Bersama Mereka · Indonesia Mengajar · Inside Out

Janji Anak Sinorang

Hari pertama setelah PM VII kembali ke Jakarta (baca: purna tugas), Alhamdulillah saya sudah bisa dekat dengan anak-anak di Sinorang. Sudah mengaji dan monopoli bersama. Bermain & belajar seimbang lah ya. 😀 Bercanda kog. Kebetulan hari selasa besok jadwal masih bersih-bersih sekolah, jadi masih bisa main monopoli.

Dua minggu telah saya jalani di Sinorang. Ada satu hal yang bisa saya pelajari di sini hanya dalam waktu dua minggu. Pelajaran yang berharga,

Janji adalah hutang, maka tepatilah!!

Yak, pelajaran tersebut adalah tentang janji. Kalimat itu bagi sebagian orang hanyalah kiasan semata. Terkadang, saya masih juga melakukannya. Kita hanya berucap, tapi tidak menepatinya. Padahal itu merupakan janji kita, hutang kita. Hikks 😦 Anak-anak Sinorang mengajarkan saya untuk menepati janji-janji saya meskipun terkait hal sepele.

Kejadian pertama, saat pergantian malam baru, saya & PM VII berjanji akan mengadakan acara bersama anak-anak. Pukul 20.00, kami diundang oleh desa untuk hadir di acara penyambutan tahun baru di balai desa. Untuk menghargai undangan tersebut, kami datang. Sekitar pukul 23.15, kami kembali ke rumah. Apa yang terjadi? Anak-anak masih setia menunggu di depan rumah. Mereka menyambut kami dan bilang, “Ya, lama betul bu Tiwi dan Pak Andik, aku pikir kitorang tidak jadi acaranya”. Alhamdulillah, kami pamit terlebih dahulu di acara desa, yang paginya dapat cerita kalau acara selesai jam 4 pagi.

Kejadian kedua terjadi malam ini. Pukul 20.30, anak-anak datang ke kamar saya. Dengan serempak mereka bilang, “Ayoo, Pak Andik, Kitorang angkat buku dan bebersih perpustakaan”. Ha? Kenapa tidak ada hujan, tidak ada angin, bocah-bocah ini minta menata perpustakaan rumah. Saya jawab, “Besok saja gimana? Pak Andik mau mengerjakan sesuatu dulu”. Salah seorang murid saya, Lusi menjawab, “Kan kemarin malam, Pak Andik so bilang kalau malam ini menata buku, ini kenapa diundur besok lagi?”.

Deggg!! Oh iyakah? Saya lupa kalau saya malam sebelumnya sudah menjanjikan mereka untuk menata perpustakaan. Akhirnya saya tunda pekerjaan yang sedang proses dan menepati janji untuk menata perpustakaan yang ada disamping kamar saya.

Janji anak Sinorang adalah harga yang mahal. Apabila berjanji, siap-siap saja ditagih. Hal ini membuat saya mawas diri, bahwa memang kalau kita tidak sanggup untuk melakukan suatu hal, maka jangan berjanji. Semoga satu tahun ke depan, kemampuan mengukur diri semakin terasah, sehingga tidak ada lagi janji-janji palsu yang terucap. Aamin ya rabbal alamin.

Positifnya, saya semakin dekat dengan mereka. Sewaktu menata buku, kami menemukan peta dunia. Dari situ, saya kasih tebak-tebakan tentang benua, mencari sebuah negara, dan unsur-unsur peta. Belajar tidak selamanya di kelas. Saat menata buku saja, kita bisa belajar. Kami saling belajar. 🙂

image

Sebuah kata yang mudah diucapkan tapi susah dilaksanakan itu bernama JANJI.

NB: saya pernah berjanji untuk bermain bola bersama. Saya yakin ini akan ditagih mereka. Saya sudah siap meski tidak ada minat dan kemampuan bermain bola 😀 Ingat, Janji adalah Hutang, maka Tepatilah!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s