Bersama Mereka · Indonesia Mengajar · Plesiran

Pasukan Tangkuliling

Kalian pernah mendengar Tangkuliling?

Tangkuliling merupakan avertebrata atau hewan tak bertulang belakang. Dia termasuk keluarga molusca. Habitat dari hewan ini di daerah yang berlumpur. Tangkuliling berbentuk seperti piramida. Cangkangnya lebih keras daripada bekicot. Eittss, kenapa malah seperti tulisan biologi. Hehehe

image

Minggu-minggu awal di penempatan, salah satu guru mengundang untuk memasak sate Tangkuliling. Secara hobi saya memasak ditambah rasa penasaran dengan Tangkuliling, ya wajib datang dong. Singkat cerita, proses masak memasak selesai. Saatnya mencobanya dan rasanya enak sekali. Dengan bumbu kacang, sate ini tidak kalah rasanya dengan sate ayam. Sekarang malah bahas kuliner. Tulisan macam apa ini? 😀 

Saat itu saya sudah tidak perlu repot mencari bahan mentahnya. Hanya datang, mengolahnya dan menyantapnya. Sebagai chef yang akan profesional, mempunyai tanggung jawab moral untuk mencari bahan mentahnya sendiri. Bahasa kerennya, turun tangan langsung, memilih bahan kualitas terbaik. Halahhh!

Saya mengajak Bu Kendang dan Bu Eli, guru di SD penempatan saya, mencari Tangkuliling. Tiga bulan rencana itu selalu gagal dengan alasan macam-macam. Akhirnya, di awal Mei kemarin, saya, guru, anak-anak dan beberapa orang tua berangkat untuk mencari Tangkuliling. Yeyyy!!

Tak mengira kalau ada jajaran orang tua yang ikut. Sayang, kepala sekolah tidak ikut. Andai ikut, lengkap sudah Mitra Langsung IM dimana ada kepsek, guru, siswa dan orang tua. 😀

Oke, saya sebut mereka dengan Pasukan Tangkuliling.

Traktor merupakan kendaraan kami menuju tempat pencarian. Alat sudah dipersiapkan, diantaranya, kantong sak, palu, batu dan parang. Tiga puluh menit waktu yang harus kami tempuh dengan melewati hutan. Jalanan yang lumayan terjal mengingatkan survival saat pelatihan PM. Sepanjang perjalanan, saya selalu ditegur oleh Bu Kendang karena selalu tunjuk sesuatu.

“Pak Andik, jangan tunjuk-tunjuk. Nanti ada yang ikut kitorang.” ujarnya.

Kami sempat tersesat 2 kali sebelum akhirnya sampai di tempat tujuan. Hutan bakau yang sudah ditebang, tinggal akar-akarnya saja dengan kondisi penuh lumpur dan banyak nyamuk. Saya langsung teringat film Anaconda.

“Bu, yakin kitorang bacari Tangkuliling di sini. Ada ularnya tidak?” tanya saya.

“Tidak ada kog, pak. Insya Allah, aman.” jawab Bu Kendang.

Mereka langsung lepas sandal dan nyemplung ke arena pencarian. Dengan cekatan, tangan mereka mengumpulkan Tangkuliling. Katanya, tempat ini memang banyak Tangkulilingnya dibandingkan tempat lain. Dengan ragu-ragu, saya juga ikut nyemplung dan ikut mengumpulkan Tangkuliling.

“Pak, Tangkuliling itu yang kayak gini ya, bukan ini. Kalau yang ini namanya Kloe. Beracun.” ujar salah satu anak saya sambil menunjukkan dua hewan yang bernama Tangkuliling dan Kloe.

Satu jam telah kami habiskan untuk menjarah Tangkuliling. Empat sak penuh Tangkuliling berhasil kita kumpulkan. Kami putuskan kembali pulang karena takut kemalaman. Takut juga harus melewati hutan yang sedikit menyeramkan kalau sudah gelap.

Perjuangan selanjutnya adalah memecahkan cangkang kerasnya. Kami turun di koala (red: sungai) dekat dusun untuk mencuci Tangkuliling dan betoki (red: memecah) cangkangnya.

“Pak Andik, jangan lupa sebelum memecah harus baca Basmalah dulu ya. Biar halal.” ujar Edi, anak saya yang sudah MTS.

Mendengar ucapan itu berasa adem betul. Alhamdulillah, masih ada yang ingat tentang tata cara ‘menyembelih’ hewan. Jujur sie, saya sempat kaget dan saya juga tidak kepikiran. Tapi, benar juga kata Edi.

image

Malamnya, kami membakar sate itu bersama-sama. Pembagian tugas dilakukan dengan sangat apik. Ada yang membuat tusukan, ada yang menusuk sate, dan ada yang membakar.

Rasanya kurang lengkap kalau tidak didampingi dengan es kelapa muda. Saya terpilih untuk meracik minumannya.

Singkat cerita, semua pergumulan dengan Tangkuliling selesai. Sate Tangkuliling dan es kelapa muda telah siap untuk disantap. Herannya, anak-anak hanya mendapatkan 3 tusuk saja, sudah senang dan kenyang. Beda 1 tusuk dengan anak-anak, saya mendapatkan 4 tusuk sate. Itu juga sudah puas.

image

Saya tidak habis pikir, perjuangan mendapatkan Tangkuliling begitu luar biasa, sampai kaki lecet. Begitu matang, kami hanya menikmati 3-4 tusuk per orang. Sepadankah?? Saya jawab iya.

Saya tersadar bahwa hal terpenting dari Pasukan Tangkuliling ini bukan kuantitas berapa tusuk yang kami makan, melainkan kuantitas berapa waktu yang kami habiskan bersama. Saya bisa lebih memahami beberapa karakteristik anak, memahami komunikasi guru ke orang tua (sebaliknya), memahami komunikasi anak ke orang tua (sebaliknya), dan tentunya saya bisa menyatu dengan mereka.

I am proud being part of a Tangkuliling Team!

*Luwuk, 3 Mei 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s