Cerita Ayah · Inside Out

Perjuangan Bojo Untuk Kafka

21 Juni 2017, jam 4 sore, adalah waktu pertama kali saya dan bojo melihat anak lanang kami. Kafka Damarlangit Saputro. Itulah nama yang kami berikan ke anak lanang. Doa kami, semoga menjadi putra yang bebas bermimpi dan mampu menerangi sesama dalam hal kebaikan.

(Dok Pribadi, Kafka saat berusia 9 hari)

***

Untuk anakku, Kafka, suatu saat apabila kamu sudah bisa membaca ini, kamu akan tahu bagaimana perjuangan Ibu demi kamu hadir.

***

Dari awal kehamilan, saya dan bojo sudah sepakat akan melahirkan di Bojonegoro. Memasuki usia 8 bulan, saya antar pulang bojo ke Bojonegoro. Tepatnya tanggal 10 Mei 2017. Di tanggal 14 Mei, mulailah kami dipisahkan oleh jarak, Jakarta-Bojonegoro. Jauh dari bojo yang sedang hamil tua itu sangat tidak menyenangkan. Perasaannya campur aduk, dimana yang paling dominan itu sedih dan khawatir. Sedih karena tidak bisa menjadi Ayah Siaga 100%. Khawatir karena saya dan bojo terpisah ratusan kilometer.

HPL (Hari Perkiraan Lahir) atau due date bojo jatuh di tanggal 18 Juni. Saya berencana pulang tanggal 16 Juni. Tapi Allah punya rencana lain. Tanggal 11 Juni jam 3 pagi, saya mendapatkan kabar kalau Bapak mertua meninggal dunia. Innalillahi wa inna illahi roji’un. Di hari yang sama, saya langsung pulang ke Lamongan. Saya memilih penerbangan paling pagi agar cukup untuk hadir di pemakaman Bapak. Tapi sayang sekali, masih tak sempat. Saya percaya, Bapak sudah bahagia, sudah tidak sakit lagi. Yang paling penting, pasti ini terbaik untuk Bapak.

Cuti untuk keluarga meninggal di luar kota mendapatkan jatah 4 hari dari kantor. Karena tanggung, akhirnya saya memutuskan untuk tidak kembali ke Jakarta. Statusnya adalah kerja dari rumah. Apabila istri melahirkan, baru ambil cuti. Baik sekali ya atasanku (semoga membaca, biar ditambah cutinya :D).

Percayalah, mendekati HPL rasanya was-was. Soalnya melahirkan itu bisa maju atau mundur dari HPL, bisa seminggu atau dua minggu. Bojo mengaduh dikit, langsung tanya udah kontraksi. Bojo ke toilet terlalu sering, langsung tanya udah keluar darah. Eee tapiii, sampai tanggal 16 Juni tidak ada tanda-tanda anak lanang mau keluar. Ini masih belum panik. Dokter bilang kalau misal sampai tanggal 20 Juni, anak lanang belum keluar, maka harus siap diinduksi. Tanggal 18 Juni, bojo belum merasakan apapun. Panik? IYA! Tapi saya sebagai suami yang baik, mencoba tidak panik. Saya tetap tenang di depan bojo. “Tenang bojo, belum waktunya. Kalau waktunya ya pasti keluar“, meski dalam hati, “Kog, nggak keluar-keluar.”

Tanggal 20 Juni, anak lanang masih betah sekali dalam perut bojo. Karena kondisi bojo yang masih sehat bugar, kami berangkat ke dokter menggunakan motor. Kata dokter, karena sudah melawati HPL, plasentanya sudah mengalami pengapuran. Apabila ingin menunggu sampai ada kontraksi alami masih bisa, maksimal 3-4 hari. Lewat dari itu, harus induksi. Setelah berdiskusi, saya dan bojo memutuskan untuk melakukan induksi hari itu juga. Jika menunggu 4 hari lagi waktunya tepat dengan hari lebaran. Dokternya akan cuti dan keluarga pasti riweh lebaran.

