Sok Kritis · Sok Pinter

Meniti Rumah Tangga Bernuansa Surga

Karena saya tak bisa tidur, saya iseng buka noted di facebook. Saya menemukan satu noted yang di tag ke saya. Noted itu dari teman SMA saya, Dewi Fatimah. Dewi merupakan patner saya belajar. Jujur saya baru buka noted tersebut. Ternyata noted tersebut berisi tulisan dia tentang pernikahan. Dia tulis itu disaat akan menikah. Bagus sekali.

Saya akan share tulisan teman saya di blog saya. Tulisannya sangat panjang tapi bermanfaat. Selamat membaca:

———————

Bismillah, dengan menyebut asma Allah, Rabb semesta alam. Sesungguhnya, milik-Nya lah pembedaharaan langit dan bumi. Tak ada sekecil pun benda yang ada di seluruh penjuru alam ini yang luput dari pengawasan-Nya. Jika Ia menghendaki sesuatu itu mudah, sungguh tidak akan ada yang bisa mempersulit, pun sebaliknya. Allahu Akbar!

Meniti Rumah Tangga Bernuansa Surga 1

Barangsiapa di antara kamu telah mampu menanggung beban nikah hendaknya ia menikah, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Dan barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu. (HR. Bukhari dan Muslim)

Melalui tulisan yang sederhana ini, kami ingin berbagi sedikit ilmu. Sebuah ilmu untuk menuju bahtera kecil, yang disebut rumah tangga. Sederhana saja, jika kita menginginkan rumah tangga yang baik, maka hendaknya kita mengawalinya dengan hal-hal yang baik pula. Baik yang dimaksud, bukan menurut sudut pandang manusia belaka, tapi menurut bagaimana syara memandangnya. Memang perjalanan rumah tangga kelak tidak selalu mulus, tapi cara ini merupakan salah satu bentuk ikhtiar kita. Hasilnya, tawakkal.

Kami yakin, di luar sana banyak muda-mudi menginginkan proses pra-nikah yang sesuai dengan tuntunan syariat. Namun entah karena tidak tahu, tidak mau tahu, atau sudah tahu tapi masih terkalahkan dengan hawa nafsu, akhirnya proses pra-nikah yang dijalani pun banyak terbumbui dengan hal-hal yang mengarah pada maksiat. Sehingga tak aneh, jika kita dengar istilah, pacaran islami atau yang penting kannggak ngapa-ngapain. Naudzubillah

Dalam Islam, tidak ada pacaran sebelum nikah, yang ada adalah khitbah atau dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan pinangan.

Mari kita contoh kehidupan di masa Rasulullah saw. dan para sahabat, sebaik-baiknya teladan untuk ummat ini. Tidak pernah kita jumpai dalam riwayat hadist, sekalipun itu dhoif/lemah, Rasulullah saw. atau para sahabat melalui proses pacaran sebelum mereka memasuki jenjang pernikahan. Tidak ada kata-kata romantis, tidak ada obrolan panjang kali lebar sepanjang siang atau malam, tidak ada sentuhan, apalagi acara nge-date berdua. Bahkan di zaman itu, proses pernikahan terkesan menjadi sangat mudah.

Kau wanita yang baik, kau sudah bersuami?, tanya Umar bin Khattab kepada seorang gadis yang bernama Zainab, putri seorang penjual susu. Kemudian, Ini anakku Ashim dan dia belum menikah. Aku ceritakan tentangmu dan ia tertarik. Kalau kau tertarik lihatlah ke arahnya, dan ia melihatmu. Kalau kalian setuju, aku akan menikahkan kalian berdua[1]. Subhanallah, begitu mudahnya para sahabat Nabi saw. menikahkan putra putri mereka. Zaman kita?

Yah, zaman kita dan zaman Nabi saw. selisihnya memang sangat jauh, hampir 15 abad. Ketaatan kepada syariat Islam semakin hari semakin luntur, dikalahkan oleh banyak hal yang bersifat duniawi. Terlebih lagi dengan maraknya acara televisi yang sebagian besar didominasi oleh acara-acara tak mendidik, salah satunya mengekspos pacaranisasi, yang seolah menjadi penyakit akut di tengah masyarakat kita. Naudzubillah.

Melalui buku yang kami sebut bingkisan ini, akan kami sampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan prosessyari menuju sebuah rumah tangga,Insya Allah. Sebelum dibahas lebih lanjut, perlu ditekankan bahwa rumah tangga bukanlah sebuah permainan. Memilih pasangan hidup bukan seperti memilih baju yang bisa dicoba-coba seenak kita. Awali dengan niat yang benar. Serius akan menikah demi menjaga kehormatan.

