Selamat Hari Guru

Hari ini adalah jadwal pelajaran PJOK kelas 5 & kelas 6. Hari ini juga bertepatan Hari Guru Nasional. Sebagai guru magang satu tahun alias Pengajar Muda, aku merasa bahagia sekaligus bangga. Tahun ini, saya menjadi bagian di dalamnya.

Anak-anak, sekarang tanggal berapa?” tanya saya ke anak-anak sebagai pembuka pelajaran.

Tanggal 25, Pak..” jawab mereka kompak.

Tanggal 25 November diperingati hari apa ya?” tanya saya lagi.

Seperti biasa, jawaban mereka sesuai ekspektasi saya, ngawur dan ajaib.

Hari Rabu, Pak Andik.” masih jawab mereka kompak.

Iya, betul. Pak juga tahu kalau sekarang hari Rabu. Yang Pak tanyakan, hari ini, tanggal 25 November, diperingati hari apa?

Mereka pun berbisik-bisik dengan teman yang duduk di samping kanan kirinya.

Hari Ibu, Pak.” jawab Jumawan lantang.

Salah. Itu tanggal 22 Desember.” koreksi saya

Kalau begitu, Hari Kesehatan Gigi Nasional.” jawabnya lagi.

Bukan. Masak kalian takun sani?” jawab saya singkat tanpa koreksi karena tidak tahu Hari Kesehatan Gigi Nasional jatuh di tanggal berapa.

Ikbal, anak saya yang selalu mengacaukan kelas menjawab,

Hari Gigi Karet Nasional, Pak” jawabnya.

Ngawur kamu, Bal. Jadi, hari ini adalah hari yang spesial untuk Bu Kendang, Bu …” belum selesai saya menjelaskan, Wir memotong,

Hari ulang tahunnya Bu Kendang…” potong Wir.

Yeyyyyy… yeyyyy.” teriak anak-anak gembira.

Bukan. Tunggu Pak Andik selesai bicara, baru dijawab. Hari ini merupakan hari yang spesial untuk Bu Kendang, Bu Eli, Pak Ma’ruf, Pak Sin, Bu Rossa, Bu Fatma, juga Pak Andik. Hayoo, hari apa berarti?” tanya saya lagi.

Saya tahu, Pak. Hari ulang tahun sekolah torang!” jawab Maman.

Oh, anak-anak! Antara ingin tertawa dan dongkol mendengar jawaban mereka. Ya, namanya juga anak-anak. Saya sudah bisa memakluminya 🙂

Bukan, anak-anak. Ini hari spesial untuk semua guru di Indonesia.” ujar saya memberikan clue terakhir.

Oooo… Hari Guru Nasional, Pak!” jawab Inal.

Alhmdulillahh,, akhirnya ada yang bisa menebak dengan benar setelah beberapa jawaban ngawur mereka yang membuat pagi saya bahagia.

Benar, Inal. Tanggal 25 November itu diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Diingat-ingat ya!” jawab saya dengan senyuman bahagia.

Kemudian mereka saya minta untuk membuat gambar atau surat sebagai ucapan Hari Guru Nasional. Inilah beberapa karya mereka.

Fikri

20151125_100053-01

20151125_100108-01

20151125_100232-01

?????????????

Selamat Hari Guru Nasional untuk semua guru hebat di Indonesia! I am proud to be a teacher.

Advertisements

Celoteh Anak-Anak Tentang Jakarta

Saat memberikan les persiapan OSK, saya memotivasi anak-anak saya dengan pertanyaan sederhana,

“Siapa yang ingin ke Jakarta?”

Delapan anak saya yang lolos ke semifinal jelas mengangat tangan semua. Kemudian pertanyaan saya lanjutkan,

“Memang kenapa ingin ke sana? Apa yang ingin kalian lihat?”

Source Pic: https://rovicky.wordpress.com

Jawaban mereka cukup bervariasi. Berikut celoteh anak saya tentang Jakarta:

“Saya ingin melihat gedung-gedung yang tinggi dan mobil gagah.” jawab Adil, anak kelas 2.

