Indonesia Mengajar

Keberlanjutan Itu Ada!

Salah satu misi Indonesia Mengajar adalah “menciptakan dampak berkelanjutan di entitas sasaran” atau yang lebih dikenal dengan istilah keberlanjutan / sustainability. Arti kata keberlanjutan belum tergambar jelas di benak saya. Jujur, saya meragukan hal ini. Memang di pelatihan dijelaskan, baik teori maupun contoh nyatanya. Tetapi saya belum melihatnya langsung.

Hingga Kelas Inspirasi Banggai Laut (KI Balut) dilaksanakan, saya baru percaya kalau keberlanjutan itu memang ada.

Kelas Inspirasi merupakan salah satu bagian dari gerakan Indonesia Mengajar yang mengajak para profesional (red: Inspirator) untuk turun tangan ke Sekolah Dasar (SD). Inspirator ini akan cuti sehari untuk bercerita tentang profesi mereka, menjadi sumber inspirasi dan yang paling terpenting adalah mengajak mereka untuk berani bermimpi dan bercita-cita besar.

KI Balut merupakan KI pertama yang diselenggarakan di Banggai Laut. Siapa inisiatornya? Ya, penggerak lokal alias local champion.

Hal ini tidak lepas dari kerja keras Pengajar Muda sebelumnya. Mereka menginisiasi gerakan KI Banggai dan bekerja keras untuk terlaksananya KI Banggai dengan melibatkan local champion. Alhamdulillah, KI Banggai waktu itu berjalan sukses.

Geliat keberlanjutan dari gerakan ini sangat terlihat. Salah satu local champion, Inal Zaman, kemudian menginisiasi adanya KI di Banggai Laut. Dia mengajak warga lokal untuk menjadi relawan dan menjejaringkan mereka tentunya.

Banggai Laut adalah salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Tengah yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Banggai Kepulauan. Jarak tempuh dari kabupaten penempatan saya, Banggai, sekitar 8 jam perjalanan laut.

KI Balut 2015 sukses diadakan tanggal 9 Februari 2015 lalu. Di sini saya dan teman-teman Pengajar Muda Banggai lainnya hanya mengambil bagian terkait seleksi Inspirator, briefing dan refleksi. Teknis lainnya, seperti pemilihan sekolah, izin dengan pemerintahan, tempat tinggal dan sebagainya merupakan tugas panitia lokal.

KI Balut dilaksanakan di enam SD, yaitu SDN 2 Inpres Matanga, SDN Bone Baru, SDN Lokotoy, SDN Monsongan, SDN Pasir Putih, dan SDN Popisi dengan dukungan penuh dari Pemda Banggai Laut.

KI Balut berhasil menggandeng 28 Inspirator yang terdiri dari 22 orang sebagai pengajar dan 6 orang sebagai fotografer. Mereka berasal dari berbagai daerah, antara lain dari Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Palu, dan Luwuk. Profesi mereka juga beragam, antara lain, dosen, statistisi, staf pajak, engineer, dokter, bidan, MC, arsitek, fotografer, marketing manager, hingga manajer di salah satu bank asing. Hal ini tidak lepas dari promosi panitia lokal yang sungguh luar biasa.

KI Balut juga dirancang berbeda dengan KI di kota-kota lainnya. Inspirator menginap di rumah warga sekitar SD penempatan. Harapannya Inspirator bisa mengenal dengan masyarakat dan tentunya mendapatkan keluarga baru.

Saat Hari Inspirasi, Inspirator berhasil membagikan mimpi dan bercerita tentang profesi mereka, meskipun tidak sedikit juga yang bercucuran keringat karena harus mengajar anak SD untuk pertama kalinya. Masing-masing dari mereka mempunyai cerita dan kesan yang menarik saat harus berinteraksi dengan para siswa tersebut. Biarlah kenangan tersebut mereka simpan selamanya dan semoga menjadi unforgettable moment.

KI Balut menjadi titik balik saya untuk terus semangat mengejar sebuah keberlanjutan. Saat refleksi, saya kembali dikejutkan dengan ide-ide Inspirator. Kami berdiskusi cukup panjang waktu itu tentang keberlanjutan dari gerakan ini. Sebagai PM, kami jelaskan bahwa mereka sudah berjejaring dengan orang yang sejalan, yakni memajukan pendidikan Indonesia, sehingga gerakan yang akan dijalankan ke depan, silakan dibahas bersama. Tentunya PM sangat mendukung gerakan tersebut.

Salah satu bentuk keberlanjutan yang PM harapkan adalah pelaksanaan KI ke depannya tidak lagi melibatkan PM dan 100% dipegang oleh panitia lokal. Kami hanya mendukung di balik layar. Kami yakin akan hal itu.

Ternyata, geliat keberlanjutan tidak berhenti di sini saja. Beberapa tim KI Balut juga mengunjungi salah satu sekolah di Banggai Laut setelah pelaksanaan KI. Sekolah Tanpa Nama merupakan nama sekolah tersebut. Kenapa? Ya, memang sekolahnya tidak mempunyai nama. Sekolah yang didirikan oleh warga lokal dengan bangunan seadanya.

Hasil advokasi tim KI Balut ke dinas terkait di Banggai Laut membuahkan hasil positif. Sekolah Tanpa Nama sudah resmi memiliki nama, yakni “SD Cipta Lensalo”. Lebih menggembirakan lagi, sekolah ini juga mendapatkan bantuan langsung dari Dinas Pendidikan melalui UPT untuk keperluan operasional pendidikannya.

GERAKAN melahirkan sebuah PERUBAHAN. Inilah yang diusung oleh Indonesia Mengajar. Bukan hanya sekedar memberikan bantuan berupa uang, tetapi sebuah gerakan nyata. Gerakan yang disusun secara “urunan” bersama-sama, baik pikiran, tenaga, maupun materi. Gerakan yang menciptakan sebuah keberlanjutan, sesuai misi Indonesia Mengajar.

Bangga dengan kalian warga Banggai, warga Balut, dan para Inspirator. Semoga keberlanjutan dalam kemajuan pendidikan akan selalu bergerak sampai kapanpun. Sehingga pendidikan di Indonesia, terutama di Banggai dan Banggai Laut semakin maju.

 

*NB: Tulisan ini perdana diposting di blog IM >> disini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s