Indonesia Mengajar

Journey of Indonesia Mengajar (Part II)

Salam hangat, teman semua 🙂

Saya akan melanjutkan cerita tentang perjalanan bergabung menjadi Pengajar Muda. Bagi yang belum membaca Part I-nya bisa cek disini. Kali ini tulisan saya adalah cerita tentang seleksi di tahap II yakni Direct Assessment (DA) yang telah saya ikuti beberapa hari yang lalu. Oke, langsung saja..

Selasa, 24 Juni kemarin menjadi salah satu hari yang menyenangkan dan sekaligus hari yang melelahkan. Saya mengikuti tahapan selanjutnya dari Gerakan Indonesia Mengajar. Tes ini diselenggarakan di gedung PPG Lidah, Universitas Negeri Surabaya. Pukul 07:00 saya sudah sampai di lokasi diantar oleh teman saya yang kebetulan alumnus SM3T. Sepertinya saya datang terlalu pagi, karena belum ada peserta yang muncul. Panitia juga belum ada. hehehee 😀 Sekitar 15 menit menunggu, satu per satu kandidat berdatangan. Tanpa ada rasa canggung, kita langsung mengobrol akrab. Ada 18 orang kandidat yang datang saat seleksi tahap DA ini.

Pukul 08:00, tes dimulai dan dibuka dengan penjelasan Gerakan Indonesia Mengajar, kemudian penjelasan sistem seleksi DA. Kami akan dibagi menjadi tiga kelompok di mana masing-masing kelompok berjumlah 5-7 orang. Dan nanti dari awal sampai akhir tes, kelompok tersebut akan bersama-sama, tidak berubah.

Saya ditempatkan di kelompok 3 yang terdiri dari 6 orang. Ada 5 rangkaian tes yang akan kita jalani, yakni self presentation, Psikotest, Focus Group Discussion,micro teaching / simulasi mengajar dan interview. Susunannya tidak urut. Masing-masing kelompok berbeda-beda. Ada yang dapat psikotest dulu, ada yang dapat interview di urutan pertama, dan seterusnya hingga kelima tes ini selesai dijalani semua. Karena ini adalah blog saya, maka urutan yang saya sebutkan tadi adalah urutan tes kelompok saya.

Kelima rangkaian tes Direct Assessment (DA):

1. Self Presentation

Ini adalah tes tahapan pertama yang kami hadapi. Sesuai namanya, tes ini bertujuan untuk mengenalkan diri kita sendiri. Ada dua Assessor yang bertugas menilai kami. Ditahap ini kami mempresentasikan diri kami. Kami diberi kesempatan selama 7 menit untuk “menjual” diri kami masing-masing. Giliran orang pertama yang presentasi terserah kami, siapa yang ingin duluan dipersilahkan. Untuk orang selanjutnya, akan ditunjuk oleh peserta yang baru selesai presentasi.

Miftahussuri menawarkan diri untuk giliran pertama. Sebenarnya sie ingin jadi yang pertama. Alasannya sederhana, ingin cepat selesai dan hati rasanya plong. Tapi sabar aja dulu, ingin cek kemampuan peserta lain. It’s a part of strategic. hehee 🙂 Setelah Sururi selesai presentasi, kami satu per satu maju untuk presentasi. Saya dapat giliran nomer 4. Semua aktivitas yang kami lakukan disitu diperhatikan oleh dua Assessor yang sembari tadi kerjaannya hanya duduk & tanya-tanya. Kepo sekali dua Assessor ini *kemudian dilempar sandal* hahaha 😀

Saya ada sedikit tips buat ditahap ini, berusahalah untuk memperkenalkan diri secukupnya saja. Waktunya sangat singkat, hanya 7 menit, itu sudah termasuk tanya jawab. Jadi kalau menurut saya, gunakanlah 4 menit untuk “menjual” diri, sisanya biarlah teman atau Assessor yang gali dirimu. Jadi, kamu tidak perlu sampaikan semua prestasimu dari A-Z, hanya prestasi yang menurutmu paling berkesan dan berdampak pada orang lain. Buatlah 7 menit itu berinteraksi. Karena Assessor tersebut tidak hanya menilai tentang diri kita, tetapi juga ada penilaian lain apabila kamu mampu berinteraksi dengan yang lain.

