Inside Out

TKW oh TKW

Apa, bu??? Aku kaget setengah mati ketika ibu memberitahu jika mau pergi ke Arab Saudi untuk menjadi TKW.

Ibu harus melakukan itu, nak. Tidak ada pilihan lain. Kamu sudah kelas 3 SMA, setelah itu kuliah. Jadi butuh uang banyak, jawab ibuku.

Putra nggak mau kuliah, bu. Putra ingin kerja, membantu ibu, jawabku.

Kamu harus kuliah, nak. Setelah kuliah, baru cari kerja dan bantulah adik-adikmu untuk mewujudkan cita-cita mereka,

Putra nggak tega melihat ibu kerja banting tulang demi kuliahku. Biarlah aku bekerja, kemudian kalau sudah punya uang, aku janji akan kuliah, jawabku dengan memohon. Kemudian ibu mendekatiku dan memegang tanganku dengan lembut.

Nak, kamu harus kuliah. Tidak perlu mengkhawatirkan ibu. Insya Allah, ibu mampu, jawabnya lirih. Aku bingung harus mencari alasan apa lagi. Ibu begitu kekeh untuk menjadi TKW.

Bu, Arab itu jauh. Kita akan lama tidak bertemu. kataku, masih berusaha meruntuhkan niat ibu.

Putra sayangku, walaupun kita jauh, hati kita akan selalu dekat, nak. Ibu akan selalu menyebut nama anak-anak ibu disaat berdoa. Begitu juga anak-anak ibu jawab ibuku tak mau kalah. Ibuku memang sudah bertekad kuat menjadi TKW, maka sangat sulit merubah tekadnya. Ibuku memang seperti itu. Wanita yang tidak pernah menyerah. Aku bangga memiliki ibu seperti dia. Akhirnya aku mengalah dan mengizinkannya.

******

Hari ini adalah hari keberangkatan ibu menuju Arab Saudi. Hanya aku dan adik-adikku yang menemani ibu menuju bandara. Saat itu, aku berusaha tidak mengeluarkan air mata agar adik-adikku juga melakukan hal yang sama. Tapi tetap saja gagal. Kami dipeluknya satu-satu. Johan dan Safa tak kuat menahan tangisnya. Hanya Faisal yang tidak menangis. Dia tambah tersenyum lebar, karena dia mengganggap ibunya akan pergi ke luar negeri. Maklum, dia masih berumur lima tahun. Saat memelukku, bendungan air mataku jebol. Aku terisak. Aku tidak percaya, sebentar lagi ibuku akan berada di negeri lain dan jauh dari kami.

Nak, kamu harus kuat. Sudahlah, hapus air matamu. Insya Allah, ibu sehat di sana. Kamu harus menjaga adik-adikmu. Jangan lupa sholat, puasa sunnah, tahajudnya harus diperkuat lagi. Tiap bulan ibu akan mengirimkan uang ke rekeningmu, katanya sambil memelukku erat-erat. Ibu tidak menangis saat itu. Tapi aku yakin hatinya pasti menangis. Kemudian ibu menuju ke pesawat. Kami melihat ibu hingga bayangannya benar-benar hilang. Kemudian kami kembali ke rumah dengan perasaan tak karuan.

******

Pagi itu begitu cerah, kami melakukan aktivitas seperti biasanya. Tiba-tiba Pak Joko, tetanggaku memanggil dengan panik.

Put, ada telfon dari Arab Saudi. Katanya penting sekali. Cepat kamu ke rumah, katanya sambil terengah-engah. Seketika itu, aku langsung meninggalkan pekerjaanku dan aku suruh adikku menggantikannya. Aku menuju rumah Pak Joko, dan diikuti Pak Joko dibelakangku.

Aku begitu kaget mendengar berita yang baru aku dengar. Ibuku masuk rumah sakit Arab Saudi. Ibu disiksa majikannya yang baru hingga kondisinya sangat memprihatinkan. Ibu koma. Aku menangis saat itu. Pak Joko bertanya-tanya kenapa aku menangis. Aku tidak menceritakannya, aku hanya bilang kalau ibu sakit. Adik-adikku juga aku beri tahu seperti itu. Aku mengajak mereka berdoa agar ibu cepat sembuh. Aku benar-benar tidak tenang. Aku mengkhawatirkan keadaan ibu. Dalam tahajud, aku selalu berdoa agar ibu diberikan kesembuhan. Air mataku selalu keluar ketika mengingat ibu.

Dua hari kemudian, ada telfon lagi dari Arab. Aku segera berlari ke rumah Pak Joko. Kali ini, aku hampir pingsan mendengar berita ini. Badanku tiba-tiba lemas. Aku menangis sejadi-jadinya. Tidak peduli sekarang aku berada di rumah orang. Ibuku telah meninggal. Ibu tidak bisa bertahan. Lukanya terlalu parah.

******

Suara mobil ambulance mendekat ke rumahku. Kulihat adik-adikku masih menangis. Aku sudah bisa mengendalikan emosiku, walau hatiku remuk. Rumahku juga sudah ramai. Saat mobil berhenti di depan rumah, kami langsung berlari menuju mobil. Tapi kami berempat dipegangi oleh orang-orang. Kami dianggap akan mengganggu pihak ambulance dalam menurunkan jenazah ibuku. Setelah ditempatkan di tempat yang telah disediakan, kami dilepas dan seketika kami berlari memeluk jenazah ibu. Emosiku tak terkendali lagi. Aku menangis sambil memeluk ibu. Aku tidak tega melihat ibu. Banyak luka memar dimana-mana. Sungguh biadab orang yang melakukan ini. Kepalaku pusing kembali, mataku berkunang-kunang, bayanganku kabur. Semakin gelap dan akhirnya benar-benar gelap.

******

Tiba-tiba seseorang menggoyang-goyangkan badanku. Ternyata kejadian yang aku alami hanyalah mimpi. Ibu yang membangunkanku. Seketika itu aku langsung memeluk ibu sambil menangis. Ibu bingung dengan apa yang aku lakukan. Aku berjanji jika ibu meminta izin untuk menjadi seorang TKW, aku akan tegas mengatakan TIDAK!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s