Jam 11 siang, induksi pertama dilakukan. Setengah jam pertama belum ada reaksi apa-apa. Sejam berikutnya mules mulai terasa. Saya ajak bojo jalan-jalan keliling rumah sakit. Biar proses kontraksi dan pembukaannya cepat. Hasil laboratorium mengabarkan kalau HB bojo rendah, sehingga harus ambil darah di PMI. Tenang, tenang, tenang! Satu kata itu yang terpenting dalam proses melahirkan.

Induksi dilakukan setiap enam jam sekali. Jam 5 sore, bidan kembali melakukan induksi sekaligus mengecek pembukaan bojo. Alhamdulillah sudah pembukaan satu. Kontraksi bojo semakin lama semakin kuat. Tidur dengan miring ke kiri, jalan-jalan, posisi merangkak, semua dilakukan. Bojo bertekad untuk melahirkan normal. Sebagai suami, saya mendukung keinginan tersebut. Enam jam berikutnya, jam 11 malam, induksi kembali dilakukan. Kata bidan, masih pembukaan satu. Tenang. Semangat bojo!!!! Tak tahan saya melihat bojo yang berjuang menahan sakit kontraksi yang muncul-hilang secara berulang. Tangan saya digenggam oleh bojo. Saat sakit, tangannya menggenggam kuat sekali. Malam itu kami berdua tidak tidur.

Hari pun berganti, jam 7 pagi, bidan kembali mengecek pembukaan bojo yang mana masih pembukaan satu. Tenang! Rileks! Kalau belum waktunya keluar, ya belum keluar. Itu yang selalu saya sugesti di pikiran saya dan bojo. Bidan juga selalu menenangkan bojo. “Wajar lama, anak pertama. Sabar ya, bu!“. Sudah 3 kali induksi dan hampir 20 jam masih pembukaan pertama. Tenang! Sungguh kasihan melihat bojo yang sangat kepayahan. Saya selalu ajak bojo untuk berpikir positif, “pasti kuat, pasti bisa“.

Kontraksi yang dirasakan semakin kuat dan semakin intens. Jam 11 siang bojo minta dipanggilkan bidan untuk dicek sudah pembukaan berapa. Setelah dicek, Alhamdulillah pembukaan dua. Hal ini menjadi titik cerah bagi kami berdua. Setidaknya ada kemajuan meski sedikit. Jam 12 siang, ketuban bojo pecah. Langsung saya panggilkan bidan jaga. Alhamdulillah pembukaan tiga. Setelah itu, bidan memberikan induksi melalui infus, tentunya melalui izin dokter.

Mulailah kontraksi hebat terjadi. Bojo mulai mencengkram bahu dengan kuat atau mulai memeluk dengan erat. Jam 1 siang dicek kembali oleh bidan. Pembukaan masih tiga, tapi ada kemajuan daripada tiga yang tadi. Kembali saya kuatkan bojo. Jujur, sekaligus menguatkan diri sendiri juga. Kata bidan bojo terlalu banyak mengejan sehingga ada penebalan di dinding rahim dan ini kalau semakin tebal akan menutup pembukaan kembali. Panik? IYA! Bayangkan sudah 24 jam lebih kemudian menutup kembali. Sekali lagi, tenang! Kata-kata positif kembali saya ucapkan ke bojo. Saya ajak beristifghar. Saya ajak untuk berpikiran positif bahwa dia kuat, dia pasti bisa.

Saya tidak bisa merasakan sakitnya di posisi bojo saat itu. Yang saya yakini, pasti sangat sakit. Bojo masih sering mengejan dan saya terus memberikan semangat. “Belum waktunya.. Nanti kalau waktunya mengejan baru sekuatnya. Sekarang ditahan. Biar tenaga juga tidak habis“. Kata-kata itu saya ulang-ulang terus. Saya semangati dia. Kontraksinya semakin kuat, semakin kuat juga genggamannya ke tangan saya.