Satu lagi, disaat temanmu presentasi, kamu harus aktif bertanya tentang dia. Bertanyalah sesuatu yang umum dan belum dijelaskan oleh dia. Misalnya menanyakan tentang hobinya, alasan ikut Indonesia Mengajar, apa pekerjaan dia sekarang, dan lain-lain. Intinya kalian harus bisa berkomunikasi dengan baik. Karena itu yang menjadi poin penilaian dua Assessor yang hanya diam *dilempar batu* 😀

2. Psikotest

Setelah semua selesai presentasi, dua Assessor tersebut meninggalkan kami. Tidak lama berselang datanglah satu mba’ cantik. Tes selanjutnya adalah psikotest. Saya membayangkan bakalan ada tes numerik, tes koran (yang membuat mata keder), kemampuan analisa, dan lain-lain. Maklum lah ya, sudah sering ikutan psikotest, jadi lumayan hafal.

Wuallaaa,, ternyata psikotest ini hanya terdiri dari dua bagian, tes kepribadian dan tes gambar. Pertama, tes kepribadian. Di sini kita memilih satu jawaban dari dua jawaban yang paling menggambarkan diri kita. Ada 90 pertanyaan yang harus kita pilih. Tips-nya sie kita harus jujur pada diri sendiri mana yang menggambarkan diri kita. Karena dua jawaban tersebut tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Waktu untuk mengerjakan tes ini sekitar 10 -15 menit.

Untuk bagian kedua, tes gambar. Kita diminta untuk menggambar tiga jenis gambar di 3 kertas yang telah dibagikan. Pertama, kita menggambar pohon. Fyi, dari dulu, saya selalu menggambar pohon mangga dibagian tes ini. Kedua, kita menggambar orang yang kemudian diminta untuk menjelaskan siapa orang tersebut, sedang apa, kelebihan & kekurangan. Gambar terakhir adalah gambar pohon, orang dan rumah dijadikan satu gambar. Kreativitas saya mentok kalau urusan gambar-menggambar. Walhasil, ya begitulah. hehehee 🙂

Kalau yang udah sering ikutan psikotest, saya yakin udah hafal dengan dua tes ini. Karena hampir disemua psikotest ada dua jenis tes ini.

3. Focus Group Discussion

Setelah edisi gambar menggambar selesai, mba’ itu meninggalkan ruangan. Sekitar 5 menit, datang kembali dua orang, kali ini mba dan mas. Tes selanjutnya yang akan kami jalani adalah focus group discussion (FGD). Kalau sering ikut rekrutmen kerja, pasti juga sudah hafal jenis tes ini. Bentar-bentar, itukan berarti sering gagal dalam proses cari kerja. *ngomong sama kaca*. Itu saya pribadi sie. Hahahahaa 🙂

Di sini, kita akan dikasih kasus terkait dengan problem Indonesia Mengajar selama beberapa tahun belakangan. Kita diminta untuk mencari solusi dari masalah tersebut. Sebenarnya sie bukan mencari, lebih tepatnya memilih solusi alternatif. Karena di draft yang dikasih oleh panitia, sudah ada enam solusi. Kita hanya diminta memilih 3 solusi terbaik, efektif dan efisien dalam penyelesaian masalah tersebut. Tentunya dengan alasan kenapa kita memilih solusi tersebut. Tiga solusi tersebut kita urutkan berdasarkan skala prioritas. Selama 30 menit kita menuliskan jawaban kita. Boleh menggunakan diagram alur, gambar atau apapun. Terserah kita pokoknya.

Setelah selesai, saatnya berdiskusi kelompok. Jadi kami diberi kesempatan untuk berdiskusi selama 30 menit untuk menentukan tiga skala prioritas dari solusi tersebut. Karena setiap otak manusia diciptakan berbeda, kalian bisa tebak apa hasilnya? Dari 6 otak manusia dalam satu kelompok mempunyai jawaban yang berbeda-beda. Kita tidak boleh voting atau “hom pim pa” untuk menentukan tiga skala prioritas solusi tersebut. Kita harus bermusyawarah, sesuai dengan azas demokrasi yang dijunjung tinggi bangsa Indonesia.

