Saat Menjenguk Bayi yang Baru Lahir, Jangan Lakukan Ini!

Sudah lama sekali ingin menulis topik mengenai menjenguk Ibu yang baru melahirkan. Tulisan ini dari pengalaman pribadi saat Bojo melahirkan. Saya dan Bojo memilih melahirkan di Bojonegoro. Alasannya lebih efektif dan efisien. Detail ceritanya pernah saya tulis. Bagi yang kurang kerjaan dan ingin tahu alasannya silakan dijelajahi blog saya yang bagai butiran Adem Sari ini.

Banyak tetangga dan teman yang menjenguk saat Bojo melahirkan. Seneng? Iya dong. Terganggu? Sedikit. Ada beberapa hal yang membuat terganggu. Alasan itulah saya membuat tulisan ini. Biar kalian yang berencana menjenguk teman yang baru melahirkan tidak melakukan hal-hal yang sedikit menganggu, baik bagi Ibu maupun bayinya.

Langsung ya,

Datang Di Saat yang Tidak Tepat

Mengatur jam berkunjung adalah hal pertama yang harus dipikirkan. Tanyakanlah pada diri kalian sendiri, “kira-kira jam segini dia lagi ngapain ya?“, “apakah saya akan menganggu kalau datang sekarang?“. Jangan asal sempat saja, kemudian berkunjung. Menurut saya waktu yang tepat adalah pukul 10.00-12.00 dan 16.00-18.00. Di jam itu, Ibunya tidak waktunya istirahat dan sudah selesai beberes juga. Kalian juga bisa sebelum berkunjung, mengabari temen yang ingin dikunjungi. Tanyakan kapan kira-kira waktu yang tepat.

Berkunjung Terlalu Lama

Ini juga hal yang sangat penting dalam berkunjung. Sebenarnya tidak hanya untuk Ibu yang habis melahirkan, tetapi untuk orang sakit pada umumnya. Sakit itu butuh istirahat. Jadi kalau kita menjenguk orang yang sakit, jangan lama-lama. Mereka masih butuh istirahat. Ibu yang melahirkan pastinya begadang coy. Sedekat apapun kalian dengan teman yang kalian kunjungi, pahamilah hal ini. Selain Ibu, bayinya juga butuh istirahat atau nenen. Menurut saya, durasi yang tepat sekitar 10-20 menit. Kalian perlu ingat juga kalau yang menjenguk bukan kalian saja. Bayangkan kalau setiap hari ada sepuluh teman yang berkunjung, 200 menit harus disisihkan untuk setidaknya menemani kalian ngobrol. Tidak mungkin kan kalau kalian ditinggal tidur?

Berharap Dijamu Sebagai Tamu

Kalau yang ini sudah jelas lah ya. Kan tujuannya mau jenguk orang sakit, masak kalian punya ekspektasi disajikan lontong sayur dan es kelapa muda. Namanya orang habis lahiran ya sibuk dengan bayinya. Kan ada keluarganya? Ya elahhh, kalau berharap dapat jamuan layaknya tamu, datanglah ke kondangan nikahan coy. Kalian salah tempat kalau menengok Ibu pasca melahirkan.

Membangunkan Bayi

Ini yang bikin sebel saat ada orang berkunjung. Anaknya sedang tidur, lha sama kalian dibangunkan dengan alasan ingin lihat kalau pas bangun atau nangis. Kalau kata zaman sekarang, kzl! Saat kalian datang berkunjung, bayinya tidur, ya biarkanlah. Jangan diganggu buat bangun. Mendingan ganggu Ayahnya biar bangun. Eh gimana? Hahaha

Menggendong dan Mencium Bayi

Dua hal ini yang kadang sering dilakukan orang-orang saat menjenguk Ibu pasca melahirkan. Saking gemesnya kalian melihat dedek bayinya, kemudian langsung main gendong saja. Eitss, tunggu dulu! Kalian harus minta izin dulu sama Ibu/Ayahnya. Sejago apapun kalian dalam menggendong bayi, harus minta izin terlebih dahulu. Kalau mengizinkan, barulah kalian bisa gendong. Kalau mencium bayi, hukumnya TIDAK BOLEH dengan alasan apapun. Kalau Ayahnya boleh (ditabok sama Bojo). Silakan di googling alasannya kenapa tidak boleh.