  1. Kenali Dia

Ketika sudah ada keinginan menikah, lelaki atau wanita akan mulai browsing dengan melalui banyak jalur. Ada yang melalui orang tua atau melalui MC (eMak Comblang), intinya minta dicarikan pasangan yang cocok atau mengajukan sejumlah nama yang sekiranya masih kosong. Tak jarang pula yang sudah siap dengan proposal yang isinya biodata diri, visi misi hidup, hingga foto. Tidak semuanya begitu sih, bagi yang sudah saling kenal, tidak seribet ini kok.

Istilah umum dari proses saling kenal ini disebut dengan ta’aruf, yang bermakna mengenal. Tujuan utamanya tentu untuk saling mengenal yang mengarah kepada pencarian titik kecocokan antara keduanya, karena memilih pasangan hidup bukan seperti seperti memilih kucing dalam karung. Alangkah baiknya sebelum proses ta’aruf dilakukan, keduanya telah saling mengetahui informasi secara umum tentang masing-masing pihak. Informasi ini bisa diperoleh dari proposal yang telah dibuat sebelumnya (jika ada) atau bertanya kepada beberapa orang yang dipercaya yang dianggap punya kedekatan dengan si target. Jika ta’aruf disepakati berlanjut untuk saling bertanya, maka bertanyalah dengan pertanyaan yang ahsan dan wajar. Tidak perlu bertanya, Mbak/ukhti, anti pake pasta gigi merek apa?, ujung-ujungnya, Wah, sama ya? Mungkin kita memang berjodoh. Duh, terlihat sekali modusnya.

Media pertanyaannya apa? Banyak. Bisa chatting, atau bertemu langsung dengan didampingi mahram atau orang yang bisa dipercaya.

  1. Ya Allah, Jika Dia Baik untuk Dunia dan Akhiratku, Maka Mantapkanlah

Jika proses perkenalan telah dirasa cukup, maka sudah saatnya kedua belah pihak membuat pertimbangan. Bagi lelaki, dilanjutkan untuk meminang ataukah tidak. Bagi wanita, jika dipinang, diterima atau tidak. Jika tidak dipinang? Yakinlah, Allah swt. hendak mempersiapkan yang lebih baik, Insya Allah.

Sholat, karena ia adalah media untuk menghubungkan kita dengan Allah swt. secara langsung. Ajak Allah swt. untuk mempertimbangkan, Ya Allah, jika dia baik untuk urusan dunia dan akhiratku, maka mantapkanlah hati hamba untuk memilihnya. Jika hati telah dirasa mantap untuk meminangnya, maka segeralah untuk menyampaikannya, barangkali ia sedang harap-harap cemas menunggu kata-kata berarti itu.

  1. Bismillah, Bersediakah Engkau Menjadi Pendamping Hidupku?

Tidak harus diucapkan dengan lisan. Bisa melalui tulisan, karena apa yang kita sampaikan melalui tulisan juga dihukumi sebagaimana lisan berucap[2]. Wah, lewat tulisan ya?Nggak gentle banget sih!Halah, tidak ada hubungannya. Berani meminang wanita dengansyari, itu jauh lebihgentle ketimbang menembak wanita untuk dijadikan pacar.

Tidak perlu dilamar di depan khalayak umum seperti di tivi-tivi. Tidak perlu menggelar acara makan malam romantis. Cukup dengan mengungkapkan beberapa kalimat. Waduh, pasti bakalandag dig dug kalau menyampaikan secara langsung. Ya, kalau begitu melalui SMS saja atau meminta bantuan orang lain untuk menyampaikannya, yang penting maksudnya sampai. Lebih bagus lagi kalau langsung tatap muka dengan orang tua/walinya.

Ukhti, Mbak, Dik atau sebut namanya langsung, Bismillah.. Setelah saya pertimbangkan selama beberapa waktu, maka dengan ini saya hendak bertanya langsung kepada anti, Apakah anti bersedia menjadi istri saya, pendamping hidup saya kelak?. Jawaban yang segera adalah yang saya sukai, namun jawaban yang disertai dengan pertimbangan yang matang adalah yang sangat saya harapkan. Maka dari itu, petimbangkanlah matang-matang, jangan terburu-buru. Mintalah pula pertimbangan kepadaRabb kita. Semoga keputusan yang akan anti sampaikan kepada saya adalah keputusan yang terbaik,Insya Allah.

Atur nafas sejenak Redakan detakan jantung yang terasa lebih cepat dari biasanya. Kembali lagi, Ya Allah, jika dia baik untuk urusan dunia dan akhiratku, maka hamba mohon, mantapkanlah hati hamba untuk menerima pinangannya. Jika kemantapan itu sudah didapat, segera sampaikan, jangan mencoba untuk menggantungnya, barangkali ia sedang harap-harap cemas menunggu jawaban itu.