Kita mempresentasikan jawaban kita masing-masing terlebih dahulu. Setelah itu kami berdiskusi lumayan alot. Ada yang kekeh dengan pendapatnya, ada yang menyanggah. Ya, itulah seni berdiskusi. Saat kami sibuk dengan debat argumen, dua Assessor sibuk coret-coret kertas yang dipegang. Apa mungkin mereka sedang menggambar pohon, orang dan rumah?? Ngawur, ya nggaklah. Tentunya mereka sedang menilai kami berenam.

Sepuluh menit menjelang waktu selesai, kami sudah menemukan dua urutan prioritas dari solusi tersebut. Tapi untuk solusi ketiga, alot-nya bukan main. Sampai waktu diskusi habis, kami belum menemukan solusi ketiga. Karena masih saling percaya pendapatnya masing-masing. Ini sebenarnya bukanlah hal yang baik. Karena dengan hasil seperti itu, kelompok kami belum bisa menyelesaikan solusi dengan tepat dan efisien.

Tips untuk tes bagian ini adalah sampaikanlah gagasanmu dengan singkat dan jelas. Tidak perlu bertele-tele. Kemudian, jadilah pendengar yang baik. Jangan terlalu egois dan mendominasi jalannya diskusi. Karena menurut saya, hal tersebut akan mengurangi poin dari penilaian. Aktif saat diskusi bukan berarti mendominasi jalannya diskusi. Nanti, 3o menit waktu yang dikasih, kamu ngomong terus. Kan yang lain tidak kebagian. heheee 🙂

4. Interview

Tahap keempat dikelompok kami adalah interview. Untuk tahap ini kita harus pindah tempat. Sebelumnya tahap ini, kami ishoma terlebih dahulu. Alhamdulillah, panitia dengan baiknya menyediakan makanan bagi kami yang seorang musafir. Setelah ishoma, baru kami mulai tahapan ini. Kami sudah ditentukan akan diinterview dengan siapa dan di meja nomor berapa. Ada tigainterviewer. Saya mendapatkan meja nomor 3 dan yang interview saya adalahAssessor disaat self presentation, Bu Evi.

Alhamdulillah, semua pertanyaan bisa saya jawab dengan lancar. Bu Evi juga sangat ramah dan santai. Jadi interview saat itu seperti ngobrol. Saya suka sekali jika interviewer sangat terbuka. Sehingga selama apapun interview, tidak akan terasa. Sekitar satu jam interview dilakukan. Apa saja yang ditanyakan?

Yang ditanyakan saat interview tidak jauh-jauh dengan esai yang kita submitsaat pendaftaran pertama kali. Interviewer ingin menggali potensi kita. Potensi untuk problem solving, decision making, your idea to make something, dll. Di sini, kamu harus menjawab apa adanya. Jangan pernah melakukan manipulasi atau kebohongan di sesi ini. Karena pasti akan ketahuan dengan sendirinya. Untuk itu, jawablah dengan jujur sesuai dengan yang kamu alami. Pertanyaannya akan berkembang sesuai dengan jawaban pertama kita. So, kalau kamu berbohong, dijamin antara jawaban satu dan jawaban lainnya tidak ada terkaitannya. Bisa dipastikan kamu akan gagal.

Salah satu contoh pertanyaannya, ‘Pernah berbuat sesuatu di suatu kelompok organisasi atau tempat kamu bekerja, dan hasilnya sampai sekarang masih terasa?’. Ya sudah, jawab saja sesuai dengan pengalaman real kamu. Sekecil apapun itu, harus jujur. Dari jawaban pertama, bisa berkembang menjadi 6 pertanyaan lanjutan. hehehe 🙂

Tips dari saya untuk tahapan interview adalah tampil apa adanya. Jangan jadi orang jaim. Kalau misal kita mau tertawa disaat interview karena memang ada yang lucu, ya tertawalah. Tetapi harus disesuaikan. Kalian tahu kan maksud saya? Menurut saya, tujuan interview adalah untuk menggali potensi kita lebih jauh. Karena jika sekedar lewat tulisan, seseorang bisa berbohong. Mereka akan mencari seseorang yang cocok dengan kriteria yang mereka cari. Mereka pasti sudah punya standar kriteria tersebut.

Kemudian, cobalah untuk rileks dan santai saat menjawab pertanyaan. Jangan grogi dan terbata-bata. Bayangkan kita mengobrol dengan teman kita sendiri. Tapi tergantung interviewernya juga sie. Soalnya ada interviewer yang punya tipe jutek. Balik lagi, tetap santai dan rileks. It’s the key to success interview test. Dan yang terakhir adalah jangan lupa berdoa sebelum interview. Kekuatan doa juga penyumbang terbesar berhasil atau tidaknya suatu hal.

