang membawa anak, kemudian memarahinya saat ia rewel. Mungkin saja anaknya risih karena pup atau sakit karena beda tekanan. Ini bisa terjadi lho! Oh ya, buat penumpang yang masih single, mohon juga dimaklumi jika ada anak yang rewel saat naik tranportasi (tidak hanya pesawat). Kami sebagai orang tua juga tidak menginginkan anak kami rewel.

IMG_9635
Kafka Sesaat Sebelum Tidur di Pesawat

Selamat jalan-jalan bersama keluarga!

Peralatan MPASI Kafka

Setelah sekian lama, akhirnya saya punya mood untuk menulis tentang peralatan MPASI Kafka. Ternyata peralatan MPASI itu banyak dan sering terlupakan oleh pasangan suami istri yang baru punya anak. Peralatan MPASI juga sering terlupakan untuk dikasihkan kado saat ada temannya yang melahirkan. Kebanyakan kado yang diberikan adalah kado seputar keperluan dari usia 1-3 bulan bayi. Misal, baju, gendongan, stroller, bouncer, dan lainnya. Jarang sekali yang memberikan kado untuk persiapan MPASI, mentok ya satu paket tempat makan. Buat kalian semua yang mungkin akan memberikan kado buat temennya, mungkin bisa salah satunya peralatan MPASI.

Peralatan Makan

Ini peralatan wajib ada untuk persiapan MPASI. Barang ini menjadi salah satu kado favorit teman untuk menjenguk Ibu pasca melahirkan karena praktis dan mudah dicari. Saat Kafka lahir, saya dan Bojo mendapatkan lima kado yang sama, set peralatan makan. Kelimanya hanya beda tipe, merek dan warna saja. Satu set biasanya terdiri dari piring yang lebih mirip mangkok, piring kedua yang lebih ceper, sendok, garpu, dan gelas. Kami hanya memakai piring, sendok dan gelas.

Harga: kado (gratis)

 

Baby Food Maker

Kami menggunakan merek Pigeon. Ini bukan kado tapi kami beli sendiri. Satu set terdiri dari alat pemeras jeruk, alat penyaring, alat penghalus, parutan, dan wadah penyimpanan. Lengkap! Kalau mau merek lain juga boleh atau mau beli yang bukan satu set juga boleh. Kami beli ini karena praktis saja, satu merek bisa dipakai berbagai fungsi. Fungsi yang paling berguna adalah saringan dan pemeras jeruk. Saat Kafka baru MPASI, saringan kawat ini menjadi alat yang harus ada untuk mempersiapkan MPASI.

Harga: Rp. 265.000 – Rp. 300.000

 

Food Processor atau Blender

Dua alat ini tidak wajib dalam mempersiapkan MPASI. Kalau punya banyak waktu tidak perlu alat ini. Semua bahan bisa di parut atau ditumbuk. Saya dan Bojo kan sama-sama bekerja, jadi harus lebih efisien. Solusinya menggunakan blender (untuk awal MPASI) dan food processor (untuk MPASI lanjutan, naik tekstur). Blender kami menggunakan blender kado dari pernikahan sedangkan food processor menggunakan merek Baby Safe, kado dari teman yang memang sengaja kami minta.

Harga: kado (gratis)

 

Peralatan Masak

Kami dari awal memang berkomitmen untuk memberikan Kafka MPASI homemade. Alasannya bisa dibaca di tulisan tentang menu tunggal MPASI. Oleh karena itu, kami juga harus mempersiapkan segalanya, salah satunya peralatan masak. Kami memisahkan peralatan masak Kafka dengan yang biasa kami gunakan. Mulai dari panci, parutan, sampai pencuci peralatannya. Tujuannya biar lebih steril saja.

Harga: relatif (bervariasi)

 

Baby Cubes atau wadah

Baby cubes adalah wadah kecil untuk menyimpan makanan. Pada menu tunggal, MPASI Kafka dimasak saat akan makan. Sedangkan pada menu 4 bintang, MPASI dimasak di pagi hari, kemudian dibagi menjadi tiga, satu disajikan dan dua lainnya disimpan. Wadah untuk menyimpan ini biasanya disebut baby cubes. Kami menggunakan wadah merek lock & lock karena tahan panas. Makanan yang disimpan di lemari es. Jika waktunya makan, wadah dikukus kembali.