“Kalau kamu, Inal?” lanjut saya menunjuk ke yang lain.

“Kalau saya ingin ke Monas dan naik busway, Pak.” jawab anak kelas 4 ini.

Inal dalam mengucapkan busway lucu sekali, buswai. Saya pun mengkoreksi pengucapan kata busway.

“Kalau saya ingin naik pesawatnya saja sie, Pak. Hehehee..” giliran Geby, anak kelas 3, yang menjawab.

“Saya takut naik pesawat. Bisa ke Jakarta tidak naik pesawat, Pak?” sanggah Bulan, anak kelas 2.

“Bisa. Tapi lama sampainya. Lebih cepat naik pesawat.” jawabku.

“Biar lama, Pak. Yang penting sampai Jakarta.” Bulan melanjutkan pendapatnya.

“Siph. Yang penting sampai. Sekarang giliran Jumawan. Apa alasanmu, Wan?” tanyaku ke Jumawan kelas 4.

“Kalau lihat di televisi, Jakarta itu macet. Kalau macet berarti banyak mobil. Kalau banyak mobil berarti banyak polusi. Kalau nanti torang ke Jakarta, jangan lupa bawa bawa kain untuk menutup hidung.” Jumawan memberikan jawaban di luar ekpektasi saya.

“Berarti, Jumawan ingin melihat macet?” lanjut saya.

“Bukaaan, Pak! Saya ingin naik pesawat dan melihat Monas. Tadi saya ingin  memberikan informasi ke teman-teman” jawabnya sambil nyengir.

“Hahahaa. Oalah, Pak Andik pikir kamu ingin melihat macet. Lho, Uci dari tadi diam saja. Kenapa?” percakapan berlanjut.

“Uci takut ke Jakarta, Pak. Nanti mamak diajak juga kan?” ujar Uci, anak kelas 3 dengan muka khawatir.

“Tidak usah takut. Mamaknya boleh ikut ke Jakarta. Kalau ada yang lolos, mamaknya akan ikut ke Jakarta.”

“Asikkkk…” teriak mereka serempak.

****

Saya suka sekali melakukan percakapan random dengan anak-anak. Banyak hal yang saya temukan dari mereka. Celoteh tentang Jakarta ini memaksa pikiran kembali mengingat Jakarta versi saya. Thanks, kids!

 

*Sinorang, 24 Maret 2015

Sabtu Padang Ceria

image
Nonton Bareng Film Serdadu Kumbang

Di Dusun Padang, malam minggu kemarin sedikit berbeda dari malam-malam sebelumnya. Tampak kerumunan anak-anak dan orang tua yang duduk di terpal memandang layar buatan dari bekas spanduk. Malam itu ada acara Sabtu Padang Ceria.

*****
“Babuat acara yok. Nonton film bareng.” ujar saya saat mengobrol santai dengan beberapa pemuda dusun.

“Sepertinya seru, Pak!” jawab salah satu dari mereka.

Kami pun langsung membicarakan konsep acara nonton film bareng. Dan acara itu dinamakan Sabtu Padang Ceria.

*****
Sabtu Padang Ceria (SPC) merupakan acara hiburan edukatif yang dibuat oleh pemuda Dusun Padang, Desa Sinorang. Tujuannya sederhana, mengedukasi masyarakat dengan menyenangkan. Selain itu, SPC digunakan sebagai ajang melatih mental anak-anak. Konsep SPC adalah nonton bersama (layar tancep) film edukasi dan mendiskusikan film tersebut (orang tua & anak-anak). Sebelumnya, anak-anak akan menampilkan karya seni pertunjukan.

