Sok Kritis

Musim Nikah

Bulan Oktober ini sudah mendarat dengan elegan 11 undangan nikah dari teman saya. Wah, saya berasa kebanjiran undangan. Awalnya lupa sie kenapa banyak sekali yang nikah di bulan Oktober. Baru ingat kalau bukan karena bulan Oktobernya, melainkan karena bulan Dzulhijjah.

Ya, kata orang-orang, ada istilah habis musim haji, terbitlah musim kawin. hehehee :)

Saya tidak mengerti kenapa bulan Dzulhijjah dianggap sebagai bulan terbaik untuk menikah. Padahal kalau menurut saya pribadi, semua bulan itu baik. Tidak ada bulan yang buruk apalagi untuk melangsungkan sebuah kegiatan penyempurna sebagian iman ini.

Mungkin bulan Dzulhijjah dianggap bulan besar karena ada haji dan Idul Qurban. Sehingga mereka yang melangsungkan pernikahan di bulan ini berharap memperoleh rezeki yang banyak, cepat mempunyai momongan, langgeng pernikahannya dan harapan-harapan baik lainnya.

Selain itu, Dzulhijjah menjadi pilihan karena memang sudah tradisi menikah di bulan ini. Sehingga hanya mengikuti tradisi yang sudah berlaku di masyarakat.

Kebalikan dari bulan Dzulhijjah, bulan Syawal merupakan bulan yang dianggap buruk untuk melangsungkan pernikahan pada saat zaman Rasulullah. Padahal, dalam Islam sebenarnya tidak ada larangan menikah di bulan tertentu. Ini dibuktikan oleh Rasulullah SAW yang menikahi Siti ‘Aisyah di bulan Syawal sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dari ‘Aisyah dia berkata:

Rasulullah SAW menikahiku pada bulan Syawal, dan menggauliku pada bulan Syawal, maka tidak ada di antara istri-istri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang lebih mendapatkan keberuntungan daripadaku” [1]

Jadi tidak ada bulan yang tidak baik. Insya Allah baik semua. Saya juga tidak menyalahkan orang-orang yang memilih bulan Dzulhijjah sebagai bulan pernikahan mereka. Selama mereka masih yakin hanya Allah-lah yang memberi petunjuk dalam penentuan bulan.

Bahkan, masih ada beberapa orang yang masih percaya dengan hitungan jawa. Tanggal pernikahan ditentukan dari weton atau tanggal lahir dari mempelai laki-laki dan perempuan. Bahkan sampai hari kematian kakek/nenek.

Tetangga saya gagal menikah karena setelah dihitung-hitung dengan hitungan jawa, pernikahan mereka akan lebih banyak mudharatnya. Kalau misal tetap dilaksanakan, akan ada yang celaka, pernikahan tidak akan langgeng, dan akibat buruk lainnya.

Jujur, pengetahuan Islam saya masih dangkal sekali. Tetapi kalau misal untuk hal tersebut rasanya tidak masuk akal. Apa hubungan tanggal lahir kita dengan tanggal kematian kakek/nenek. Saya tidak bisa membayangkan pasangan yang akan menikah tersebut. Sudah berharap disatukan dalam ikatan sah, gagal hanya karena hitungan jawa.

Sebagai muslim yang masih dianugerahi akal dan hati, alangkah baiknya kita untuk meninggalkan tradisi tersebut. Tidak perlu menunggu bulan Dzulhijjah maupun hitungan jawa. Tanggal dan bulan apapun silahkan dipilih. Insya Allah jika niat kita baik, maka Allah juga akan meridhoi jalan kita. Aamin ya rabbal alamin.

Sumber :

[1]http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/bulan-yg-baik-untuk-menikah-berdasarkan-islam.htm

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s