Merokok Sebelum Menjenguk

Bagi para perokok, pastikan ya kalau ingin berkunjung ke Ibu pasca melahirkan, kalian tidak merokok dulu. Baunya masih nempel di baju kalian. Masak bayi yang baru lahir sudah kalian racuni nikotin. Jangan lah!

Mengunggah Foto Bayi di Sosmed

Saat berkunjung, bayi teman kalian lucunya tidak ketulungan. Kemudian kalian foto dan unggah di sosial media tanpa izin orang tuanya. Ini sudah melanggar hak privasi orang coy. Kalian izin dulu ke orang tuanya. Kalau memang tidak diizinkan, ya jangan marah. Terus ngomong di belakang, “kayak anak artis saja, nggak boleh diunggah di medsos“. Ya elahhh, mbok jadi orang jangan baperan. Anak-anak siapa, kog situ yang baper. Kalau mau unggah foto anak, ya bikin atuhh. Eh, Jomblo ya? Maaph dehh.

Pastikan Kalian Bersih dan Sehat

Terakhir adalah pastikan kalian bersih dan sehat. Jangan paksakan kalian menjenguk jika pas pilek, batuk atau sakit lainnya. Yang kalian jenguk itu bayi baru lahir yang mana daya tubuhnya masih sangat rentan. Makanya pastikan sehat baru boleh berkunjung. Kalau jenguknya di rumah sakit, kalian cuci tangan dengan alkohol handrub yang biasanya tersedia di depan kamar. Kalau di rumah ya cuci dengan sabun. Intinya bersih dan sehat.

*******

Itulah beberapa hal yang dihindari saat kalian mengunjungi bayi yang baru lahir. Eh itu kan di Bojonegoro. Memang Jakarta ada kayak gitu? BANYAK!

Semoga tulisan ini membantu. Marilah kita respect dengan cara yang benar. Maksud hati baik tapi malah menganggu. Kan nggak enak.

Salam,

Ayah Pembelajar

Advertisements

HFMD alias Flu Singapura, Berbahayakah?

Nggak enaknya bekerja dengan sistem roster yang sekarang ini adalah jauh dari keluarga selama beberapa minggu, paling cepet empat minggu. Kalau misal di minggu itu baik-baik saja, ya tidak jadi masalah. Rindu dikit lah, saya suka menyebutnya dengan istilah menabung rindu. Tapi kalau di minggu roster saya bertugas, Bojo, Kafka atau Mbah Uti sakit membuat konsentrasi kerja buyar. Bawaannya ingin cepat cuti saja.

Design by Canva.com

Hal ini yang terjadi di roster kemarin. Kafka demam dan mogok makan. Saya dan Bojo belajar untuk tidak panik saat-saat seperti ini. Bojo observasi terlebih dahulu demamnya. Hal yang pertama dilakukan adalah perbanyak minum ASI. Kedua, skin to skin. Demamnya Kafka tidak turun dan sudah di atas 38,5 derajat celsius, barulah diberikan Sanmol sesuai dosis. Kemudian di cek Bojo, ada sariawan yang muncul, sekitar lima titik di mulut. Pantesan ogah-ogahan makan dan minum ASI. Lha orang dewasa saja ada sariawan satu, makanan seenak apapun jadi nggak enak. Apalagi ini anak kecil, lebih dari satu lagi jumlah sariawannya.

Ekspresi dengan Lima Sariawan

Bojo ambil cuti dan berencana membawa ke Dokter Made. Dokternya lagi cuti jalan-jalan ke Finlandia. Bojo mencoba ke Markas Sehat untuk ke Dokter Apin. Bojo belum beruntung, antrian penuh. Akhirnya kembali ke RS Kemang Medical Care dengan dokter anak seadanya. Pilihan jatuh ke dokter **** (ini tidak rekomendasi teman, karena pernah salah diagnosa).

Setelah periksa, Bojo mengabarkan kalau diagnosanya adalah Flu Singapura. Pertama kali baca WA-nya, kaget sekali. Serem betul nama penyakitnya. Tapi setelah dijelasin dan pulang tidak diberikan obat apa-apa, saya lega. Artinya penyakitnya tidak berbahaya. Karena riwayat teman saya yang pernah salah diagnosa oleh dokter tersebut, saya coba mencari tahu tentang penyakit Flu Singapura.