Edisi pertama SPC kemarin berlangsung lancar. Acara dibuka dengan penampilan Tim Qasidah Anak-anak Dusun Padang. Mereka adalah anak-anak saya. Tim Qasidah ini diasuh oleh salah satu Ustadzah, relawan pengajar TPA Simba’a Raya. Proud of them!

image
Tim Qasidah Anak-anak Dusun Padang

Acara dilanjutkan menonton film. Film Serdadu Kumbang menjadi pilihan saya untuk SPC edisi pertama. Film ini pas sekali untuk kondisi dusun saya saat ini.

Menyenangkan itu adalah ketika saat adegan-adegan Serdadu Kumbang yang tengah ditonton menjadi bahan orang tua berkomunikasi (red: memberikan nasehat) kepada anaknya.

“Thu, makanya kamu belajar yang rajin. Kalau tidak belajar, kalau sudah tua, seperti itu.” ujar salah satu orang tua yang di dekat saya.

“Amek saja yang tidak sempurna punya cita-cita. Kamu  juga harus punya.” lanjutnya saat ganti adegan.

Begitu film selesai, diskusi ringan saya pimpin. Saya coba memfasilitasi diskusi antara orang tua dan anak-anak. Interaksi sederhana ini sangat menyenangkan bagi saya.

*****
Sabtu Padang Ceria merupakan acara yang diadakan tanpa mengeluarkan uang. Semua berpartisipasi iuran untuk mendukung acara ini. Ada yang meminjamkan speaker-nya, ada yang meminjamkan terpalnya, ada yang menyumbangkan aliran listriknya, ada yang menyumbangkan pisang sebagai camilan, dan lain-lain.

Dampak dari acara ini (mungkin) tidak langsung terlihat nyata. Tetapi saya percaya, kalau rutin diadakan, akan  menumbuhkan interaksi positif orang tua dan anak-anak. Selain itu, karakter positif anak juga bisa dibangun dengan cara yang menyenangkan.

Itulah salah satu cara pemuda di Dusun Padang berkontribusi untuk iuran publik di dunia pendidikan. Tidak besar tapi (Insya Allah) bermanfaat.

*Sinorang, 25 Oktober 2015

Bangga Jadi Anak Banggai!

“Seorang anak bukan hanya butuh untuk dibesarkan raga dan fisiknya, namun juga butuh untuk dibesarkan mimpi-mimpi dan kemampuannya.”

Tidak banyak anak yang memiliki kesempatan untuk menekuni minat dan bakat mereka, terlebih hingga berbuah menjadi prestasi. Bukan karena anak-anak tersebut tidak memiliki bakat dan minat apa pun, tapi seringkali karena variabel “X” tidak berpihak pada mereka. Salah satu variabel “X” yang dimaksud dan berperan besar adalah peran orang tua.

Sepanjang tahun 2015, ada banyak anak-anak membanggakan di Kabupaten Banggai yang telah mengukir prestasi, baik di tingkat lokal, regional, bahkan nasional. Dukungan dan motivasi orang tua mereka nyata-nyata menjadi pompa terbesar semangat dalam meraih prestasi. Cerita menarik empat anak di antaranya kami bagikan di sini.

  • ALDRICH BENEDICTUS P.: JAGOAN BAHASA INGGRIS BANGGAI
aldrich
Source Pic: Doc Pribadi

Siswa kelas IX A SMPN 3 Luwuk yang akrab disapa Aldrich ini adalah Juara 1 National English & Science Olympic 2015 bulan April 2015 lalu di Yogyakarta. Putra dari Ibu Yanti N. dan Bapak Jawan P. ini merupakan satu-satunya perwakilan dari Kecamatan Luwuk, Kabupaten Banggai untuk lomba yang diadakan oleh UGM dan Global Link tersebut. Aldrich meraih Juara 1 setelah menyingkirkan 19 peserta terbaik lain dari seluruh Indonesia melalui ujian tertulis dan wawancara dalam bahasa Inggris.

