Inside Out

Review : Selamat Pagi, Malam

Review-Selamat Pagi, Malam

Satu lagi film yang berbicara tentang Jakarta hadir di tengah masyarakat. Kali ini film garapan dari sutradara muda, Lucky Kuswandi. Judulnya unik, “Selamat Pagi, Malam” atau judul inggrisnya “In The Absence of The Sun“.

Film ini sebenarnya sudah rilis lama, sekitar bulan Juni. Waktu itu saya belum sempat menontonnya karena berada di pedalaman Kalimantan. Maklum, anak tambang coyyy. :D Alhamdulillah, baru-baru ini ada festival film yang memutar film ini kembali. Tanpa berpikir panjang, saya langsung berangkat bersama teman saya yang juga belum menonton film ini.

Berlatar belakang Jakarta saat malam, Lucky membawa cerita tiga wanita dengan kisahnya masing-masing. Ada Indri (Ina Panggabean), seorang penjaga handuk di sebuah gym ternama di Jakarta. Wanita dengan status kelas menengah bawah yang mencoba untuk mencicipi kaum kelas atas di Jakarta. Kesempatan emas itu datang disaat ada seorang laki-laki yang dikenalnya lewat chatting mengajak kopi darat di sebuah restoran mewah yang menjual menu berbau kebarat-baratan. Indri berusaha tampil selayaknya kaum kelas atas dengan mencuri sepatu member gym tempat dia bekerja.

Wanita kedua adalah Gia (Adinia Rasti), yang baru saja kembali dari Amerika. Begitu melihat Jakarta, dia begitu kaget. Jakarta sudah tak seperti dulu saat ditinggalkannya sebelum ke Amerika. Jakarta berubah menjadi sok kebarat-baratan, baik orangnya maupun gaya hidupnya. Orang lebih tunduk dengansmartphone mereka. Lebih kaget lagi, ketika Naomi (Marisa Anita), pasangan lesbiannya di Amerika juga ikut berubah. Naomi sudah tidak seperti yang Gia kenal. Jakarta telah merubahnya.

Wanita terakhir, Cik Surya (Dayu Wijanto), wanita yang rela tak dikenal nama aslinya. Begitu setia dengan suaminya. Disaat suami telah meninggal dia baru tahu kalau selama ini telah diselingkuhi oleh suaminya dengan biduan kelas bawah. Dia memutuskan untuk keluar dari istana megahnya. Berpetualang mencari Sofia, selingkuhan suaminya. Hingga dia bertemu dengan suami dari Sofia di tempat hiburan tempat Sofia manggung.

Lucky menggandeng artis yang aktingnya juga sangat mendukung untuk membuat film ini berkualitas. Ada Adinia Rasti yang tak perlu diragukan kemampuannya. Kemudian Dayu Wijanto, dengan dialog sangat sedikit, dia mampu membuat karakter Cik Surya begitu hidup. Disusul Ina Panggabean yang aktingnya cukup mengimbangi dengan artis lainnya. Terakhir, artis pendatang baru, yang juga seorang news anchor, Marisa Anita, mampu berperan apik di film ini. Meskipun saya bilang belum bisa luwes, tapi untuk pendatang baru, saya acungi jempol.

Film yang berbiaya minim ini tak seminim ceritanya. Cerita yang dihadirkan oleh Lucky sungguhlah bagus, sindiran untuk Jakarta dan warganya yang semakin bertingkah konyol. Lucky mengajak kita untuk menertawai diri kita sendiri. Selama ini kita terkungkung dengan cap kebarat-baratan dan diperbudak olehsmartphone. Lucky membungkus film ini menjadi cerita yang tak basi dan tak terkesan seperti iklan layanan masyarakat yang terlalu berat. Film ini berbicara jujur dan apa adanya. Tapi justru karena itulah film ini berkualitas.

Jakarta dibungkus dengan sangat polos. Saya seperti melihat Jakarta yang saya lihat di kehidupan nyata tanpa ada tipuan kamera. Karakter dalam film juga dibuat sederhana. Tidak berlebih. Dialog-dialog yang keluar dari mulut tokoh juga ringan. Banyak dialog yang lucu, sedikit menyindir dan nakal. Banyak adegan-adegan juga sangat menyindir masyarakat Ibukota ini. Ada adegan, ketika makan direstoran mewah, hidangannya difoto dan dipajang di media sosial, kemudian ada adegan foto bersama dengan tongsis, dan masih banyak yang lainnya. Dari film ini juga, saya tahu kenapa ada penjual tas-tas barangbranded di jembatan penyebrangan. :D

Film ini adalah sebagian dari kisah hitam Jakarta. Tapi ini realita dan ada di sekitar kita. Film ini mengingatkan saya, betapapun saya benci kota ini, kota ini membuat saya bertahan dalam hidup. Satu lagi, kita selalu mengeluh tentang buruknya Jakarta, tapi toh tetap bertahan di kota ini. Bukankah itu sebuah kebodohan? Kalau tak tahan, pergi. Kalau tak mau pergi, jangan mengeluh. Kalau mau berubah, lakukan sesuatu. It’s simple.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s