Harga: Rp. 25.000

 

Kursi Makan

Ini juga peralatan yang tidak wajib. Bisa ada, bisa juga tidak. Kami ingin membiasakan Kafka untuk makan sambil duduk sehingga kami membeli kursi ini. Memang butuh kesabaran untuk menjadikan Kafka terbiasa. Kafka paling lama bertahan di kursi kurang lebih 10 menit. Setelah itu ya nangis minta turun. Kami turunkan, kemudian kami naikkan kembali ke kursi. Begitu seterusnya sampai habis. Tapi berhubung kami berdua kerja, Mbah Uti-nya lah yang menyuapi Kafka. Mbah Uti-nya kurang sabar, jadi Kafka digendong saja. Tapi tak apa, kalau libur kami biasakan lagi. Yang terpenting Kafka doyan makan dan tidak gerakan tutup mulut (GTM).

Babydoes

 

Harga: Rp. 250.000 (merek BABYDOES)

———-

Itulah beberapa peralatan yang kami gunakan untuk mempersiapkan MPASI Kafka. Sebentar lagi Kafka berusia 10 bulan. Dengan bertambahnya usia, tekstur MPASI juga semakin kasar. Alhamdulillah, Kafka bukan anak yang picky eater alias pemilih makanan dan GTM jarang dilakukan Kafka.

Kafka dan Imunisasi

Saya dan Bojo menginginkan hal yang terbaik dalam proses tumbuh kembang Kafka. Salah satunya dalam hal imunisasi, hukumnya wajib untuk dilakukan. Kami percaya bahwa imunisasi itu penting untuk perkembangan Kafka sehingga menjadi salah satu prioritas kami. Dengan mempertimbangan kondisi finansial, kami ingin membekali Kafka dengan vaksin lengkap sesuai dengan usianya.

Pertama kali kami mengimunisasi Kafka di rumah sakit saat dia lahir, RS Aisyah Bojonegoro. Dokternya memberikan informasi yang cukup lengkap mengenai imunisasi berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Beliau merekomendasikan untuk memberikan vaksin lengkap, minimal imunisasi dasar yang ditanggung oleh Pemerintah. Silakan dicari di google vaksin apa saja yang ditanggung oleh Pemerintah atau imunisasi dasar ini.

Dari RS Aisyah, imunisasi kedua dilakukan di salah satu Puskesmas di Jakarta. Saya dan Bojo yang mana adalah kategori keluarga menengah tanggung ingin mencoba bagaimana pelayanan imunisasi di pusat kesehatan milik Pemerintah. Toh sebenarnya imunisasi dasar yang dari Pemerintah sama kualitasnya dengan imunisasi di rumah sakit. Ekpektasi kami terlalu tinggi. Kafka hanya ditimbang berat badan dan kemudian diimunisasi. Tidak ada pencatatan di buku perkembangannya, tidak ada basa basi bertanya tentang Kafka, dan bahkan saat ingin bertanya langsung dipotong. “Ya elahhh, Ndik. Sudah gratis masih protes?” Bukannya seharusnya tugas bidan di Puskesmas menjelaskan semuanya? Ya sudah lah ya. Semoga Puskesmas lainnya memberikan pengalaman yang lebih baik dari saya dan Bojo. Terlepas dari masalah itu, imunisasi dasar di Puskesmas sangat saya rekomendasikan. Gratis dan sehat Tapi ya jangan terlalu tinggi ekspektasi pelayanannya, yang terpenting kan tujuannya dapat. Waktu itu kami hanya membayar dua ribu rupiah untuk administrasi.

Imunisasi berikutnya saya lakukan di Rumah Sakit Kemang Medical Care (RS KMC) dengan Dokter Made. Kebetulan imunisasi yang kedua ini adalah imunisasi yang bisa dicover oleh asuransi, jadi Alhamdulillah tidak bayar. Alasannya tidak terkait dengan itu saja, tapi kami juga ingin berkonsultasi mengenai perkembangan Kafka, baik fisik (berat badan, tinggi badan, lingkar kepala) dan tumbuh kembangnya. Dokter Made juga menjelaskannya detail sekali. Sebagai gambaran untuk biaya, imunisasi di Puskesmas gratis, di RS KMC biaya untuk vaksinnya 900 ribu rupiah (kalau vaksin yang sama seperti di Puskesmas, di RS KMC sekitar 350 ribu). Itu belum biaya dokternya. Pemerintah memang perhatian ke warganya dengan memberikan imunisasi dasar gratis. Jadi manfaatkan ya Ibu dan Bapak sekalian. Jadi tidak ada alasan Ibu dan Bapak tidak mengimunisasi anaknya dengan alasan biaya.