Keikutsertaan dan keberhasilan Aldrich dalam lomba nasional ini merupakan hasil jerih payah kedua orang tuanya guna mendapatkan suntikan dana bantuan akomodasi dan transportasi dari pemerintah dan Komite Sekolah. Selain itu, Bapak Aldrich yang berprofesi sebagai Guru Bahasa Inggris SMA dan Ibunya yang Guru Matematika SMP memang sudah mengasah kemampuan bahasa Inggris Aldrich sejak kecil.

Ketika ditanya perihal peristiwa paling berkesan selama pelaksanaan lomba di Yogyakarta, Aldrich menjawab, ”Saat dibilang kalau kemampuan bahasa Inggris saya melebihi pelajar SMP lainnya”. Aldrich yang sangat mengagumi sosok kakeknya yang bijaksana dan berwibawa ini sempat berpesan bahwa pelajar Banggai harus belajar sungguh-sungguh untuk membuat bangga Tanah Banggai.

  • BAGASKARA SULISTYO: HOBIKU MEMBACA KOMIK KUARK!

bagas

Siswa kelas 4 SDN 4 Bunta ini istimewa karena ia adalah satu-satunya finalis Olimpiade Sains Kuark (OSK) dari Kabupaten Banggai. Bagas, biasa ia disapa, telah berangkat ke Jakarta untuk mengikuti seleksi final tingkat nasional bersama 302 finalis lainnya dari seluruh Indonesia. Di sana, Bagas mengikuti ujian tertulis, ujian eksperimen, dan kunjungan ke Pabrik Permen Yupi selama 2 hari. Dukungan dana untuk keberangkatan Bagas diperoleh dari Dinas P & K Kabupaten Banggai, SDN 4 Bunta, dan KUPT P & K Kecamatan Bunta.

Buah hati dari pasangan Ibu Kurniawan Irawan M. dan Bapak Gafriadi Adri Sulistyo ini memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan anak-anak seusianya. Jika anak-anak seusianya senang menghabiskan waktu untuk bermain, Bagas lebih memilih untuk membaca Komik Kuark kemudian merangkum materi-materi penting dengan inisiatifnya sendiri.

Beruntungnya Bagas yang bercita-cita sebagai dokter ini mempunyai sosok ayah yang sangat mendukung proses belajarnya, mulai dari sekadar menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan Bagas hingga meluangkan waktu untuk merapikan hasil rangkuman Bagas. Pencapaian besar Bagas di usia yang masih terbilang sangat muda ini merupakan hasil upaya bersama antara Bagas dan kedua orang tuanya.

  • I PUTU YOGA TUNAS SUGITHA: INGIN MENDIRIKAN OBSERVATORIUM
yoga
Source Pic: Sabang Merauke

Yoga adalah salah satu dari 15 Anak Sabang Merauke (ASM) Batch 3 terpilih dari seluruh Indonesia. Program Sabang Merauke adalah program pertukaran pelajar antar daerah dari seluruh Indonesia dengan tujuan membuka cakrawala anak-anak tentang pentingnya pendidikan dan ke-bhinneka-an. Dari serangkaian kegiatan selama 2,5 minggu, pengalaman yang menarik bagi Yoga adalah bertemu Bapak Anies Baswedan yang berpesan, “Jangan jadi orang sibuk, jadilah orang yang produktif”.

Siswa kelas VII SMP Satu Atap Trans Batui 5 ini bercita-cita menjadi ilmuwan di bidang astronomi dan ingin mendirikan observatorium di tempat tinggalnya. Guna mencapai cita-citanya, Yoga giat belajar. Keterbatasan ekonomi orang tua Yoga yang bekerja sebagai buruh tani tidak mengurangi dukungan mereka untuk kemajuan pendidikan Yoga.

Yoga yang memiliki hobi membaca ini sangat bangga menjadi anak Banggai. Ia berniat untuk kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan akan kembali ke Banggai ketika berhasil menjadi ilmuwan untuk membangun Banggai. Pesan Yoga untuk teman-teman agar selalu semangat belajar, berangkat ke sekolah bukan hanya karena disuruh orang tua tapi karena niat untuk maju.