  1. Sssstttt Rahasiakan ya

Proses khitbah bukan konsumsi publik, ia bukan untuk diumbar di setiap status update Facebook kita. Alhamdulillah, sudah ada ikhwan yang meminang. Insya Allah shalih atau Katanya makanan kesukaannya adalah soto. Jadi mulai belajar bikin soto nih, Berharap dialah yang terbaik, Ya Allah, jika memang dia baik untuk hamba, satukanlah kami Ya Allah, dan bla bla bla… Please, jangan lebay! Juga tidak perlu deh update In Relationship with atau Engaged with

Jangan sakit hati kepadaku. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah saw. menyatakan maksudnya menikahi Hafsah. Aku tidak ingin membuka rahasia beliau. Seandainya beliau tidak menyatakan maksudnya, maka aku pasti bersedia menikahinya, ungkapan maaf Abu Bakar as-Siddiq kepada Umar bin Khattab pasca pernikahan Hafsah dengan Rasulullah saw[3]. Sebelumnya, Sang ayah telah menawarkan Hafsah kepada Abu Bakar dan Ustman bin Affan. Abu Bakar tidak merespon, sedangkan Ustman belum berkeinginan untuk menikah lagi sepeninggal istrinya, Ruqayyah bintu Rasulullah saw.

Itulah sikap yang diambil oleh seorang lelaki yang bergelar as-Siddiq, manusia yang paling utama setelah para nabi dan rasul[4]: merahasiakan keinginan Rasulullah saw. untuk menikahi Hafsah. Padahal, Abu Bakar bisa saja mengatakan kepada Umar, Rasulullah saw. telah berkeinginan untuk menikahinya, demi tidak melihat Umar kecewa. Dari sinilah dapat kita simpulkan bahwa proses ta’aruf maupun khitbah hendaknya dirahasiakan dari khalayak umum[5]. Jika terjadi suatu perkara serius di kemudian hari yang mengakibatkan batalnya khitbah, maka keduanya akan lebih terjaga dari fitnah, Insya Allah.

Sekali lagi, rahasiakanlah kecuali kepada orang-orang yang dianggap perlu tahu, seperti orang tua atau kerabat dan teman dekat yang dapat dipercaya. 

  1. Ya Allah, Jika Dia Baik untuk Dunia dan Akhiratku, Maka Mudahkanlah

Kini, dia sudah menjadi calon istri/suami dan ini bukan berarti telah berhasil mengubah status keduanya. Dia tetaplah orang asing. Khitbah bukan suatu peristiwa yang memperbolehkan keduanya saling memanggil Yank atau Beib, apalagi malam mingguan. Perlu diketahui juga bahwa masa khitbah adalah masa yang bisa dikatakan sangat rawan. Rawan mendapat godaan setan. Tidak sedikit calon pasangan yang mendapat banyak ujian di masa ini. Berikhitar, berdoa, dengan rasa harap, takut dan cemas, Ya Allah, jika dia Engkau kehendaki baik untuk urusan dunia dan akhirat hamba, maka hamba memohon kepada-Mu, mudahkanlah kami untuk bisa segera menikah.

Bukan doa yang seakan-akan memaksa, Ya Allah, jadikanlah ia sebagai lelaki/wanita terakhir yang berlabuh di hati hamba. Jadikanlah ia jodoh hamba, yang akan mendampingi hidup hamba di dunia ini. Jika Engkau tidak menjodohkan kami di dunia ini, jodohkanlah kami di surgamu. Apalagi yang ini, Ya Allah, jika dia adalah jodoh hamba, maka mudahkanlah kami untuk segera menikah. Tapi jika dia bukan jodoh hamba, maka jodohkanlah kami.

Jika ternyata Allah berkehendak lain, kecewalah kita. Atau jika doa tersebut dikabulkan oleh Allah swt., dan ketika suatu hari Allah swt. berkehendak menunjukkan aib-aibnya di depan kita, rasa sakit dan kecewalah yang akan didapat, atau barangkali menyesal.Naudzubillah

Allah swt. yang paling mengerti pendamping hidup seperti apa yang cocok untuk masing-masing hamba-Nya. Memilih pendamping hidup itu ibarat memilih sepatu. Sebagus apapun sepatu itu, jika ukurannya tidak pas untuk kaki kita, kemudian kita paksakan untuk memakainya, lecetlah tumit atau ujung jemari kaki kita. Kita memang diperintahkan untuk mencari pendamping hidup yang baik, yang shalih. Usaha, doa dantawakkal hendaknya berjalan beriringan. Karena belum tentu yang baik menurut kita ternyata baik untuk kita.

