Bersama Mereka · Indonesia Mengajar

Waldi – “Kerjakan Sampai Selesai, Pak!”

Setelah ini akan ada tulisan khusus tentang polah anak-anak saya.

Untuk pertama kalinya, perkenalkan salah satu anak saya, Waldi namanya. Lengkapnya Waldiyanto. Salah satu anak trouble maker di kelas 2 yang saat saya mengajar tak pernah bisa diam. Ya, tak pernah diam!! Selalu ada saja yang dia lakukan. Duduk di meja sajapun masih bisa menjahili temannya. Hufftf!!

Saat ini, saya masih memegang prinsip bahwa, ‘setiap anak adalah bintang’. Dengan prinsip tersebut, saya mencari apa yang spesial di anak-anak. Mencari potensi yang bisa saya dan guru kembangkan. Salah satunya saya akan mencari potensi Waldi.

Waldi ini anak yang mudah bosan. Salah satu anak yang bertipe kinestetik. Saat saya mendongeng, didengarkan saja tidak. Hahahhaa. Saat saya menggambar di depan, dia malah asik dengan dirinya sendiri. Tapi, saat saya ajak bernyanyi sambil menggerakkan badan, dia sangat suka. Tantangannya adalah membuat dia tidak bosan. Begitu bosan dengan aktivitas tertentu, dia akan mencari aktivitas lain. Susah ya jadi guru. Hahhahaaa

Hari ini akhirnya saya menemukan aktivitas yang membuat dia bisa duduk dengan tenang. Apa itu? Menggunting dan menempel. Dia begitu hikmat ketika melakukan aktivitas ini dan duduk manis di bangkunya. Guntingannya juga rapi untuk ukuran kelas 2 di SD penempatan saya.

Tadi saat anak-anak asik menggunting, jam sudah menunjukkan kelas 2 waktunya pulang. Akhirnya, saya suruh dilanjutkan besok saja.

“Pak Andik, torang belum selesai. Pulang nanti saja.” protes Waldi.

Anak-anak yang lain tidak setuju.

“Ya sudah, yang lain suruh pulang saja. Saya mau bagunting dulu. Tapi ditemani sama Pak Andik ya.” lanjutnya.

Akhirnya, anak-anak lain saya suruh pulang dan tinggallah saya dengan Waldi di kelas. Kami pulang sampai dia menyelesaikan tugasnya. Bagus, nak!! Selesaikan apa yang kamu kerjakan.

image

Waldi juga suka menggambar dan mewarnai. Aktivitas ini membuat hikmat juga. Dia tidak  mempunyai pensil warna atau crayon. Dia selalu meminjam temennya dengan gaya premannya. Kemudian saya ajak menabung untuk membeli pensil warna. Lucunya, uang baru terkumpul 7 ribu, dia sudah meminta kembali.

“Pak Andik, mana uangku? Saya mau babeli jajan. Sebentar mamak yang babeli pensil warna”, pinta dia.

Saya bilang harus ada pensil warna terlebih dahulu, baru boleh diambil uangnya. Dan dia melanjutkan untuk menabung. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s