Sekitar jam setengah 3 sore, bojo kembali mengeluarkan air ketuban. Bidan kembali mengecek  pembukaanya. Alhamdulillah sudah pembukaan lima dan kepala anak lanang sudah di bawah. Kemudian bidan tersebut menyiapkan peralatan melahirkan. Bojo gimana? Masih kontraksi hebat lah. Jam setengah 4, peralatan sudah siap semua. Bidan mengecek pembukaannya, pembukaan sembilan. Alhamdulillah, sebentar lagi bojo. Semangat!

Dokter sudah ditelfon tapi belum datang. Bojo tampaknya sudah merasakan kalau anak lanang sudah mau keluar. Tapi masih ditahan oleh bidan. Ada empat bidan yang saat itu di ruang bersalin. Satu bidan selalu memegang bagian bawah. Sepertinya dia menahan kepala anak lanang biar tidak keluar duluan. Bojo sudah tidak sabar, dia selalu menanyakan kapan dokter datang. Apakah bisa kalau tidak menunggu dokter? Jelas tidak bisa. Karena tanggung jawab ada di dokternya. Tenang! Rileks! “Sabar.. dokternya sedang perjalanan ke sini. Dia sudah di lantai 2“.

Dokter yang ditunggu datang juga. Langsung dia menggunakan peralatannya. Woalaaa!! Sekitar jam 4 sore, sekali bojo mengejan, langsung keluar anak lanang. Sumpah, takjub melihat anak lanang keluar dengan mudahnya. Alhamdulillah. Mendengar tangisan anak lanang pertama kali, saya dan bojo menangis terharu. Ini rasanya jadi Ayah dan Ibu.

Kami tak henti-hentinya mengucap rasa syukur sembari melihat anak lanang dibersihkan. Setelah bersih, proses IMD (Inisiasi Menyusui Dini) dilakukan. Saat anak lanang dan bojo melakukan proses itu, saya pandangi mereka berdua. Mulai hari ini, saya berstatus Ayah dan Suami. Saya mempunyai keluarga kecil. Bahagia sekali. Alhamdulillah, ASI bojo langsung keluar, sehingga anak lanang langsung bisa menyusu Ibunya. Tugas pertama saya sebagai Ayah adalah meng-adzani anak lanang. Ini saya lakukan setelah proses IMD selesai.

(Dok Pribadi, Kafka saat baru lahir)

Alhamdulillah, perjuangan bojo untuk anak lanang berakhir bahagia. Terima kasih kepada Allah yang sudah memberikan perjalanan yang luar biasa bagi keluarga kecil saya.

***

Untuk anakku, Kafka, itulah perjuangan Ibu dalam melahirkanmu. Ibumu tangguh! Kamu juga harus tangguh! Jangan pernah sakiti Ibumu. Karena Ayah menjadi saksi perjuangan yang luar biasa dari Ibumu demi kamu.

***

Untuk wanita yang sedang menyiapkan kelahiran anaknya, perjuangan setiap orang berbeda-beda. Maksud saya bercerita bukan untuk menggambarkan bahwa melahirkan itu sakit. Bukan! Perjuangan melahirkan itu indah. Saya selalu support bojo bahwa jangan mendengar perkataan jika melahirkan sakit. Melahirkan adalah proses yang indah. Memang sakit tapi ya itulah indahnya. Selalu berpikir positif dan jangan stress.

Bagi suami yang sedang menunggu istrinya melahirkan, sabarlah! Itu kuncinya. Jangan sampai kamu terlihat panik di depan istri kamu. Harus tenang meski sebenarnya panik. Dampingi istrimu saat melahirkan. Berikan dia semangat. Kita para suami tidak bisa menggantikan sakit yang dirasakan para istri. Tapi percayalah, dengan hadirnya kita, dengan semangat kita, istri jauh lebih kuat untuk menjalani proses melahirkan.

***

Selamat datang di dunia anakku, Kafka Damarlangit Saputro!

 

Salam,

Suami dari Rina dan Ayah dari Kafka

Advertisements

One thought on “Perjuangan Bojo Untuk Kafka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s