Meniti Rumah Tangga Bernuansa Surga 2

Dan bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik untuk kalian dan bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik untuk kalian. Dan Allah mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui. (Surah al-Baqarah: 216)

  1. Biarkan Hati Kita yang Saling Bicara

Dalam masa khitbah, sangat tidak dianjurkan untuk melakukan banyak interaksi. Setan terus mengintai untuk mencari celah dimana keduanya bisa dipengaruhi untuk melakukan aktivitas yang mengarah kepada maksiat. Tahanlah rasa, meski ia meronta memenuhi rongga dada. Tahanlah tangan ketika ia ingin mengetikkan pesan, Sedang apa? atau Sudah makan? atau semisalnya. Tak perlu kirim pesan setiap hari, jika bukan untuk perkara syari. Tak perlu saling telepon jika bukan untuk membicarakan hal yang sangat penting, membicarakan teknis pernikahan contohnya. Biarkan hati yang saling bicara, karena hatilah yang lebih mengerti bahasa mereka.

Jika khawatir akan keadaannya disana, sebutlah ia di dalam doa, Ya Allah, Engkau lah yang memilikinya, jagalah ia dalam kebaikan, jagalah ia dalam ketaqwaan. Masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang shalih. Tawakkal.

Dikhawatirkan pula jika interaksi dilakukan secara intens, akan semakin menumbuhkan rasa cinta. Padahal belum tentu akan saling memiliki. Jika Allah swt. berkehendak lain, sudah pasti rasa sakit akan tersisa. Tidak salah rasa cinta itu ada, selama ditempatkan di tempat yang benar, bukan diumbar, bukan diobral. Serta jangan dibiarkan rasa cinta itu tumbuh semakin liar. Ada saatnya untuk semua itu, Insya Allah

  1. Bersiaplah

Menjemput pasangan hidup yang baik adalah dengan senantiasa memperbaiki diri, terutama kualitas agama. Ini bukan berarti memperbaiki diri karena dalam rangka menjemput pasangan hidup. Bukan. Kalau iya? Berarti perlu diperiksa kembali niatnya. Tapi menjadikannya sebagai motivasi untuk memperbaiki diri, Insya Allah tak masalah.

Bisa dikatakan pula bahwa masa ini adalah masa-masa latihan. Bagi lelaki, mulai menyiapkan banyak keperluan, seperti mahar dan tempat tinggal. Bekerja dengan pekerjaan yang halal. Tidak harus menjadi pegawai tetap, karena rizki dari Allah swt. tidak tergantung kepada tetap atau tidaknya pekerjaan. Tempat tinggal yang dimaksud juga tidak harus berupa rumah milik sendiri yang sudah siap huni: bisa tinggal bersama mertua, indekos, atau menjadi kontraktor (mengontrak rumah).

Bagi wanita, yang dulunya jarang menyalakan kompor di dapur, barangkali mulai mencoba-coba membuat beberapa menu masakan. Tidak harus enak dulu, karena hal itu butuh waktu yang tidak singkat. Setidaknya ketika sudah bersuami kelak, tidak takut ketika mau memasukkan tempe ke dalam minyak panas. Atau yang biasanya khawatir diompoli ketika gendong bayi, coba mulai ramah dengan anak saudara atau tetangga. Kalau diompoli kan tinggal ganti baju. Kalau nanti sudah punya anak, sehari bisa lebih dari 5 kali kena ompol si bayi.

Yang jelas untuk poin ini tidak ada syarat harus siap/mapan secara ekonomi, kita lihat kisah Ali bin Abi Thalib ketika menikahi Fathimah (semoga Allah swt. meridhoi keduanya). Rumahnya kosong tak ada perabotan sama sekali kecuali beberapa barang kecil yang diberikan Rasulullah saw. Mau nikah tak punya uang, hingga baju besi Ali dijual. Ketika sudah beristri, hidup pun serba kekurangan. Ketaqwaan kepada Allah lah yang membuat keduanya bertahan hingga Allah swt. memuliakan mereka berdua, dengan surga.

  1. Segerakan

Barang siapa yang dimudahkan baginya untuk menikah, kemudian ia tidak menikah, maka tidaklah ia termasuk golonganku[6], begitu diantara makna riwayat yang disebut diucapkan Nabi saw. sebagai peringatan bagi ummatnya.