Imunisasi ketiga Kafka masih imunisasi dasar sekaligus imunisasi tambahan yang tidak ditanggung Pemerintah (berarti juga tidak ditanggung asuransi). Saya dan Bojo mencari alternatif tempat imunisasi. Setelah searching di google, ketemulah Rumah Vaksin (RV) Kebagusan. Kami tertarik untuk mencobanya. Kabar yang beredar di google, harganya lebih murah ketimbang di rumah sakit. Plusnya lagi adalah tidak ada biaya dokter. Sebagai keluarga kelas menengah tanggung, itu jadi point penting. Imunisasi tambahannya adalah PCV yang mana sebenarnya tidak wajib. Kami sepakat mengalokasikan dana untuk imunisasi ini. Datanglah kami ke Rumah Vaksin Kebagusan yang dekat sama kontrakan rumah.

Cukup mudah untuk menuju ke RV Kebagusan karena di aplikasi ojek daring sudah ada. Kesan pertama sampai di RV Kebagusan adalah nyaman sekali. Tidak ada kesan rumah sakit sama sekali, seperti rumah. Banyak mainan untuk anak-anak di ruang tunggu. Kami harus melakukan appointment terlebih dahulu sebelumnya untuk imunisasi di sini. Jangan langsung datang karena pasti akan ditolak. Kami disambut ramah oleh resepsionis yang merangkap sebagai kasir sekaligus asisten dokter. Kafka ditimbang dan diukur tinggi badannya. Kami dapat giliran kedua. Masuk ruang periksa, sudah ada dokter muda cantik yang ramah. Ruang periksanya lebih warna-warni dan banyak mainannya. Kami diajak ngobrol terlebih dahulu. Kemudian dijelaskan tentang imunisasi yang akan kami berikan ke Kafka. Setelah kami mengerti, dokternya langsung mengobservasi perkembangan Kafka, detail juga seperti Dokter Made. Waktu itu kami diingatkan tentang pembersihan area kelamin Kafka. Soalnya ada kemungkinan fimosis (lubang jalur kencingnya tertutup, sehingga akan jadi sarang bakteri). And it’s happen, sebulan berikutnya Kafka sakit ISK. Dokternya juga ngemong sekali saat imunisasi. Kafka diajak komunikasi. Setelah imunisasi, dokternya mengisi buku perkembangan dengan lengkap dan memberikan kami tips-tips apabila Kafka demam pasca imunisasi.

RV Kebagusan sangat saya rekomendasikan untuk tempat imunisasi bagi Ibu dan Bapak yang tinggal di area Jakarta Selatan. Oh ya, waktu itu dokternya bukan dokter anak. Tapi penjelasannya detail layaknya dokter anak. Dokter anak ada hanya tiap hari Sabtu atau Minggu (lupa). Jika memang ingin imunisasi vaksin yang tidak ditanggung Pemerintah (read: asuransi juga), RV Kebagusan bisa menjadi solusi. Lumayan bisa menghemat biaya dokter (misal di RS KMC, 300 ribu). Sebagai keluarga hemat ceria, jumlah itu cukup untuk beli pampers Kafka.

Imunisasi berikutnya dilakukan di RV Kebagusan. Sekarang Kafka sudah berusia 9 bulan, artinya jadwal imunisasi campak. Vaksin di RV Kebagusan sedang kosong. Kami coba di RS KMC, ternyata juga kosong. Akhirnya balik lagi ke Puskesmas yang mana pasti ada. Ternyata memang masih ada stok. Karena saya masih di Kalimantan, Bojo datang ke Puskesmas bersama Mbah Uti. Tentunya dengan ekpektasi yang sudah kita adjust, minimal tujuannya tercapai, bisa imunisasi.

Intinya, dimanapun imunisasinya, yang terpenting tujuannya tercapai. Mau di Puskesmas yang gratis, mau di rumah sakit yang ada biaya dokternya, atau mau di rumah vaksin yang tidak ada biaya dokter, TIDAK MASALAH! Ibu dan Bapak sekalian jangan lupa jadwal imunisasi buah hatinya ya.

Salam Ayah ASI!

