Inside Out

Mengajar Ngaji = Refleksi Diri

“Yang benar, barang siapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.” Al Baqarah : 81-82

Surat inilah yang menjadi bukti bahwa menjadi Pengajar Muda tidaklah hanya mengajar melainkan belajar.

Seperti biasa, setelah sholat magrib berjamaah di Masjid dekat rumah mamak angkatku, saya mengaji bersama anak-anak di sekitar masjid yang notabane-nya adalah muridku di sekolah. Saya dahulukan yang Iqro’. Setelah Iqro’ selesai, baru Al-Qur’an dengan sistem mengaji bersama-sama, saling menyimak.

Apabila giliran Iqro’ mengaji, yang sudah Al-Qur’an saya suruh membaca surat-surat pendek. Alhamdulillah sangat berguna untuk meredam ramainya anak-anakku.

Dua hari terakhir ini, mereka ramai terus di Masjid. Ketika ada anak yang mengaji, ada yang berkejaran, ada yang bermain peran, bahkan ada yang pencak silat. Begitu saya tegur, mereka bisa diam. Lima menit kemudian berulah lagi. Metode yang saya pakai dulu sudah tidak berhasil.

Disaat mengaji Al-Qur’an, bertepatan dengan surat Al-Baqarah ayat 81-82. Saya tidak sengaja membaca terjemahan ayat tersebut. Ayat tersebut berbicara tentang amal perbuatan. Alhamdulillah, saya dapat ide saat itu untuk sedikit memberikan nasehat ke anak-anakku.

Kamarin malam saya kumpulkan mereka dan mulai dengan membaca surat tersebut beserta artinya. Kemudian saya pancing mereka dengan pertanyaan, “Apa bedanya dosa dan pahala?”.  Jawaban mereka beragam dan rata-rata benar meskipun versi anak-anak.

Saat memberikan ceramah, waktu seperti terbang ke masa lalu saya. Ketika saya masih SMA, kuliah, kerja hingga saat ini. Apakah saya sudah mengamalkan semua nasehat yang saya berikan ke anak-anakku? Rasanya belum. Ahh, betapa kasihan dan malu diri ini. Hikss 😦

Saya belajar tentang refleksi diri dari anak-anakku. Ketika kita akan mengubah perilaku seseorang, ubahlah perilaku diri sendiri. Berilah contoh yang baik, maka mereka akan juga melihatnya. Tentang bagaimana harus menjalani hidup yang sebenarnya. Tentang bagaimana memaknai rasa syukur. Tentang segala panggilan alam yang terkadang kita tak mendengarnya.

Tagline Indonesia Mengajar, “Satu tahun mengajar, seumur hidup menginspirasi” rasanya masih kurang tepat bagi saya. Mungkin yang tepat adalah,

“Satu tahun mengajar, seumur hidup menginspirasi dan terinspirasi”

Semoga!! 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Mengajar Ngaji = Refleksi Diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s