Sok Kritis

Dalam Kopaja 20

Saya kemarin bertemu dengan senior alumni SMA di salah satu mall Jakarta Selatan. Seperti biasa, transportasi andalan saya adalah kopaja baik untuk berangkat maupun pulang.

Oke, yang ingin saya tulis kali ini bukan pertemuan dengan senior saya. Tapi kejadian dalam kopaja 20 saat perjalanan pulang. Saya naik Kopaja 20 dari depan Gedung Cyber 2 menuju cilandak KKO. Sepanjang perjalanan, saya hitung ada 4 tipe pengamen yang bergantian mencari peruntungan di kopaja tersebut.

1. Preman

Pengamen tipe pertama yang mencoba mengais rezeki di kopaja tersebut. Tapi kalau saya bilang ini mah bukan pengamen. Tak ada nada yang dimainkan sama sekali. Dua orang pemuda dengan muka sok sangar melakukan monolog andalan mereka. Kemudian topi kebesaran ditodongkan ke penumpang. Dengan agak memaksa mereka meminta. Hasilnya, nihil. Tak ada satupun penumpang yang membagi rezeki ke mereka. Ya iyalah, hanya monolog tak berarti lantas meminta iba ke penumpang. Mana ada yang mau kasih.

2. Orang Tua

Setelah preman tersebut turun, tak ada 10 menit kopaja melaju, seorang bapak umur sekitar 50 tahun masuk kopaja dan melakukan sedikit pembukaan. Kemudian nadapun dimainkan dari alat yang sederhana, botol aqua yang diisi pasir. Bapak tersebut memainkan lagu ciptaannya sendiri. Setelah membawakan satu lagu, dia mengeluarakan kantong super dari bekas plastik permen. Ada beberapa yang mengisi kantong plastik tersebut. Bapak itupun turun dari kopaja.

3. Ibu dan Bayi

Di lampu merah perempatan Kuningan Timur, seorang ibu dengan membawa bayinya masuk kopaja. Dia juga melakukan sedikit menolog sambil membagi-bagikan amplop kosong kepada penumpang. Kemudian memainkan nada dan irama melalui kricikan yang terbuat dari bekas tutup minuman softdrink. Saya melihat anak yang dibawa tertidur pulas. Saya langsung ingat dengan reportase yang pernah ditayangkan salah satu program televisi tentang sindikit pengemis dan pengamen yang membawa bayi. Di reportase tersebut mengungkap bahwa bayi-bayi yang dibawa sebelumnya diberi obat tidur agar tidak rewel. Apakah bayi yang di kopaja ini juga diberi obat tidur? Entahlah.

Saya tak tahu tentang hasil dari mereka. Karena menggunakan amplop, jadi saya tidak bisa lihat seberapa banyak orang yang memberikan uangnya untuk mereka.

4. Anak-anak

Tipe terakhir masuk kopaja saat kopaja sampai di pertigaan Jati Padang. Dengan pakaian lusuh, bocah laki-laki sekitar umur 8 tahun naik. Hal yang sama dilakukan, monolog pembukaan. Setelah itu, dia mulai memainkan ukelele dan bernyanyi. Selesai satu buah lagu, dia mengeluarkan kantong bekas permen dan beredar mendekati penumpang satu persatu. Hasilnya lumayan banyak. Beberapa penumpang memberikan uangnya untuk anak ini.

 

Terlepas saya memberi uang atau tidak pada mereka, hal tersebut menunjukkan bahwa bangsa kita belum seutuhnya merdeka. Kesenjangan sosial masyarakatnya sangat terlihat sekali. Dalam kopaja ada 4 manusia yang bertahan hidup dengan kerasnya Jakarta, tapi di luar sana ada yang mampu membeli 2 mobil mewah dalam sehari. Gap antara kaya dan miskin semakin terlihat.

Lantas itu salah siapa? Ah,, bagai benang kusut kalau harus diungkapkan salah siapa. Yang jelas fakta berbicara demikian.

Jakarta memang menarik untuk diperhatikan. Baik itu tipe manusianya, sikap perilaku, pergerakan ekonomi, dan budayanya. Terbukti, dengan hanya naik kopaja saja, saya bisa bertemu langsung dengan 4 tipe pengamen. Bisa dibayangkan berapa kejadian dan pelajaran yang bisa diambil diluar sana. Jakarta itu keras, tapi dari kekerasan Jakartalah kita bisa belajar bertahan hidup. Jakarta juga mengajarkan saya pribadi untuk terus bersyukur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s