Indonesia Mengajar

Journey of Indonesia Mengajar (Part III)

Hi guys,,

Semoga sehat semua yak. Aamin 🙂

Rabu, 10 September, saya mendapatkan email dari panitia rekrutmen Indonesia Mengajar. Email tersebut menginformasikan bahwa saya telah lolos tahap Direct Assessment dan lanjut ke tahap selanjutnya, yakni Medical Check Up (MCU). Seharusnya, ini adalah salah satu email terbahagia dalam hidup saya. Jujur, saya senang sekali lolos ke tahap selanjutnya. Tapi, ada masalah besar yang menghadang. Orang tua saya masih belum setuju dengan keikutsertaan dalam seleksi Indonesia Mengajar.

Setelah mendapatkan email dari IM, malamnya saya langsung menelfon orang tua. Malam itu adalah malam dimana saya benar-benar berbicara dewasa dengan Bapak & Ibu.Saya utarakan semua mimpi saya. Saya sampaikan tujuan saya bergabung dengan Indonesia Mengajar. Mereka tetap menolak dan tidak setuju.

Saya sangat mengerti alasan mereka apa. Pekerjaan.Ya, mereka tidak rela apabila saya harus meninggalkan pekerjaan saya saat ini yang mereka anggap sudah mapan. Bukankah rezeki, jodoh dan maut sudah ada yang mengatur??

Saya beranikan ambil resiko. Saya tetap mengikuti MCU sembari saya terus membujuk untuk mendapatkan persetujuan mereka. Saya melakukan MCU di Medika Plaza Medical Center di tanggal 13 September 2014.

Apa saja yang dites? Seperti MCU pada umumnya. Tes darah, urine, kesehatan umum, mata, telinga, jantung, dan paru-paru. Begitu juga dengan prosedurnya, diminta puasa 8 jam sebelum tes.

Tipsnya, jangan begadang ketika akan MCU, banyak minum air putih. Selama kamu sehat sie ya santai-santai saja.

Oh ya, lanjut cerita bujuk membujuk ortunya 🙂

Setiap setelah sholat subuh, saya telfon Ibu.Saya ngajak ngobrol tentang apapun. Ujungnya, minta restu dan hasilnya selalu dijawab, Itu lagi, itu lagi. Saya tak pantang menyerah. Alhamdulillah teman, akhirnya orang tua saya memberikan restu untuk bergabung di Indonesia Mengajar.

Disuatu sore yang indah, telfon saya berdering. Tertulis di layar handphone, Bapak. Saya angkat dan suara diseberang sana bukan suara Bapak, melainkan suara Ibu. Beliau bilang, Insya Allah Ibu sudah restu untuk saya ikut Indonesia Mengajar. Itu rasanya hati langsung adem banget. Terima kasih, ya Allah.

Meskipun hasil seleksi belum muncul, setidaknya saya sudah mendapatkan restu dari orang tua. Karena saya selalu percaya, restu orang tua adalah restu Allah. Bismillah. Semoga diperlancar hingga menuju akhir. Aamin ya rabbal alamin.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s