Inside Out

Jakarta, Kota Ilusi

Dulu saya tak pernah berpikir akan mencari rezeki di Jakarta. Saya ingat sekali, pertama kali saya ke Jakarta, saat masih berusia 5 tahun. Setelah itu, saya tak pernah lagi berkunjung ke kota ini. Bagi saya tak ada yang menarik dari kota ini.

Uanglah yang membuat saya harus ke sini. Lulus kuliah, saya berkunjung ke Jakarta yang selama ini hanya saya lihat di kotak persegi berukuran 32″ atau ceritanya sering saya baca di surat harian kabar.

Banyak yang bilang, Jakarta kejam. Ah, masa iya? Buktinya setiap tahun makin banyak yang datang ke Jakarta. Yakin Jakarta kejam?

Banyak yang bilang, Jakarta macet. Siapa coba penyebab macet kalau bukan kalian sendiri yang selalu mengeluh.

Tidak butuh lama untuk saya paham tentang Jakarta. Saya bukannya sok jago berbicara tentang kota ini. Saya mencoba berbicara dari pandangan saya pribadi. Ingin setuju silahkan, tak setuju juga tidak masalah.

Saya tidak tahu Jakarta dulu. Yang saya ketahui hanya Jakarta sekarang. Kota penuh dengan sejuta mimpi. Kota dikala pagi begitu padat dengan eksistensi diri. Menjelang malam berevolusi menjadi sebuah prostitusi.

Tak usah tutup mata dengan hitamnya Jakarta. Kota ini akan lebih jujur dikala malam hari. Manusia dengan segala penjuru melepas topeng mereka. Bergumul menjadi satu dalam riuhnya gemerlapnya lampu.

Apakah Jakarta punya sisi putih? Jelas, punya. Tapi entah bersembunyi di mana.

Jakarta, kota ilusi

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s