Menikah merupakan suatu perkara yang hendaknya disegerakan, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Apalagi di zaman yang semakin banyak fitnah seperti ini; wanita pamer aurat disana-sini, acara televisi yang semakin tak karu-karuan, serta banyak media yang menyajikan hal-hal yang bisa memicu hasrat biologis pembaca, penonton, maupun pemirsanya. Belum lagi godaan dari iblis beserta bala tentaranya. Naudzubillah

Akan tetapi, proses pernikahan saat ini memang terkesan dipersulit oleh lingkungan. Tidak sedikit orang tua yang mematok kemapanan anak sebagai parameter kesiapan nikah. Belum lagi mitos serta adat daerah yang masih dipegang teguh oleh pihak keluarga. Namun sebagai orang beriman, tentu kita tak lantas menyerah karena rintangan-rintangan tersebut. Cukuplah itu dimaknai sebagai ujian yang hendaknya dihadapi dengan sabar. Sekali lagi, ikhtiar, doa, dantawakkal hendaknya berjalan beriringan.

  1. Belum Saatnya untuk Mengatakan Cinta

Barangkali, ada sebuah kata yang meledak-ledak dalam hati, Aku cinta padamu, Aku mencintaimu karena Allah. Tarik nafas cukup dalam. Sebesar apapun cinta itu terasa, sejujur apapun rasa itu ada, hendaknya diredam. Sekalipun cinta itu telah membuahkan rindu dan cemburu, namun belum saatnya ia diungkap apalagi dibiarkan liar begitu saja. Sungguh, tidak ada yang salah dengan cinta. Kita lah yang sering keliru mengelolanya, kitalah yang sering membiarkan diri ini terjatuh ke dalamnya, hingga akhirnya kita tenggelam.

Saat inilah, akan banyak ujian perasaan yang akan kita alami. Bisa jadi, tanpa kita minta sang calon sering terbayang-bayang siang dan malam. Ada baiknya, kita tak membiarkan hati terbuai dengan si dia. Redamlah. Belum tentu calon itu yang akan mendampingi kita. Sungguh, Rabb kita Maha Kuasa, kuasa-Nya sering di luar prediksi, bahkan nalar kita.

  1. Barakallahu Lakuma

Ketika aqad digelar, saat sang mempelai lelaki berhadapan dengan wali mempelai wanita, terjadilah sebuah perjanjian yang agung, mitsaqan ghalidza. Aqad yang hanya dengan ucapan Saya terima nikah dan kawinnya Fulanah binti Fulan dengan mas kawin telah berhasil mengubah status keduanya: dari orang asing menjadi sahabat terdekat, seolah tanpa sekat. Segala yang disebut aurat, kini boleh diperlihatkan. Perbuatan yang bila dilakukan sebelum nikah adalah zina, kini sudah bernilai ibadah. Subhanallah walhamdulillah, Allahu Akbar!

Meniti Rumah Tangga Bernuansa Surga 3

Mereka bertanya, Wahai Rasulullah apakah salah satu di antara kami melampiaskan syahwatnya akan mendapatkan pahala atasnya?. Rasulullah menjawab, Bagaimana pendapat kalian jika kalian dia meletakkannya pada yang haram, apakah dia terkena dosa atasnya? Maka demikianlah jika dia meletakkannya pada yang halal maka dia mendapatkan pahala. (H.R Muslim)

Kemudian, akan banyak bibir yang berdoa sebagaimana Rasulullah saw. mendoakan orang yang sudah menikah:

Meniti Rumah Tangga Bernuansa Surga 4

Semoga Allah memberi barakah kepadamu dan semoga Allah memberi barakah atasmu, dan semoga Ia menghimpun antara kalian berdua dalam kebaikan.[7]

Aqad dan walimah sederhana dengan mahar yang tak menyulitkan[8], semoga menjadi titik awal yang berkah untuk menuju rumah tangga yang berkah, sehingga keduanya memperoleh sakinah, mawaddah, dan rahmah, Insya Allah.

Kini saatnya keduanya beranjak ke peraduan yang sangat mendebarkan. Saatnya sang suami menyentuh ubun-ubun istri untuk pertama kali sambil berdoa:

Meniti Rumah Tangga Bernuansa Surga 5

Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikannya dan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya. Dan aku mohon perlindungan kepada-Mu dari kejelekannya dan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya. (H.R Abu Daud dan Ibnu Majah)

Shalat berjamaah, hanya berdua, untuk pertama kali dalam rangka memohon berkah untuk keluarga yang baru dibina. Seorang imam istimewa telah berdiri di depan seorang makmum yang tak kalah istimewanya.