MPASI Kafka – Menu Tunggal

Tepat 21 Desember, Kafka genap berusia enam bulan. Itu artinya waktunya menambah asupan nutrisi Kafka dengan Makanan Pendamping ASI atau yang biasa disebut MPASI. Dari istilahnya saja sudah jelas bahwa ini makanan pendamping, bukan pengganti. ASI masih tetap diberikan ke Kafka oleh Ibunya selama dua tahun. Terus Ayahnya kapan dong? Hahaha *just kidding pemirsaaaa.

Kami super excited untuk memasuki setiap tahapan baru Kafka, salah satunya MPASI ini. Satu bulan sebelumnya, kami sudah belajar melalui berbagai sumber. Baca artikel di internet, baca buku, follow IG mengenai MPASI, konsultasi dokter dan lainnya. Kami belajar sesuatu yang menyenangkan. Berdasarkan penelusuran tersebut, kami memutuskan untuk menerapkan MPASI versi WHO bukan BLW (Baby Led Weaning). Apa bedanya? Silakan dicari sendiri. Biar sama-sama belajar juga.

Menurut WHO, waktu yang tepat pemberian MPASI pertama kali saat bayi berusia enam bulan atau 180 hari. Pada saat usia tersebut, pencernaan bayi sudah siap untuk menerima makanan selain ASI. Itu pun tekstur makanannya juga ada aturannya. Mulai dari bubur atau puree, kemudian agak kasar, dan seterusnya. Tekstur ini ditentukan berdasarkan usia anak. Makin bertambah usia, tekstur makin kasar.

Kami berdua berkomitmen untuk memberikan Kafka MPASI homemade alias bikin sendiri. Kami tidak ingin memberikan Kafka bubur instan yang dijual di pasaran karena rasa asli makanan tidak bisa digantikan oleh produk bubur instan. Rasa pisang asli sangat berbeda dengan rasa pisang di bubur. Rasa kacang hijau di bubur instan akan beda dengan kacang hijau asli. Begitu pun rasa-rasa yang lainnya. Kami ingin Kafka menikmati rasa yang asli dari sebuah bahan makanan. “Nggak repot, Ndik?” Pasti repot! Tapi kembali ke komitmen awal untuk Kafka, semua kami jalani dengan penuh cinta.

Soal peralatan MPASI, kami menyiapkan sebulan sebelumnya. Kami membeli food maker, dudukan untuk makan, dan lain-lain. Nanti saya buatkan tulisan tentang peralatan MPASI Kafka (kalau tidak lupa ya).

Permulaan MPASI dianjurkan menu tunggal terlebih dahulu yang artinya anak diberikan menu dengan satu bahan makanan saja. Misal, puree alpukat, bubur nasi putih, dan sebagainya. Durasinya ada yang menyebut dua minggu, ada pula yang menyebut cukup satu minggu. Ini tidak ada aturan pasti, yang mana saja boleh. Kafka kami berikan menu tunggal selama 2 minggu. Selama 2 minggu, tidak hanya makan satu bahan saja. Setiap harinya berganti. Kenapa harus menu tunggal? Pertama, untuk memperkenalkan rasa asli makanan ke Kafka. Kedua, mengetahui alergi makanan yang (mungkin) muncul di Kafka. Terakhir, mengetahui lahap atau tidaknya Kafka dengan bahan makanan tersebut.

Kami sudah menyusun menu tunggal untuk Kafka seminggu sebelum MPASI dimulai. Jadi kami tinggal lihat jadwal dan belanja bahan makanan dengan mudah. Saya yang menyusun makanan tersebut yang mana hal tersebut merupakan bagian support saya ke Bojo karena saya harus ke Kalimantan. Oh ya, alasan ini juga yang akhirnya kami putuskan untuk memajukan Kafka satu hari MPASI.

Maafkan Ayah ya, Nak. Ayah ingin menemani kamu MPASI pertama.

Seharusnya Kafka MPASI pertama di tanggal 21 Desember 2017. Saya dan Bojo majukan sehari, tanggal 20 Desember 2017. Hal ini karena saya harus berangkat ke Kalimantan di tanggal 21 Desember plus penerbangan pertama. Sehingga kalau sesuai jadwal MPASI pertama, saya tidak bisa menemani Kafka di tahapan barunya.

Balik soal menu tunggal Kafka, saya menyusun menu tersebut berdasarkan komposisi yang terkandung di bahan makanan. Karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur, buah, lemak, tinggi serat atau tidak, dan kemudahan dalam pembuatan. Untuk faktor terakhir saya masukkan terkait Bojo yang bekerja. Jadi menu yang susah pembuatannya saya taruh di jadwal libur Bojo. Menu sore saat Bojo masuk kerja saya pilih yang mudah karena Mbah Uti-nya yang menyiapkannya.