Pertama yang harus diluruskan adalah, nama penyakit ini bukanlah Flu Singapura melainkan HFMD (Hand, Foot, and Mouth Disease) alias penyakit tangan, kaki dan mulut. Namanya menjadi dikenal sebagai Flu Singapura karena tahun 2000-an, Singapura terkena wabah penyakit ini. Dengan nama Flu Singapura, penyakit ini terdengar seram, padahal HFMD tergolong penyakit ringan.

HFMD disebabkan oleh infeksi virus yaitu virus genus Enterovirus, yang paling umum adalah virus Coxsackie. Karena itu, HFMD tidak membutuhkan antibiotik. Penyakit ini akan sembuh sendiri. Virus ini menyebar/menular melalui sekresi hidung (air liur, dahak, ingus) dan feses. Penularannya bisa terjadi saat bersin, batuk, bekas gelas, dan lainnya.

Gejala HFMD diawali dengan demam (ini tidak selalu, bisa ada bisa tidak). Dua atau tiga hari muncul luka di sekitar mulut, gusi, atau pipi bagian dalam. Saya menyebutnya sariawan. Ini yang membuat Kafka susah makan dan minum ASI. Kemudian gejala berikutnya muncul lenting-lenting kecil di telapak tangan, telapak kaki, siku dan lutut. Bedakan lentingnya dengan cacar air ya. Lentingnya lebih kecil daripada lenting cacar air. Lenting cacar air menyerang semua tubuh, kalau HFMD tidak.

Lenting di Kaki

Apa obatnya? Seperti yang saya ceritakan di awal, Kafka pulang dari dokter tidak diberikan obat apapun. Obatnya adalah kesabaran orang tuanya. HFMD akan sembuh sendiri. Kafka harus banyak minum ASI, khawatir dehidrasi. Kafka dilarang ke luar rumah sampai sembuh untuk mencegah penularan. Bojo dan Mbah Uti juga harus menjaga kebersihan. Memang benar adanya, obatnya adalah kesabaran. Kafka rewel sekali selama sakit. Ya wajar sie, ada lima luka di mulutnya. Alhamdulillah seminggu Kafka sembuh. Luka di mulutnya hilang. Lenting di tangan dan kakinya juga kempes.

Ibu Bapak sekalian, jangan panik ya kalau anaknya muncul gejala demikian. Tarik nafas panjang dan rileks. Kalau memang kurang yakin, silakan di bawa ke dokter (dengan catatan kita harus kritis). Tidak langsung percaya dengan diagnosa dokter, banyak nanya dan cari informasi lanjutan.

Salam,

Ayah Pembelajar

Kafka on The First Flight

Belajar dari pengalaman cuti sebelumnya yang kami habiskan jalan-jalan (Cirebon-Jakarta-Bojonegoro-Lamongan-Jakarta), saya merasa cuti dua minggu tak terasa. Meski di perjalanan itu, quality time juga sama keluarga tapi rasanya cuti cepat habis. Akhirnya saya tidak merencanakan kemanapun di cuti bulan April ini. Inginnya di rumah saja, bermain sama Kafka.

Menjelang hari H cuti, saya dikabari jika harus pulang ke Bojonegoro karena ada keperluan mendesak. Saya langsung kabari Bojo, bisa cuti apa tidak. Ternyata kondisi pekerjaannya sedang tidak mungkin untuk ditinggalkan, lagi padat-padatnya. Akhirnya kami putuskan untuk balik ke Bojonegoro tanpa harus ambil cuti. Berangkat hari Sabtu, balik hari Minggu. Satu-satunya transportasi yang memungkinkan untuk hal ini adalah pesawat.

image_6483441
Design by Canva.com

Saya langsung booking pesawat pulang pergi. Berhubung kami keluarga yang menjunjung kata hemat, saya langsung menyusun budget kepulangan ini. Tujuannya biar terkontrol dan tidak bikin dompet jebol. Terima kasih Traveloka yang sudah memudahkan saya dalam pemesanan tiket pesawat kali ini (dapat potongan harga pula!). Saya baru tahu jika anak usia di bawah dua tahun, terkena biaya tiket (50-100an ribu). Selama ini saya pikir gratis seperti tiket kereta api.