  • MUHAMMAD RAMADHAN: SELAMATKAN LAUT KITA DARI SAMPAH
aan
Source Pic: Sabang Merauke

Aan, begitu sapaan akrabnya, merupakan salah satu siswa SMPN 1 Kintom yang berhasil menjadi salah satu Anak Sabang Merauke (ASM) Batch 3, sama seperti Yoga. Aan sendiri belajar banyak hal melalui program ASM, seperti lebih disiplin dan toleran terhadap karakter teman-teman yang berasal dari daerah berbeda. Selain itu, Aan juga belajar bertoleransi dengan agama lain melalui program kunjungan ke Masjid Istiqlal, Gereja Katedral, dan Vihara..

Buah hati dari pasangan Ibu Fitriani yang merupakan Guru Ekonomi SMA dan Bapak M. Yamin M. ini sangat aktif dan kritis terhadap masalah lingkungan. Aan mengkritisi tentang banyaknya warga yang membuang sampah sembarangan di laut karena sampah yang menumpuk tersebut akan menjadi mikro plastik, kemudian dikonsumsi oleh biota laut dan kembali dikonsumsi oleh manusia.

Sebagai langkah awal berkarya, Aan akan membuka kursus komputer dan Bahasa Inggris di lingkungan tempat tinggalnya. Sebelum menutup percakapan, Aan berpesan, “Perbedaan itu asyik. Kalau kita sama itu bosan. Kita bisa saling belajar. Toleransi itu bukan tentang mengubah seseorang tetapi tentang merubah diri sendiri.”

*****

Aldrich, Bagas, Yoga, dan Aan adalah bukti bagaimana anak dapat mengukir mimpi menjadi prestasi dengan dukungan orang tua. Terlepas dari tingkat pendidikan dan ekonomi, kepedulian orang tua terhadap pendidikan dan mimpi-mimpi berperan besar dalam pencapaian prestasi mereka. Maka dari itu, sudah selayaknya setiap orang tua menjadi pendidik pertama di rumah dan bermitra dengan guru di sekolah, hingga anak tumbuh jadi anak yang membanggakan, untuk keluarga, lingkungan sekitar, juga untuk Banggai!

 

*Tulisan juga terbit di Lentera, bisa download di sini.

Torang Tidak Takut Disuntik, Pak!

Saat mengajar di kelas 5, tiba-tiba Bu Kendang mendatangi kelas dan mengajak ke kantor. Tak pernah dia lakukan sendiri, biasanya selalu disuruhnya anak-anak. Ada apa ya? Ternyata, ada Mantri dari Puskesmas desa akan memberikan vaksin campak ke anak-anak.

Campak atau yang biasa orang Sinorang sebut sarampak adalah salah satu penyakit kulit yang menular. Ketika saya tanya ke Mantri yang bertugas, penyakit ini sudah tercatat sebagai KLB di Banggai. Untuk itu, Dinas Kesehatan melakukan tindakan preventif untuk mencegah adanya penyakit ini ke anak-anak.

Continue reading “Torang Tidak Takut Disuntik, Pak!”

Festival Kelas Inspirasi Banggai 2015 : Kerumunan Positif untuk Kemajuan Pendidikan Banggai

image

Minggu, 3 Mei 2015, bertempat di Lapangan Basket Gelora Luwuk, Festival Kelas Inspirasi Banggai digelar. Festival yang diselenggarakan oleh sejumlah pemuda Banggai (read: Relawan Oke) ini merupakan sarana untuk memperkenalkan gerakan kerelawanan yang peduli dengan pendidikan di Banggai. Diantaranya, Indonesia Mengajar, Kelas Inspirasi, Penyala Banggai, Sikola Mombine, Alto, Wahana Hijau Indonesia dan Relawan Oke sendiri.

Continue reading “Festival Kelas Inspirasi Banggai 2015 : Kerumunan Positif untuk Kemajuan Pendidikan Banggai”