Menu Tunggal Kafka

Pengalaman pertama Kafka MPASI sangat lucu. Menu pertama paginya adalah bubur nasi putih dan menu harinya puree brokoli. Paginya Kafka tidak begitu lahap. Mungkin karena pertama bagi dia mencoba sesuatu yang baru. Wajar sie! Sorenya Kafka lahap makan menu brokolinya.

Alhamdulillah ya, Nak. Jangan seperti Ayah yang nggak doyan sayur.

Ekspresi Kafka Setelah Makan

Puree Brokoli ala Ayah Andik

Kami tetap menjadwalkan menu tunggal Kafka selama 14 hari terhitung dari tanggal 21 Desember. Jadi total menu tunggal Kafka selama 15 hari. Menu ini sudah berhasil dikonsumsi Kafka dan Alhamdulillah lulus dengan NO SEMBELIT dan NO ALERGI. Untuk lahap atau tidaknya, hampir semua lahap. Hanya saja waktu makan juga menentukan hal ini. Kalau lagi tidak pas (misal ngantuk), makan akan lama sekali. Bojo membatasi waktu makan Kafka hanya 30 menit. Setelah 30 menit tidak habis, harus disudahi proses makannya. Hal ini untuk membiasakan Kafka agar makan tidak terlalu lama. Menu paling favorit Kafka adalah puree edamane alias kedelai jepang. Ludes tak bersisa. Bojo saja juga doyan sekali.

Menu Favorit Kafka dan Bojo

Jika yang membaca blog saya ingin mengambil resep menu tunggal ini, silakan saja. Saya juga terinspirasi berbagai sumber kog. Tapi ingat ya harus pahami konsepnya dulu. Jangan asal ikut-ikut saja. Bahan berserat tinggi tidak boleh bertemu, harus ada jedanya. Komposisi yang sama usahakan juga tidak bertemu. Kenapa? Jika ada bahan yang lupa beli, masih bisa ditukar tetapi masih memperhatikan aturan tersebut. Tidak hanya mengganti jadwal tanpa aturan. Bojo juga melakukannya karena waktu itu cari hati ayam susah. Oh ya satu lagi, semua menu ini tanpa gula dan garam.

Lulusnya Kafka MPASI ini dikarenakan cinta kasih Ibunya yang luar biasa. Terima kasih Bojo sudah memberikan rasa cinta di setiap menu makanan Kafka. Meski disibukkan dengan pekerjaan kantor, Bojo dan Mbah Uti tetap berkomitmen memberikan yang terbaik terbaik untuk Kafka. Maafkan saya yang hanya bisa support jadwal menu tunggal dan menyemangati kalian dari jauh.

Setelah 15 hari menu tunggal, Kafka beralih ke menu 4๐ŸŒŸ. Sampai hari ini sudah berjalan hampir tiga minggu. Menu 4๐ŸŒŸ ini saya akan tulis di part berikutnya (masih wacana dan semoga terlaksana).

Sebagai penutup (emang ceramah?), MPASI juga merupakan komitmen orang tua ke anaknya. MPASI homemade itu sedikit ribet tapi kalau dijalankan dengan cinta akan mudah. Sebenarnya saya tidak pantas menulis kalimat itu karena saya bukan pelakunya. Tapi sangat boleh ditanya ke Bojo, dia akan mengamini kalimat tersebut. Betapa dia bahagia tatkala Kafka dengan lahap menghabiskan makanan yang disiapkan pagi sebelum berangkat kerja. Oh ya, boleh cek IG Bojo jika ingin mengetahui resep menu tunggal Kafka (@rinasafia).

Selamat mempersiapkan MPASI buat Ayah dan Ibu di manapun berada. Jangan lupa kasih bahan cinta ya saat meracik menunya!

Menjadi Ayah ASI

Setelah posting tentang Kafka yang lulus ASI eksklusif di enam bulan, beberapa teman (nggak banyak, tepatnya tiga) bertanya bagaimana tips memberikan ASI eksklusif. Saya tulis saja sekalian di sini dengan judul Menjadi Ayah ASI. Ini salah satu tips yang penting untuk menyukseskan ASI eksklusif.

