Inside Out

Sudah Jatuh, Tertimpa Tangga Pula

Bagi saya, ditempatkan di Sinorang merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri. Salah satu kebahagiaan tersebut adalah tentang kelapa muda. Di sini, pohon kelapa melimpah ruah. Sebagai penikmat es kelapa muda sejati, tentulah ini hal yang menyenangkan.

Empat bulan bertugas, dengan mudahnya saya mendapatkan kelapa muda ketika ingin minum yang segar-segar (red: es kelapa muda). Tinggal bilang sama orang tua angkat, kelapa muda mendarat dengan selamat di dapur rumah. Kalau memang mereka lagi repot, saya tinggal pergi ke rumah salah satu teman guru, Bu Eli, untuk meminta kelapa muda.

Nah, pohon kelapa di rumah Bu Eli lumayan pendek. Saat itu ingin sekali es kelapa muda karena cuaca memang sedang panas-panasnya. Saya, Bu Eli dan Bu Kendang bermaksud membuat es kelapa muda. Kami mencari Idrus untuk meminta tolong manjat pohon kelapa tersebut. Muter keliling tidak ada orang yang bisa manjat. Karena begitu inginnya, saya memaksakan manjat. Meskipun terlihat pendek, begitu naik ternyata tinggi juga. Saya urungkan niat melanjutkan.

Kami pun tak menyerah sampai di situ. Kami ambil tangga di rumah Bu Kendang yang kebetulan sebelahan dengan rumah Bu Eli. Untuk informasi, kalau di Bojonegoro, biasanya tangga terbuat dari bambu. Kalau di sini terbuat dari kayu. Seriously, it’s very heavy.

Saya posisikan tangga dengan benar di pohon kelapa. Saya memastikan keseimbangan tangga tersebut. Anak tangga pertama lancar, anak tangga kedua juga lancar, begitu seterusnya. Sesampai anak tangga keenam, saya terpeleset yang berakibat kehilangan keseimbangan. Bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya, kan?

Yes, benar! Saya terjatuh dari tangga. Tak selesai begitu saja, tangga yang berat sekali itu juga jatuh menimpa saya. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Mungkin kali ini bukan peribahasa. Ini benar terjadi pada saya. Apa yang terjadi berikutnya?

Bu Kendang dan Bu Eli berteriak panik. Semua tetangga keluar ke arah kami. Saya langsung bangkit berdiri dan menenangkan mereka.

“Ndak apa-apa kog. Ini sudah bisa berdiri. Cuma kotor saja bajunya.” ujar saya untuk menenangkan.

Masih saja mereka panik. Saya berhasil membubarkan mereka setelah saya sedikit memaksa mereka bubar.

Berita saya jatuh dari pohon kelapa menjadi headline di dusun selama seminggu. Orang tua angkat saya juga panik setelah menerima banyak laporan dari masyarakat. Bapak angkat yang memang ahli mengurut, langsung turun tangan mengecek kondisi saya. Alhmdulillah memang baik-baik saja, tidak ada keseleo atau salah urat.

Sejak saat itu, anak-anak begitu senang menggoda saya dengan tantangan naik pohon kelapa. Kemudian, diakhiri dengan ejekan dari mereka.

“Sudah jatuh tertimpa tangga, siapa ya?” pertanyaan Anggi.

“Pak Andik!!!” teriak anak-anak serempak.

 

*Sinorang, 12 April 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s