Indonesia Mengajar

Lingkaran “Gila”

Tanggal 22 September 2014, secara resmi saya menjadi Calon Pengajar Muda Angkatan IX. Saya sudah mantap untuk memilih jalan ini. Insya Allah.

Tak lama setelah itu, saya di-invite untuk bergabung di grup whatapps CPM IX. Teman saat Direct Assessment yang juga lolos dan sudah bergabung dengan grup ini bilang kalau grup ini ramai sekali. Ok, saya sudah siap dengan keramaian tersebut. Toh, grup sebelah juga ramai 😀

Begitu saya masuk di grup CPM IX, apa yang dikatakan oleh Retno benar adanya. Grup ini terlalu ramai. Ada saja yang dibahas, mulai dari bra, boxer, RPP, packing, ekonomi kreatif, tetek bengek barang yang harus dibawa, info harga barang dalam list pelatihan, Outcome Mapping, jodoh & pernikahan. Yang terakhir saya sebut, topik paling sering kita bahas. Hahaahaa 😀 Topik yang tak pernah absen.

Dari 52 Calon Pengajar Muda Angkatan IX, saya hanya pernah bertemu dengan 2 orang, Retno & Ruri, yang kebetulan satu Direct Assessment dengan saya.Tetapi anehnya, saya sudah merasa akrab dengan mereka. Saya tak pernah bertemu dengan mereka, tetapi rasanya sudah dekat sekali.

Jujur, setelah pengumuman resmi di website Indonesia Mengajar, saya langsung menelusuri ke-51 orang tersebut. Istilahnya sie kepo. 🙂 Saya langsung cek facebook dan twitter mereka. Tujuannya sie hanya ingin tahu latar belakang mereka. Maaf teman-teman, saya kepo. 🙂 Tapi ada yang jauh lebih kepo dari saya kog.

Dari hasil per-kepo-an, saya percaya ke-52 orang ini adalah orang gila. Mereka gila karena rela melepaskan pekerjaan yang sudah mapan demi menjadi seorang pengajar di pelosok negeri. Mereka gila karena rela meninggalkan keluarga demi belajar indahnya Indonesia. Mereka gila karena rela meninggalkan ramainya kota demi belajar sebuah kesederhanaan. Mereka gila karena rela keluar dari zona nyaman.

Saya bersyukur sekali berada di lingkaran “gila” ini. Mereka membawa sebuah energi baru yang positif buat saya. Semoga kami bisa memberikan kontribusi positif untuk negeri. Saya juga percaya banyak kumpulan orang-orang “gila” di luar sana yang juga berjuang untuk negeri ini dengan cara mereka masing-masing.

Akhirnya, saya kembali percaya bahwa zona nyaman itu adalah sebuah fase yang bisa dipelajari. Dulu saya juga tidak nyaman ketika pertama kali bekerja di Thiess Indonesia. Setelah beberapa bulan, saya menemukan zona nyaman tersebut. Setelah hampir 2 tahun, saya memutuskan keluar dari zona nyaman tersebut untuk mencari sebuah zona nyaman baru.

Semoga saya bisa menemukan zona nyaman yang baru selama satu tahun ke depan bersama sekumpulan kawanan “gila” ini. Aamin ya rabbal alamin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s