Sok Kritis · Sok Pinter

Televisi Versus Tumbuh Kembang Anak

Penelitian tentang dampak media terhadap anak sudah banyak sekali dipublikasikan. Mungkin jumlahnya ribuan di seluruh dunia. Dalam tulisan ini, media yang saya maksud adalah televisi.

Pada tahun sebelum 1980-an, televisi hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu saja. Di tahun 2014, hampir seluruh rumah mempunyai barang elektronik ini. Televisi menjadi benda wajib yang harus dimiliki oleh seseorang. Mungkin televisi menjadi kebutuhan primer kebanyakan keluarga. Bahkan dalam satu rumah mempunyai lebih dari satu televisi.

Dalam hal program yang disuguhkan-pun sangat berbeda dari sebelum tahun 1980-an dengan sekarang. Stasiun televisi disaat itu hanya TVRI. Program yang disuguhkan juga sangat mendidik, informatif dan bermanfaat. Di tahun 1989, muncullah televisi swasta pertama, RCTI di Jakarta. Kemudian ditahun-tahun berikutnya, bermunculan stasiun televisi swasta yang lain.

Tahun 2014 ada sekitar 12 lebih stasiun televisi yang mengudara di Indonesia. Perkembangan stasiun televisi di Indonesia bisa dilihat di grafik dibawah ini:

Televisi Versus Tumbuh Kembang Anak

(Source: http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_stas…)

Bagaimana dengan perkembangan program yang disuguhkan? Perkembangan jumlah stasiun televisi juga diikuti dengan perkembangan program yang juga bertambah variatif.

Lantas bagaimana soal kualitas? Inilah yang harus kita fokuskan sekarang. Program yang tayang di televisi sudah tidak melihat kualitas, melainkan hanya melihat sisi komersialnya saja. Ini sangat berdampak dengan perkembangan anak Indonesia.

Berdasarkan survey Nielsen Media Riset yang dilakukan pada tahun 2004, anak-anak di Indonesia menjadi penonton televisi terbanyak. Kalau misal dilihat di lapangan, penelitian tersebut bisa dikatakan valid. Itu artinya, program televisi sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak.

Melihat program televisi yang disuguhkan dewasa ini sangat mengkhawatirkan. Banyak sekali program yang tidak bermutu dihadirkan di televisi. Frekuensi program tersebut hampir setiap hari tayang. Program yang tidak bermutu tersebut sering kali menanyangkan unsur kekerasan, hinaan, dan seksualitas. Bahkan sudah menjadi sesuatu yang harus ditonjolkan dalam sebuah program.

Rating menjadi tolak ukur program tersebut berhasil atau tidak. Rating pemirsa televisi yang dilakukan oleh Nielsen Media Riset diukur dari prosentase jumlah penonton program tersebut dibagi jumlah penonton potensial. Sehingga rating ini tidak ada korelasinya sama sekali dengan kualitas program. Tidak peduli program seburuk apapun, asalkan para panel (sebutan responden untuk sampel data riset) banyak yang melihat, maka bisa dipastikan program tersebut memiliki rating yang tinggi. Dan sebaliknya, sebagus apapun program tersebut, apabila panel tidak banyak yang melihat, maka dipastikan program tersebut memiliki rating rendah.

Dan tebak yang memiliki rating tinggi? Program yang buruk atau program yang berkualitas? Program yang buruk mendapatkan hati oleh para panel. Stasiun televisi akan memproduksi program yang mendapatkan rating tertinggi. Dengan itu, iklan-pun akan berdatangan.

Apa efeknya terhadap anak? Dengan bermunculan program televisi yang penuh dengan unsur negatif tersebut bisa dikatakan sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.

Ambil saja contoh salah satu program, sinetron. Sekarang banyak sekali sinetron yang tayang di televisi Indonesia. Apakah bermanfaat? Jelas jawabannya, tidak! Banyak unsur tidak layak ditampilkan oleh tayangan tersebut. Kisah percintaan yang tidak bermutu selalu jadi bahan utama. Kemudian dibumbui dengan kekerasan dan ucapan-ucapan kotor dari mulut pemainnya.

Anak sudah diajarkan tentang percintaan murahan ala ABG SMA. Bahkan, anak umur 5 tahun sudah mengenal kata pacaran, putus, sakit hati, selingkuh, dan lain-lain. Ironis sekali. Dari tayangan tersebut juga sepertinya membentuk khayalan-khayalan palsu. Karena cerita yang dibuat juga cerita yang tak masuk akal sama sekali.