5. Micro Teaching / Simulasi Mengajar

Setelah selesai interview, kelompok kami melanjutkan ke tahapan terakhir, yaknimicro teaching / simulasi mengajar. Ini merupakan tes yang sempat jadi hal yang menakutkan bagi kami semua. Dan ternyata, setelah tes berlangsung, ini merupakan tes ternyaman dan terheboh tes yang pernah saya jalani.

Sesuai dengan namanya, tes ini kita diharuskan untuk simulasi mengajar. Jadi sebelum tanggal kita tes, kita sudah diberi tema tentang apa yang harus kita ajarkan. Kemudian disuruh membuat media terkait dengan materi yang kita dapat. Waktu itu saya mendapatkan pelajaran PKN kelas 2 dengan tema kerukunan. Saya langsung putar otak tentang medianya. Singkat cerita, saya membuat semacam tanda pengenal, kemudian saya tulis macam-macam profesi. Kemudian nantinya akan saya simulasi, bahwa apapun profesinya, kita saling membutuhkan dengan yang lain. Sehingga kita perlu hidup rukun antar sesama. Untuk tes ini, kami akan dinilai oleh kakak-kakak mantan alumni Pengajar Muda angkatan sebelumnya. Waktu itu sie dua kakak alumni.

Oke, kalau yang ini, giliran yang maju ditunjuk oleh kakak-kakak alumni. Saya lupa giliran pertama siapa, yang jelas saya giliran terakhir. Jadi teknisnya adalah ketika kita akan memulai simulasi mengajar, kita diminta untuk keluar terlebih dahulu. Peserta lain dan kedua alumni membuat skenario untuk dijalankan saat kita mengajar. Kalau sudah, berjalanlah simulasi mengajar. Asli, skenario-nya tak seperti yang kita bayangkan. Berarti ada 6 skenario di kelompok kami.

  • Murid yang tidak bisa bahasa Indonesia sama sekali
  • Murid yang semuanya aktif semua
  • Murid yang pasif semua
  • Murid yang BAB di kelas sehingga mengganggu jalannnya pembelajaran
  • Saat proses belajar terjadi gempa bumi, sehingga murid ketakutan masuk kelas
  • Orang tua menjemput anaknya di sekolah dan memaksanya untuk pulang, membantu panen disawah.

Saya dapat tema yang paling akhir. Saya akan bercerita tentang skenario yang dijalankan sama kelima temen saya. Guys, kalian memang pantas dapat piala citra. Akting kalian tidak kalah sama Dude Herlino, Naysilla Mirdad, Chelsea Olivia, Asmirandah, dll. Ceritanya, saya lagi menunggu diluar dan mereka sedang menyusun skenario.

Eng ing eng…. Saya dipersilahkan masuk oleh salah satu kakak alumni.

Begitu masuk yang kulihat muridnya, hanya 4 siswa. Ini yang satu kemana ya? Skenario apa lagi ini? Ya sudahlah, saya langsung sapa mereka dan bertanya mana Galih. Mereka saling bersahutan muridnya memang cuma empat. Karena saya tidak percaya, saya tanya lagi. Sampai akhirnya, kakak alumni yang bilang, kalau muridnya memang cuma 4. Oh, ini skenario apa coba. Asli, udah parno duluan. hehehe 🙂

Saya mulai mengeluarkan jurus yang telah saya pelajari sebelumnya. Menyapa mereka, menyemangati mereka diawal pelajaran sesuai dengan kurikulum 2013 yang akan dicanangkan oleh Pemerintah. Itu tidak berjalan lancar. Jawaban mereka ngawur-ngawur. Ahh, ini bagian dari skenario dan balas dendam. hahahaah 😀 Baru akan memulai materi, suara ketukan pintu terdengar. Begitu saya buka, muncul orang yang marah-marah dengan logat bataknya.

‘Qurota, ayo kita pulang, bantu bapak di sawah’ *baca dengan logat batak ya*

Saya langsung sigap dan bisa menebak skenario apa yang mereka susun. Saya,

‘Oo, Pak Poltak. Apa kabar? Qurota masih belajar. Jadi nanti saja membantu pak Poltak. Setelah pulang sekolah, Qurota akan membantu panen pak Poltak’

Sialnya, teman saya menjawab, ‘Enak saja kau ganti namaku, nama aku Boris’. Oh my god!! Uasemm kau, Galih..

