Inside Out

Untuk Abah

untuk abahSemalam saya masih sibuk berbenah-benah untuk pulang ke kampung halaman. Aktifitas dimana kita dipastikan akan terlempar jauh dari masa lalu saat memegang benda-benda yang penuh makna.

Tangan saya malam itu memegang sebuah benda pemberian dari salah satu guru terbaik di SMA dulu. Namanya pak Zainal. Setelah lulus, kami terbiasa memanggil beliau dengan abah. Sekitar 2 minggu yang lalu, tepatnya 12 September 2014, beliau meninggal dunia karena sakit. Innalillahi wa inna illahi roji’un.

Saya membuat sebuah puisi untuk abah. Saya kenal sastra juga karena abah. Puisi untuk abah…

 

Abah,

Begitu kami memanggilnya

Seorang yang penuh dengan mimpi

Seorang yang penuh dengan imajinasi

Idealis adalah cerminan dirinya

Visioner adalah kembaran darinya

Dengan diam penuh wibawa

Dengan canda penuh karisma

Kesetiaannya tak perlu diragukan

Dia bertahan dari awal sampai akhir di satu tempat

Membentuk bibit-bibit yang berkualitas

Membangun karya yang terus abadi

Abah,

Semoga kau tenang di sana

Semangatmu tidak akan pernah kita lupa

Senyumanmu akan terkenang selamanya

Kami bangga mengenal abah


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s