Menurut konselor ASI yang saya kenal dan artikel yang bertebaran di internet, produksi ASI seorang Ibu sudah disiapkan saat Ibu mengandung. Kemudian dikeluarkan saat bersamaan dengan proses kelahiran. Jumlahnya tidak begitu banyak. Nah, inilah yang sering membuat Ibu khawatir jika tidak mencukupi untuk bayinya. Padahal, ukuran lambung bayi masih kecil (kurang lebih sebesar kelereng). Jadi ya cukup-cukup saja.

Beberapa yang saya dan Bojo lakukan untuk memberikan ASI eksklusif ke Kafka:

1. Niat atau Komitmen

Saya percaya niat itu akan menentukan segalanya. Niat berbanding lurus dengan usaha yang dilakukan. Makin besar niat, maka makin besar usaha dan komitmen yang dilakukan. Niat atau komitmen menjadi modal awal untuk memberikan ASI eksklusif ke Kafka. Saat Bojo dipastikan hamil, kami langsung berkomitmen akan memberikan ASI eksklusif ke calon anak kami. Ingat ya, komitmen kedua orang tuanya. Bukan hanya Ibu tetapi Ayah juga.

2. Cari Ilmu

Saya dan Bojo sadar bahwa kami buta tentang ilmu menjadi orang tua yang baik. Kami tahu bahwa ASI eksklusif baik tapi tidak mengetahui alasannya, bagaimana caranya, dan sebagainya. Hanya tahu dasarnya saja tetapi lengkapnya tidak. Memperdalam ilmu tentang suatu hal itu penting. Selain kami bertambah pengetahuan, hal itu bisa memperkuat komitmen kami. Carilah informasi sebanyak-banyaknya mengenai seluk beluk ASI. Toh internet sudah sangat membantu. Kalau memang mempunyai teman seorang konselor ASI, bisa tanya-tanya. Bisa juga dari buku atau sharing dengan teman yang sudah lulus ASI eksklusif. Atau bisa juga bergabung dengan milis-milis yang berkaitan dengan ASI. Trust me, ini sangat membantu.

3. Persiapan

Sejak usia kehamilan Bojo sekitar tujuh bulan, saya genjot dengan hampir setiap hari makan sayur daun katuk. Kami harus menyiapkan dari awal. Tantangannya adalah agak susah cari daun katuk di Jakarta. Ada sie di supermarket, tapi mahal. Waktu itu, saya pesan ke Ibu langganan sayur kami. Kalau misal tidak ada daun katuk, kami cari penggantinya. Intinya harus disiapkan dari sisi makanan. Saat sudah tinggal di Bojonegoro, kami lebih gampang cari daun katuk. Tetangga ada yang menanam, jadi minta (gratis).

Selain makanan, ada yang dilakukan Bojo saat itu, melakukan pijatan di payudara selama 10 menit setiap harinya. Caranya? Cari di internet, banyak! Apalagi kalau yang mijat suami. Hahaha. Bercanda coy!

Yang terakhir, saat dua minggu menjelang persalinan, istri diberi resep vitamin pelancar ASI oleh dokter kandungan. Bojo hanya mengkonsumsi itu saja. Tidak ada vitamin lainnya yang dikonsumsi selain perbanyak konsumsi sayur dan buah.

4. Afirmasi Positif

Satu hal lagi yang kami lakukan, selalu melakukan afirmasi positif ke diri kami. Saya dan Bojo setiap malam mengajak ngobrol calon anak lanang. Salah satu obrolannya tentang ASI. “Nanti Kafka minumnya ASI sampai dua tahun ya.. doakan semoga pas Kafka lahir, ASI Ibu langsung keluar“, kurang lebih seperti itu. Saya dan Bojo selalu menceritakan keinginan untuk ASI eksklusif ke semua orang. Menurut kami, itu merupakan bagian dari afirmasi positif. Toh, akan banyak orang yang mendoakan, kekuatan semesta.

5. Ayah ASI

Support terpenting ASI eksklusif selain Ibu adalah Ayah. Menurut saya, Ayah menjadi garda terdepan sebagai support system Ibu. Saya berusaha menjadi pendukung pertama bagi Bojo. Caranya gampang kog! Saya selalu memberikan semangat Bojo dan menyakinkan kalau dia pasti bisa. Selain itu, saya juga yang mempersiapkan segala keperluan untuk mendukung ASI eksklusif. Pompa elektrik, botol/plastik ASIP, stiker botol, dot, cooler bag, apron menyusui, dan lainnya. Bojo saya bekerja, jadi banyak yang harus disiapkan. Kenapa kog mau? Saya ingin meringankan pikiran Bojo dari hal-hal yang bisa saya kerjakan. Biarlah Bojo fokus ke persalinan dan menata hati menjadi seorang Ibu.