Singkat cerita, kami berdebat antara sekolah dan membantu orang tua. Saya jelaskan dengan tenang bahwa sekolah itu penting. Bahwa dengan sekolah, anaknya bisa berhitung. Sehingga tidak bisa dibohongi oleh orang lain. Pak Boris tersebut minta bukti kalau anaknya bisa berhitung. Ya sudah, langsung aja saya minta Qurota maju kedepan untuk menjawab pertanyaan saya. Waktu itu ingat betul, saya kasih pertanyaan, ‘1 + 1 berapa?’. It’s a easy question for class two, I think. Sialnya, Qurota menjawab salah.

‘Tiga, Pak’

Oh no!! Pak Boris kembali marah, karena anaknya tidak bisa menjawab pertanyaan semudah itu. Ini kapan 7 menit selesai??? Kog lama betul, perasaan tadi interview, satu jam saja terasa cepat. Saya coba tenangkan Qurota. Saya minta Qurota menghitungnya dengan pelan. Dan tetap saja dia jawab, tiga. Tau ah gelap. heheheh 🙂

Alhamdulillah, waktu habis. Setelah itu, dua kakak alumni PM akan bertanya tentang skenario tersebut. Intinya mencari pokok permasalahan dan bagaiman saya menyelesaikannya. Kemudian ditanya-tanya mengenai media yang telah kita buat dan akan diapakan media tersebut.Ternyata oh ternyata, belum sampai ke materi dan menggunakan media yang saya buat, waktu sudah habis. Skenario yang menakjubkan.

Tips di tahapan ini, persiapkan diri kamu dengan sebaik-baiknya. Berlatihlah sebelum tes ini. Meskipun nanti tidak akan sampai ke materi, siapkanlah materi dan media. At least, dua kakak alumni akan bertanya tentang materi dan media belajar setelah kalian selesai simulasi. Sehingga kamu akan dinilai serius untuk menghadapi tes ini.

Saya kurang paham tentang apa yang dinilai. Yang jelas, kita harus tetap rileks dengan skenario apapun yang kita dapatkan. Kita harus mencoba menyelesaikan masalah yang ada dengan tenang. Oh ya, setelah selesai, kedua alumni PM tersebut menjelaskan bahwa skenario yang telah kita jalankan tersebut bukan skenario asal-asal. Skenario tersebut memang terjadi di lokasi penempatan. Tujuannya adalah agar kita mempunyai gambaran bahwa kelak kita akan menemukan masalah tersebut. Sehingga, kita sudah sedikit siap dengan apa yang akan terjadi selama satu tahun penempatan.

Begitulah tahapan simulasi mengajar. Tidak ada unsur sengaja untuk mengerjai kandidat Pengajar Muda. Meskipun faktanya, antar peserta ada unsur balas dendam dan bully antar sesama. Itulah yang membuat seru di tes ini. Percaya, itu semua yang membuat kita punya cerita di Direct Assessment.

Dan dengan berakhirnya simulasi mengajar, berakhir juga rangkaian Direct Assessment. Semua kelompok dikumpulkan jadi satu, ditempat pertama tadi. Banyak cerita lah disana dan bisa ditebak, cerita yang paling heboh ya saat simulasi mengajar. Hehehe 🙂

Acara penutupan dan acara yang paling kita tunggu-tunggu. Apa itu?? Berfoto bersama *kemudian dicoret dari list peserta IM* 😀

Dibawah ini adalah kumpulan foto selama Direct Assessment.

IM 2 Kelompok 3IM 2 Bareng    IM 2 Bareng2

Setelah berfoto-foto, kami saling tukar nomor handphone dan lahirlah grup baru di Whatapps. Entah apapun hasilnya nanti, bisa bertemu dengan mereka dan mengikuti seleksi tahapan ini saja sudah beruntung. Pengalaman yang luar biasa. Sampai bertemu lagi di pelatihan, guys. Semoga. Aamin ya rabbal alamin.

Selamat berjuang bagi kamu yang mengikuti seleksi Pengajar Muda. Semoga diperlancar dan tulisan ini bisa bermanfaat 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s