Kemudian, acara komedi. Sejatinya, komedi merupakan tontonan menghibur. Tetapi, sekarang ini, lawakan harus disertai adegan kekerasan untuk terlihat lucu. Sehingga lawakan tak ubahnya seperti ring tinju. Hanya berbeda properti saja. Selain itu, lawakan dengan hinaan juga dikeluarkan demi mendapat tawa penonton. Jelas, lawakan jenis ini tidak layak ditonton anak-anak.

Anak-anak akan meniru perilaku ini. Di Lampung ada laporan dari orang tua jika anaknya hampir buta karena menirukan adegan lempar tepung yang selalu dihadirkan oleh salah satu program lawakan.

Meskipun program tersebut sudah menulis, adegan jangan ditiru, tetapi namanya anak-anak tidak paham. Mereka hanya meniru apa yang mereka tonton.

Sepertinya kalau mengharapkan perubahan dari program yang disuguhkan oleh stasiun televisi hampir mustahil. Beberapa kali teguran disampaikan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), tetap saja program dengan konsep yang sama muncul kembali.

Lalu bagaimana untuk menghindarinya? American Academy of Pediatrics, sebuah organisasi berkumpulnya 62,000 dokter anak yang mempunyai komitmen untuk kesehatan fisik, mental dan sosial untuk semua anak-anak di dunia, memberikan rekomendasi terkait konsumsi televisi untuk anak, diantaranya:

  1. Pembatasan waktu menonton

Jumlah jam yang wajar bagi anak-anak untuk melihat televisi adalah 1-2 jam sehari. Pembatasan inisangat penting, sehingga anak mempunyai kegiatan lain yang lebih bermanfaat dan mengasah kreatifitas mereka. Contohnya, anak bisa diajak untuk membaca buku, bermain, menggambar, dan lain-lain. Pada saat makan, televisi harus dimatikan.

  1. Anak umur dibawah 2 tahun, hindari menonton televisi

Alangkah bijaksana apabila orang tua menjauhkan televisi dari anak yang belum genap dua tahun. Anak tersebut lebih baik diajak bermain seperti permainan tepuk tangan, bernyanyi, dan bercerita. Tujuannya untuk menumbuhkembangkan otak anak tesebut. Jangan justru berinteraksi dengan televisi, dimana sang anak belum mengerti nilai edukasinya.

  1. Awasi program yang ditonton dan dampingi mereka

Program televisi sangat beragam. Tugas orang tua adalah mengawasi apa yang anaknya tonton. Orang tua sebaiknya menyeleksi dan memblokir program-program yang tidak mendidik. Program yang mengandung kekerasan, seksualitas, perkataan kasar, dan buruk lainnya, seharusnya dihindari oleh orang tua. Selain itu, dampingi anak untuk menonton televisi. Kemudian, ajaklah diskusi dan kaitkanlah dengan keadaan sekitar. Sehingga anak akan mendapatkan pelajaran dari apa yang ditonton.

  1. Tidak meletakkan televisi di kamar tidur

Meletakkan televisi di kamar tidur anak sangatlah tidak disarankan. Anak akan semakin sulit dimonitor tontonannya dan pembatasan waktu menonton juga akan semakin sulit. Alangkah baiknya, televisi hanya diletakkan di ruang keluarga. Sehingga orang tua masih bisa memantau apa yang ditonton anak mereka.

  1. Batasi waktu Anda sendiri

Orang tua harus memberikan contoh yang baik untuk anaknya. Batasilah waktu Anda sendiri dalam menonton televisi. Jangan hanya membatasi waktu menonton anak, tapi batasilah diri sendiri juga.

  1. Kegiatan alternatif lain

Berilah kegiatan lain yang lebih bermanfaat daripada menonton televisi. Ajak anak untuk membaca majalah anak, berolahraga, bermain di luar rumah, membantu memasak, dan aktifitas lainnya. Selain melatih kreatifitas anak, gerak motorik anak juga semakin terlatih kerena tidak hanya duduk diam.

Sumber :

http://www.aap.org/en-us/about-the-aap/Pages/About-the-AAP.aspx

http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_stasiun_televisi_di_Indonesia

http://www.infospesial.net/29837/bocah-di-lampung-nyaris-buta-gara-gara-tiru-guyonan-lempar-tepung-di-tv/

http://kidshealth.org/parent/positive/family/tv_affects_child.html#

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s