Ayah ASI tidak hanya membantu saat persiapan, tetapi setelah lahiran, tetap ikut terlibat penuh. Bukannya ikut menyusui ya. Tapi menemani saat Bojo menyusui Kafka. Tengah malam saat bangun, saya coba menemaninya. Saya memberikan waktu istirahat untuk Bojo dengan bergantian gendong Kafka. Saya yang mandiin Kafka. Intinya mah bantu pekerjaan Bojo agar tidak terlalu lelah fisik.

6. Nutrisi

ASI menjadi makanan utama Kafka selama enam bulan. Jadi pabriknya ASI harus diisi juga dengan nutrisi yang cukup. Makanan yang bergizi harus tercukupi. Makanan bergizi tidak perlu mahal. Yang terpenting kandungan gizinya lengkap. Ada karbohidrat, protein, sayur, buah. Susu sebagai tambahan, itupun kalau bisa, kalau tidak bisa ya jangan dipaksakan.

Bojo tidak melakukan pantangan dalam hal makanan. Ya sudah makan saja. Yang terpenting jangan berlebihan. Tapi harus peka juga. Maksudnya kami melihat tanda-tanda yang muncul di Kafka. Khawatirnya ada alergi. Alhamdulillah, sampai sekarang tidak ada tanda alergi muncul di Kafka.

7. Diplomasi & Tim Sukses

Menjadi seorang pejuang ASI dibutuhkan kekuatan untuk mendiplomasi pendapat-pendapat orang bahkan keluarga yang tidak sependapat. Saya dan Bojo dibesarkan di keluarga yang masih belum teredukasi dengan ASI eksklusif. Diawal kami memiliki tantangan untuk menjelaskan keinginan kami untuk memberikan ASI eksklusif. Semua keluarga menyarankan campur susu formula agar Kafka tidak mudah lapar dan bisa tidur nyenyak. Padahal, nangis di malam hari ya wajar-wajar saja. Belum lagi omongan tetangga, “Gayanya ngikutin artis saja. Mau ASI eksklusif“. Kemampuan diplomasi untuk menjawab nyinyiran orang sangat diperlukan. Tak perlu emosi, jawab dengan ilmu yang sudah dipelajari sebelumnya. Alih-alih membantah pernyataan mereka, padahal bisa juga jadi sarana edukasi. Kalau udah kepepet, saya nyinyir balik, “ASI itu gratis lho. Susu formula bayar

Selain kemampuan Saya dan Bojo untuk menjelaskan ke orang-orang yang kurang mendukung, kami mencari tim sukses untuk mendukung statement tentang ASI eksklusif ini. Setelah selesai melahirkan, Saya meminta dokter kandungan dan dokter anak menjelaskan pentingnya ASI eksklusif di depan orang tua kami. Kemudian saat dijenguk bidan desa di rumah, saya juga meminta hal yang sama. Intinya mencari tim sukses untuk menyakinkan orang-orang yang belum mendukung. Alhamdulillah, semua keluarga akhirnya mendukung untuk memberikan ASI eksklusif.

8. Jangan Stress

Stress bisa menjadi faktor lancar atau tidaknya ASI lho. Makin tinggi stress, ASI semakin seret. Diawal-awal Bojo sempet khawatir kalau ASInya kurang. Saya yakinkan dia kalau jangan khawatir. Semakin dipikirin tambah stress, malah beneran tidak maksimal hasil ASInya. Saya juga berusaha untuk menjadi Ayah ASI yang maksimal. Bantu pekerjaan rumah. Saya yang mencuci, Bojo yang menyetrika. Saya memberikan waktu Bojo untuk me time, sementara Kafka saya yang jaga. Sementara untuk stress pekerjaan, saya berusaha untuk menyemangati Bojo agar tidak stress. Untuk tahu atur waktu pompa dan kerja, mungkin bisa tanya ke Bojo saya langsung.