Meniti Rumah Tangga Bernuansa Surga 6

Seorang lelaki yang bernama Abu Jarir mendatangi Abdullah (Abdullah bin Masud) kemudian berkata kepadanya, Aku telah menikahi seorang wanita muda dan perawan, tapi aku khawatir ia akan membenciku, maka Abdullah mengatakan, Sesungguhnya kerukunan itu dari Allah, sedang kebencian itu dari setan, ia (setan) ingin membuatmu benci dengan apa yang Allah halalkan bagimu. Jika kamu nanti menemuinya, maka suruh istrimu shalat dua rokaat dibelakangmu[9] (HR. Ibnu Abi Syaibah)

  1. Alhamdulillah, Saatnya Kuncup Cinta Itu Mekar Leluasa

Inilah saatnya, dimana benih dari rasa cinta itu mulai tumbuh, bersemi, berbunga, kemudian kuncupnya mekar dengan indah. Hari-hari ke depannya merupakan masa-masa perkenalan yang sebenarnya. Hari-hari berikutnya adalah masa PDKT yang indah, mendebarkan, dan berbuah pahala, Insya Allah. Bayangkan, kini tangan orang yang sebelumnya haram kita genggam, bisa kita genggam seerat-eratnya. Bola mata yang sebelumnya haram untuk kita tatap dengan dalam, kini bisa kita tatap sedalam-dalamnya. Rasa malu, bahagia, haru, jadi satu. Melebur, hingga sulit untuk diungkap, ditulis, digambar, maupun dilukis. Subhanallah

Disinilah, mulai terlihat adanya perbedaan antara pernikahan yang diawali dengan proses pacaran dan pernikahan yang diawali dengan proses syari. Adalah biasa saja menggenggam tangan bagi suami istri yang sebelumnya pacaran, pun ketika menghabiskan malam minggu dengan makan malam berdua. Yaa, karena sudah biasanya begitu. Akan tetapi, akan terasa sangat indah, bagi suami istri yang baru melakukannya pertama kali, setelah keduanya halal. Saat inilah, cinta tak hanya dibiarkan tumbuh begitu saja. Tapi ia juga dijaga, dirawat, disiram, dan dipupuk. Cinta juga perlu diusahakan. Bukan tumbuh dengan sendirinya.

Doa selanjutnya adalah, Ya Allah, berkahilah keluarga kami. Himpunlah kami dalam kebaikan, himpunlah kami dalam surga-Mu.

  1. Babak Baru Telah Dimulai

Dengan menikah, seorang lelaki yang ketika masih bujang bisa kemana-mana tanpa ada yang melarang, kini telah memiliki sebuah gelar baru, suami. Artinya, ia telah memikul sebuah tanggung jawab yang tak ringan, karena telah berani mengambil alih tanggung jawab atas anak orang lain, yang tentunya sangat berat dilepas oleh ayah dan ibunya. Tugasnya bukan hanya memenuhi kebutuhan sandang, papan, dan pangan, tapi juga berusaha menjadi sebab kebahagiaan keluarga.

Dengan menikah, seorang wanita telah menjadi tawanan orang lain, yakni sang suami. Posisi tawanan yang membuatnya menjadi lemah. Bagaimana tidak? Ia diwajibkan taat kepada suaminya[10]. Haram baginya keluar rumah tanpa seizin suami[11], haram pula baginya memasukkan orang lain ke dalam rumahnya tanpa seizin suami, bahkan untuk berpuasa sunnah pun harus dengan seizin suami[12]. Jika sebelumnya surga ada di bawah telapak kaki ibu, kini surganya adalah ridho sang suami[13].

Bahkan, jika ia menyakiti hati suami[14], maka para bidadari yang berada di surga mendoakan keburukan untuknya.

Meniti Rumah Tangga Bernuansa Surga 7

Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia, kecuali istri suami tersebut yang berasal dari kaum bidadari akan berkata, Jangan sakiti dia! Semoga Allah mencelakakanmu, sebab dia berada bersamamu hanya seperti orang asing yang akan meninggalkanmu untuk menemui kami. (HR. Imam Ahmad)

  1. Menghadirkan Nuansa Surga dalam Rumah Tangga

Ini bukan menghadirkan suasana surga secara fisik sebagaimana yang tergambar dalam al-Quran maupun al-Hadist. Bagaimana mungkin, wong kenikmatan surga level paling rendah saja ibarat sepuluh kali dunia dan seisinya. Menghadirkan nuansa surga disini lebih cenderung pada suasana ruhiyahnya. Semoga dengan menghadirkan nuansa surga dalam kehidupan rumah tangga dapat membawa kita menuju surga yang sesungguhnya.

