Plesiran

Pesona Pulau Dua, Sang Mutiara Banggai

image
Welcome to Pulau Dua (photo by Cinthya)

Saya yakin banyak diantara kita -bukan orang sulawesi- belum akrab mendengar Kabupaten Banggai. Saya pun demikian. Hingga sebuah perjalanan untuk mencintai negeri ini, membawa saya ke Banggai. Ya, saya ditugaskan di sini untuk menjadi Pengajar Muda. Saat ini sudah berjalan hampir 5 bulan.

Banggai sangat kaya potensi wisata alam. Mulai dari keindahan bawah lautnya, hijaunya pegunungan, gemercik air terjun, hingga penangkaran Burung Maleo. Beberapa hari yang lalu -memanfaatkan tanggal merah- saya, teman Pengajar Muda, dan Relawan Oke mengunjungi salah satu wisata Banggai, yakni Pulau Dua.

Pulau Dua berada di semenanjung Sulawesi, tepatnya di Kecamatan Balantak, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Pulau yang menjadi ikon wisata Banggai ini menawarkan dua sensasi sekaligus. Pertama, keindahan bawah lautnya dengan gugusan karang dan berbagai jenis ikan. Kedua, sensasi mendaki bukit untuk melihat pemandangan yang luar biasa.

Perjalanan kami di mulai dari Luwuk. Bagi kalian yang berada di luar Banggai, sudah ada penerbangan menuju ke Luwuk dengan pilihan beragam maskapai. Jadi, sangat mudah untuk menuju ke Luwuk.

Dari Luwuk, kami harus melakukan perjalanan darat menuju Desa Kampangar, Balantak. Kami menyewa satu mobil (sekitar 300 ribu/hari) dan beberapa mengendarai sepeda motor, saya salah satunya. Untuk menuju ke sana dibutuhkan waktu sekitar 4-5 jam dengan jalanan yang kurang bagus. Banyak jalan berlubang sepanjang perjalanan.

Sesampai di Desa Kampangar, kami langsung didatangi warga untuk menyewakan kapal. Karena memang tempat wisata, jadi sepertinya warga sudah terbiasa. Kita tidak perlu bingung mencari sewaan kapal. Tarif yang diminta Rp. 300 ribu/kapal (PP). Dibutuhkan waktu 15 menit untuk menyebrang ke Pulau Dua.

image
Sebelum menyebrang (photo by Ali)
image
Mari Mengarungi Lautan (photo by Rama)

Saat menyebrang, bapak yang punya kapal, menginfokan kalau ombak sedang besar. Jadi, ada dua opsi yang ditawarkannya. Pertama, tetap ke Pulau Dua tapi harus mendaki bukit karena kapal tidak berani ke sisi yang dituju. Kedua, ke pulau yang berada di sebelah Pulau Dua. Kami memutuskan untuk tetap menuju Pulau Dua dengan resiko harus naik bukit yang sebenarnya ini merupakan pilihan wisatawan.

image
Pendakian bukit (photo by Ferdi)

Dengan kekuatan penuh, kami mendaki bukit di Pulau Dua. Sesampai di atas, kami bisa melihat pemandangan yang luar biasa. Rasanya, tidak sia-sia harus mengeluarkan keringat untuk ini semua.

image
Pulau Dua dari Atas Bukit (photo by @ekoandik)
image
Narsis di Atas Bukit (photo by Cinthya)

Puas menikmati pemandangan dan tentunya berfoto ria, kami turun ke sisi satunya untuk merasakan sensasi kedua, yakni keindahan bawah lautnya.

Kami sangat menikmati keanekaragaman bawah lautnya. Lautnya dihiasi dengan gugusan karang beraneka macam dan ikan-ikan yang tak kalah menawan. Sangat memanjakan mata kami. Indah sekali.

image
Nemo (photo by dii)
image
Cheers!! (photo by Ferdi)

Setelah snorkeling, kami memakan mie cepat saji yang kami bawa dari Luwuk. Beruntunglah, kami yang hanya membawa satu termos air panas. Alhasil, mie itu dimakan dengan berbagai variasi karena air panasnya tak cukup 😀 Yah, makan tak makan, yang penting kumpul. Lapar broo. Hahaaa

Fasilitas di Pulau Dua sangat minim. Terdapat beberapa bungalow yang sudah dibangun. Sayang sekali, keadaannya tidak terawat, dibiarkan begitu saja. Listrik dan air bersih tidak ada sama sekali.

image
Bersantai (photo by Ferdi)

Kami menunggu kapal yang janjinya akan menjemput pukul 16.30 WITA. Sudah lebih dari 1 jam menunggu, kapal itu tak muncul juga. Oh ya, selain kami, sudah ada 1 rombongan yang datang duluan untuk camping di sini. Sembari menunggu kapal, kami mengobrol dengan mereka. Saran, kalau berniat wisata ke Pulau Dua, harus ada rencana camping di itinerary kalian.

Sekitar pukul 18.00 WITA, kapal yang ditunggu pun datang. Selain menjemput kami, mereka juga membawa rombongan lain yang akan camping. Rombongan itu lengkap sekali peralatannya, mulai dari tenda, alat snorkeling, hingga alat memancing. Enjoy, guys!

Kami menyebrang di saat hari sudah gelap. Agak khawatir juga sie. Alhamdulillah, sampai dengan selamat. Sesampai di Desa Kampangar, kami membersihkan diri dengan menumpang di kamar mandi warga. Mereka ramah sekali lho dengan wisatawan. Mereka tidak meminta bayaran pada kami alias gratis.

Pukul 19.00 WITA, kami kembali ke Luwuk. Sepanjang perjalanan, hujan tak kunjung berhenti. Alhasil, 5 jam perjalanan, kami -yang membawa sepeda motor- menikmati guyuran hujan tersebut ditambah gelapnya perjalanan.

Apapun yang terjadi di perjalanan kami, rasanya tak rugi dengan apa yang ditawarkan oleh Pulau Dua, Sang Mutiara Banggai. Bangga jadi Banggai!!

*Sinorang, 19 Mei 2015

Advertisements

One thought on “Pesona Pulau Dua, Sang Mutiara Banggai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s