****

Itulah beberapa cara yang Saya dan Bojo lakukan hingga Kafka lulus ASI eksklusif. Kalau ada pertanyaan, “Saya sudah melakukan itu semua tapi ASI juga belum keluar?“, ada faktor lain yang harus dikonsultasikan ke ahli. Saya baca waktu maksimal itu empat hari sampai ASI keluar. Teman-teman juga harus pantau berat badan bayi. Jika memang berat badannya turun sekitar 7% dari berat badan saat lahir, itu pertanda bayi kekurangan ASI. Donor ASIP atau susu formula bisa dijadikan pilihan. Jangan dipaksakan jika memang kondisi tidak memungkinkan.

Para Ibu harus tetap berusaha agar ASI keluar meski sudah pilihan sufor atau donor ASIP. Harus tetap mencoba menyusui bayi langsung dari payudara, melakukan pijatan dan atau pompa manual/elektrik. Karena semakin sedikit ASI yang keluar, maka semakin turun pula produksinya. Supply berbanding lurus dengan kebutuhan bayi. Makanya Bojo saya selalu mencoba rutin mempompa. Jangan nunggu kencang payudara. Kalau kencang artinya produksi ASI berlebihan dan akan menurunkan produksi ASI. Kenapa saya tahu? Karena saya dengan sengaja melibatkan penuh proses ini. Saya bisa jadi pengingat ke Bojo kalau sedang keluar rumah dan jadwalnya pompa.

Untuk para Ibu yang sedang berjuang memberikan ASI eksklusif, semangat ya! Cari lingkungan yang positif untuk mendukung. Fokus memberikan cinta kasih ke anak dan jangan stress.

Untuk para Ayah di luar sana, yuk jadi Ayah ASI. Dukunglah Istri Anda dalam memperjuangkan ASI eksklusif. Susah lho kalau sendiri! Minimal Anda sebagai penyemangat bagi istri.

Semangat Ibu ASI dan Hidup Ayah ASI!

Rational Use of Medicine (RUM)

Bagi saya, merawat anak bukan hal yang baru. Waktu SMP, saya mengurus keponakan dari mandi pagi sampai tidur siang (kebetulan saya masuk siang). Tapi menjadi orang tua lain hal dengan sekadar merawat anak. Itu merupakan hal baru bagi saya. Untuk itu saya perlu belajar. Salah satu yang saya pelajari saat ini mengenai Rational Use of Medicine (RUM).

RUM itu merupakan penggunaan obat yang rasional. Ingat ya, rasional! Bukan anti obat. Siapa sie orang tua yang mau anaknya sakit? Nah, kita cenderung kalau anak sakit segera diberi obat. Padahal (mungkin) tanpa obat juga bisa sembuh, dengan nenen, dikompres atau lainnya. Balita demam atau pilek itu hal yang wajar.

Setelah membaca beberapa sumber, RUM itu bukan anti obat, anti dokter, anti rumah sakit, atau anti-antibiotik. Bukan berarti kalau anak sakit ya sudah berusaha disembuhkan sendiri. Menurut saya, RUM itu tepat dalam penanganan, mendapatkan terapi sesuai dengan diagnosanya, mendapatkan obat sesuai dengan dosisnya, dan mendapatkan informasi yang tepat. Nah, di sini kita sebagai orang tua dituntut menjadi orang tua yang cerdas. Orang tua yang peka dengan informasi terkini mengenai kesehatan anak dan aktif menggali informasi dari dokter. Saya masih belajar banyak untuk menjadi orang tua cerdas. Belajar sambil jalan lah.

RUM sangat erat kaitannya dengan dokter karena dalam penggunaan obat, penentuan diagnosa ada di tangan dia. Menjadi tantangan sekali mencari dokter yang pro dengan RUM. Ini sama seperti mencari dokter kandungan Bojo. Meskipun sebenarnya (harusnya) semua dokter pro RUM tapi kenyataannya tidak demikian. Saya banyak membaca review di blog tentang dokter A, dokter B atau dokter C. Sebelum ke dokter tersebut, sebelumnya saya pasti mencari review dokter tersebut. Tidak hanya untuk anak, tapi semuanya. Screening awal. Alhamdulillah dokter Made, pro RUM.

Jujur ya, istilah RUM ini baru saya dengar setelah punya anak. Dulu sebelum tahu ini, selalu kesal kalau ke dokter dengan membawa keluhan dan hanya disuruh istirahat. Tak membawa pulang obat apapun. Sudah antrinya lama, pulang tidak bawa apa-apa. Sudah bayar mahal, hanya diminta istirahat. Padahal, itu yang benar. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Semangat belajar menjadi orang tua yang cerdas!