  1. Misinya Menjadi Istri Shalehah – Sebaik-baik perhiasan dunia

Meniti Rumah Tangga Bernuansa Surga 8

Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalehah. (HR. Muslim)

Begitulah yang disabdakan Nabi saw. Wanita memang indah bak perhiasan. Sementara dunia ini penuh dengan perhiasan. Jika seorang wanita menjadi shalihah, maka ia akan menjadi perhiasan dunia yang paling indah. Jika ia menjadi seorang istri, maka ia akan menjadi istri yang senantiasa menyenangkan dan menenangkan suami.

Meniti Rumah Tangga Bernuansa Surga 9

Wanita sholehah adalah jika ia dipandang maka menyenangkannya (suami), dan jika ia diperintah maka ia menaatinya (suami), dan jika ditinggal maka ia menjaganya (harta suami). (HR. Abu Daud)

Meniti Rumah Tangga Bernuansa Surga 10

Maka perempuan-perempuan yang shaleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka)(Surah An-Nisaa:34)

Istri bak sayap kiri bagi suami. Ia ikut andil dalam menentukan kemana sang suami akan melangkah. Di balik lelaki hebat, pasti ada wanita hebat yang menyertainya. Bagi lelaki yang sudah beristri, siapa lagi jika bukan istrinya? Pasti telah sampai kepada kita, kisah bagaimana totalitas Khadijah r.a dalam mendukung aktivitas Rasulullah saw. Khadijah membenarkan Rasulullah saw. ketika semua orang mendustakannya. Khadijah menyerahkan seluruh harta untuk Rasulullah saw ketika semua orang kikir kepadanya. Hingga Allah swt. menitipkan salam untuk Khadijah r.a melalui malaikat Jibril dan menjadikannya sebagai sebaik-baik wanita penghuni surga. Subhanallaah!

Bukankah telah sampai pula kepada kita kisah Abu Lahab serta Ummu Jamil? Ya, nasib suami istri di akhirat ini telah dibeberkan oleh Allah swt. dalam Al-Quran, Surah Al-Lahab. Pasangan suami istri ini akan dimasukkan ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Mengapa? Karena keduanya telah bersekongkol untuk terus memusuhi Rasulullah saw hingga akhir hayat mereka. Naudzubillah 

  1. Menjadi Suami ala Nabi saw: Bersikap baik Kepada Keluarga

Berat memang. Namun, beliau-lah tipe suami yang paling ideal sepanjang zaman. Beliau-lah yang paling baik sikapnya kepada keluarga, sebagaimana yang telah beliau saw sabdakan:

Meniti Rumah Tangga Bernuansa Surga 11

Sebaik-baik kalian adalah yang berbuat baik kepada keluarganya. Sedangkan aku adalah orang yang paling berbuat baik pada keluargaku. (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)[15]

Meniti Rumah Tangga Bernuansa Surga 12

Dan bergaulah dengan mereka dengan cara yang ma’ruf. (Surah An-Nisaa: 19)

Mengenai firman Allah di atas, Ibnu Katsir rahimahullah berkata, Berkatalah yang baik kepada istri kalian, perbaguslah amalan dan tingkah laku kalian kepada istri. Berbuat baiklah sebagaimana engkau suka jika istri kalian bertingkah laku demikian. Allahu Akbar!

  1. Ketika salah Suamiku, Mataku Tak Bisa Terpejam Hingga Engkau Ridha

Khilaf maupun salah adalah sangat wajar terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Tiada satu pun rumah tangga di kolong langit ini yang tak pernah dirundung masalah. Entah kecil atau besar. Nabi saw. telah mengabarkan salah satu ciri wanita ahli surga:

Meniti Rumah Tangga Bernuansa Surga 13

Wanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah, atau diperlakukan buruk, atau suaminya marah kepadanya, ia berkata: Ini tanganku di atas tanganmu,mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha. (HR Ath Thabarani)

Subhaanallaah Atur emosi

Semoga Allah swt. mengizinkan kita untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang shalih.


Sesungguhnya, masih sangat banyak contoh kehidupan rumah tangga di masa Nabi saw. yang dapat kita petik pelajaran darinya. Akan tetapi, kedangkalan ilmu penulis lah yang menghalangi kisah-kisah emas itu terpapar disini. Afwan jiddan Mohon maaf sangat

Semoga ilmu yang sangat sedikit ini dapat memberi manfaat bagi siapapun yang diizinkan Allah swt. untuk membacanya.

Akhirnya, kami mohon doa dari segenap saudara dan saudari semua, semoga keluarga yang baru kami bina ini dapat memujudkan rumah tangga bernuansakan surga Semoga Allah swt. berkenan menghimpun kita semua di satu tempat yang menjadi dambaan seluruh manusia: surga!

