Sok Pinter

InSAR, DInSAR dan PS-InSAR

Pengenalan pencitraan radar merupakan salah satu perkembangan luar biasa di bidang penginderaan jauh sejak tahun 60an. Hal ini membuka aplikasi di bidang ilmu kebumian dan astronomi, dan menjadi salah satu alternatif metode pencitraan tradisional yang dimana membutuhkan cahaya matahari dan terkendala tutupan awan. Pencitraan radar menggunakan konsep synthetic aperture yang dapat digunakan untuk pengukuran deformasi permukaan bumi. Konsep yang digunakan adalah citra dua radar dan konsep interferometri. InSAR mulai digunakan sejak awal tahun 90an untuk mengukur deformasi dari permukaan bumi. (Gabriel dan Goldstein, 1988).

Menurut Augustan (2010), Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR) adalah salah satu metode penginderaan jauh (remote sensing) yang menggunakan kombinasi nilai tiap piksel dari dua data radar. Berdasarkan hal tersebut, InSAR terdiri dari dua tahapan utama yaitu pembentukan citra radar (Single Look Complex / SLC image) dari data mentah (Synthetic Aperture Radar) hasil pemotretan dan tahapan pembentukan citra interferogram untuk melihat bentuk permukaan topografi.

Menurut Hernasari (2008), sistem InSAR menyinari bumi dengan sinar dari radiasi koherensi gelombang radar, dengan mempertahankan informasi fase dan amplitudo dalam gema radar selama akuisisi data (pengambilan data) dan pengolahannya. Radiasi ini dapat digambarkan melalui 3 properti utama, sebagai berikut :

  1. Panjang gelombang, jarak antar puncak dalam gelombang.
  2. Amplitudo, pergeseran dari puncak dari gelombang.
  3. Fase, gambaran pergeseran dari gelombang (baik degree maupun shift) dari beberapa gelombang lain.

Secara umum diagram alir pengolahan InSAR adalah sebagai berikut (Ismullah, 2004) :

Diagram Alir Umum Proses Pembentukan DEM

Gambar 1. Diagram Alir Umum Proses Pembentukan DEM (Ismullah, 2004)

Apabila terdapat model permukaan topografi yang dijadikan sebagai acuan atau apabila terdapat tiga atau lebih citra radar, maka perubahan permukaan dapat ditentukan melalui proses pengurangan atau differential InSAR (DInSAR). DInSAR adalah teknologi geodesi yang telah dikembangkan dengan baik selama beberapa dekade terakhir untuk pengamatan deformasi permukaan dengan akurasi yang tinggi pada sentimeter. Teknik ini menggunakan lebih dari dua citra radar (citra radar multitemporal) sehingga akan timbul temporal decorrelation dan atmospheric dishomogeneities yang mempengaruhi kulitas hasil inteferogram.

Karena hal tersebut, pada tahun 1999 peneliti Italia mengembangkan metode baru yakni PS-InSAR (Permanent Scatterer Interferometric Synthetic Aperture Radar). PS-InSAR menggunakan citra radar yang mempunyai rentang waktu lama. (Ferratti dkk, 1999). Teknik ini dikembangkan untuk mendeteksi isolated coheren pixel dan mengatasi masalah penundaan atmosfer sehingga bisa mengamati deformasi dengan ketelitian hingga milimeter per tahunnya.

PS-InSAR selain meminimalkan pengaruh  temporal decorrelation, geometric decorrelation dan  atmospheric dishomogeneities juga menerapkan pemantauan titik-titik artifisial dari penampakan alami, obyek buatan manusia dan buatan pabrik (reflektor) sebagai  Permanent Scatterers (Natural GPS Network) untuk meningkatkan akurasi hasil pengukuran teknik PS-InSAR. Kekurangan teknik PS-InSAR adalah sebagai berikut: (Ferreti et al, dalam Prasetyo)

  1. Sulit untuk menentukan permanent sctterers di daerah penilitian.
  2. Inteferogram hanya dapat dibentuk dari data SAR dengan tipikal satelit yang sama.
  3. Menggunakan pasangan data SAR yang lebih banyak dengan rentang waktu yang lama pada daerah penelitian.
  4. Harus dilakukan tes homogenitas dalam memisahkan pantulan yang disebabkan oleh deformasi dan aktivitas atmosfer.

Sedangkan untuk kelebihannya adalah sebagai berikut : (Ferreti et al, dalam Prasetyo)

  1. Bisa mengetahui deformasi dengan akurasi hingga milimeter per tahunnya.
  2. Menyajikan densitas spasial dari pengukuran titik yang tidak mungkin diperoleh pada teknik konvensional.
  3. Kemampuan untuk memonitor pergerakan untuk seluruh waktu secara kontinu.

 

Sumber :

Augustan. 2010. Mengamati Perubahan Gunung Api di Indonesia dengan Metode InSAR. Indonesia : INOVASI Online, Catatan Riset.

Ismullah, I.H. 2002. Model Tinggi Permukaan Dijital Hasil Pengolahan Radar Interferometri Satelit Untuk Wilayah Berawan (Studi Kasus : Gunung Cikurai – Jawa Barat). Bandung : Program Doktor Jurusan Teknik Geodesi dan Geomatika, ITB.

Prasetyo, Yudo. 2009. Teori Dasar Deformasi. 6 Maret 2012. <http://yudopotter.wordpress.com/2009/05/05/teori-dasar-deformasi>

Prasetyo, Yudo. 2009. Teori, Konsep dan Metodologi Teknik Permanent Scatterer (PS-InSAR) Didalam Pemetaan Deformasi Permukaan Bumi. 6 Maret 2012. <http://yudopotter.wordpress.com/2009/10/20/teori-konsep-dan-metodologi-teknik-permanent-scatterer-ps-insar-didalam-pemetaan-deformasi-permukaan-bumi>

Prasetyo, Yudo. 2010. Pemanfaatan Teknologi Permanent Scatterer Interferometric Synthetic Aperture Radar (PS-InSAR) Dalam Studi Penurunan Muka Tanah (Land Subsidence). Semarang : Jurusan Teknik Geodesi, UNDIP.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s