Meniti Rumah Tangga Bernuansa Surga 14

Wahai Rabb kami, karuniakanlah kepada kami dari pasangan-pasangan hidup kami dan anak keturunan kami penyejuk hati dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. (Surah Al-Furqan: 74)

Wallahu alam

Yang berbahagia dan semoga senantiasa memperoleh bahagia,

Dewi Fathimah & Harry Anugerah Pradana

Bojonegoro, 20 April 2014

———————

Catatan Kaki:

[1] Diadaptasi dari film Umar. Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Nuaim Al-Ashfahani dalam kitab Hilyatu Al-Auliya Wa Thobaqotu Al-Ashfiya

[2] Sebagaimana Rasulullah SAW yang berdakwah melalui tulisan, yakni surat kepada Heraclius, Penguasa Romawi. Peristiwa ini terdapat dalam riwayat Shohih Bukhari.

[3] Diriwayatkan oleh Bukhari.

[4] Diriwayatkan Abdurrahman bin Humaid dalam Musnadnya, Abu Nuaim dalam Al-Hilyah, dan At-Thobaroni

[5] Ibnu Batthol ketika mensyarahi riwayat tentang pernikahan Rasulullah saw dengan Hafshoh juga menegaskan bahwa penyebutan wanita dengan maksud dipinang termasuk rahasia yang tidak boleh disebar-sebarkan. At-Thobaroni juga meriwayatkan bahwa menyembunyikan perkara yang bersifat nikmat akan membantu keberhasilan rencana melaksanakan perkara nikmat tersebut.

Meniti Rumah Tangga Bernuansa Surga 16

Dari Muadz bin Jabal beliau berkata: Rasulullah saw. bersabda: Untuk membantu keberhasilan pelaksanaan hajat-hajat kalian lakukan penyembunyian, karena setiap orang yang mendapatkan nikmat itu ada yang dengki (H.R.At-Thobaroni)

Nabi Yaqub juga melarang putranya Yusuf menceritakan nikmat mimpi besarnya karena khawatir saudara-saudaranya menjadi dengki.

[6] HR. Thabrani & Baihaqi. Ibnu Hajar sebagaimana dinukil oleh Muhammad Abdurrahman Al-Mubarokfuri dalam kitabnya Tuhfatu Al-Ahwadzi mengatakan bahwa riwayat-riwayat yang maknanya seperti ini tidak lepas dari kelemahan. Riwayat yang paling shahih adalah hadis yang menganjurkan para pemuda agar menikah jika sudah mampu menanggung beban pernikahan.

[7] Hadist ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, At Tirmidzi, Said Ibnu Mansur, dan Abu Ali Ath Thusi. Hadist ini dinilai shahih oleh Al-Hakim. Adz Dzahabi menyepakatinya. Albani juga berpendapat sama.

Meniti Rumah Tangga Bernuansa Surga 17

Sesungguhnya diantara tanda keberkahan seorang wanita adalah jika mudah pinangannya, mudah maharnya, dan mudah rahimnya (subur) (HR. Ahmad)

[9] Sanadnya Shahih menurut keterangan Al-Albani dalam kitabnya: Adab Az-Zifaf

Meniti Rumah Tangga Bernuansa Surga 18

Jika seorang suami mengajak istrinya ke kasurnya, kemudian ia (istri) menolak, kemudian ia (suami) bermalam dalam keadaan marah kepadanya, para malaikat melaknatnya hingga ia memasuki waktu subuh. (HR. Bukhari)

Akan tetapi, tidak ada ketaatan untuk bermaksiat kepada Allah:

Meniti Rumah Tangga Bernuansa Surga 19

Tidak ada kewajiban taat jika diperintahkan untuk durhaka kepada Allah. Kewajiban taat hanya ada dalam kebajikan. (HR. Ahmad, sanadnya shahih menurut al-Arnauth)

[11] Tempat asal seorang wanita adalah berada di dalam rumah:

Meniti Rumah Tangga Bernuansa Surga 20

Dan tinggal-lah kalian (para wanita) di rumah-rumah kalian (Surah Al-Ahzab:33)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, Ayat ini menunjukkan bahwa wanita tidak boleh keluar rumah kecuali ada kebutuhan.

Meniti Rumah Tangga Bernuansa Surga 21

Tidak halal bagi seorang isteri untuk berpuasa (sunnah), sementara suaminya ada kecuali dengan izinnya. Dan tidak halal memberi izin (kepada orang lain untuk masuk) ke rumahnya kecuali dengan izinnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

[13] Diriwayatkan oleh Ahmad dll

[14] Dengan syarat suaminya adalah orang yang shalih. Karena surga hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih.

[15] Hadist ini shahih menurut Syaikh Al Albani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s