Ini akan menjadi penerbangan pertama bagi Kafka. Saya dan Bojo agak khawatir kali ini. Jika naik kereta api, Kafka sudah lulus 100%. Perjalanan dari Jakarta-Bojonegoro (PP) dan  Jakarta-Cirebon (PP) sudah pernah ditempuh dengan mulus, tanpa rewel. Saat ini agak beda kondisinya. Jujur kami khawatir kalau nanti saat di pesawat Kafka rewel dan membuat penumpang lain terganggu. Secara kan tekanannya beda banget. Jangankan pesawat, setiap naik/turun via lift saja Kafka terasa tekanannya. Jadi pas digendong, langsung tegang. Kami coba baca-baca artikel mengenai membawa anak saat penerbangan.

Saat berangkat (Jakarta-Surabaya) kami memilih penerbangan pagi, jam 05:30 dengan maskapai Citilink. Kami harus berangkat dari kontrakan jam 03:30 yang mana Kafka masih tidur dengan nyenyak. Bojo hanya mengelap dengan tisu basah dan mengganti pakaiannya. Di perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta, Kafka kembali tidur. Kami sampai di bandara sekitar jam 05:00 dan Kafka terbangun. Alhamdulillah, kami masih sempat untuk sholat subuh secara bergantian.

Saat memasuki pesawat, Kafka masih terbangun. Begitu duduk di kursi, Bojo langsung menyusui Kafka biar kembali tertidur. Uhuyyy! Kafka kembali tidur. Pramugari memberikan seat belt dan life vest khusus untuk bayi. Seat belt­-nya ini tambahan untuk dipasangkan di seat belt utama (orang tua). Saya yang memilih untuk memangku Kafka. Perjalanan yang kami tempuh selama 1.5 jam lancar. Tidak hanya Kafka yang tidur selama perjalanan, kamipun juga. Begitu mendarat di Bandara Juanda, Kafka baru terbangun. Mirip sekali dengan saya yang setiap naik transportasi, duduk lalu tidur. Kamu pintar, Nak!

IMG_9615
Wajah Kafka Saat Mendarat di Bandara Juanda

Sesampai Surabaya, kami harus naik bus lagi. Inilah tidak enaknya naik pesawat. Kami harus naik bus dua kali baru sampai rumah. Total perjalanan kemungkinan sekitar 5-6 jam. Jika naik kereta api bisa langsung sampai Bojonegoro dengan total perjalanan sekitar 9-10 jam. Dari Bandara Juanda kami harus naik Bus Damri tujuan Terminal Gresik. Sepanjang perjalanan, Kafka tidak berhenti ngoceh dan teriak-teriak senang. Kemudian tidur sebentar, kembali terbangun dan ngoceh lagi. Bus Damri kan kecil, jadi terdengar dari depan sampai belakang. Mohon dimaklum lah ya, kan anak kecil.

Sesampai Terminal Gresik, kami harus ganti bus tujuan Surabaya-Cepu. Ini adalah bus ekonomi yang panas. Khawatir Kafka rewel karena gerah. Sebenarnya kami bisa memilih transportasi travel yang mana langsung ke tujuan rumah atau meminta dijemput di bandara. Kami urungkan rencana itu. Kami ingin mengajarkan Kafka untuk naik transportasi umum yang memang murah meriah. Jika Kafka tidak rewel naik bus ekonomi yang panas, maka naik transportasi yang mahalpun pasti nyaman. Alhamdulillah, Kafka lulus! Tidak rewel sama sekalipun. Padahal kondisi bus panas sekali. Good job, boy! Kafka bisa diajak untuk liburan ala backpacker. Kemana selanjutnya kita, Bojo?

Hari minggu besoknya, kami kembali ke Jakarta. Dengan rute yang sama, Bojonegoro-Terminal Gresik-Bandara Juanda, Kafka anteng-anteng saja. Untuk baliknya, kami naik pesawat maskapai Sriwijaya. Masih sama saat berangkat, pulangnya Kafka tidur sepanjang perjalanan. Dia terbangun saat sudah sampai di tempat tujuan. Ini mah tandanya Kafka doyan jalan-jalan. Ayo Bojo agendakan kembali jalan-jalan bertiga.

IMG_9633
Ibu dan Kafka di Waiting Room Bandara Juanda

For the last, saya akan membagi tips pribadi untuk mengajak anak usia di bawah dua tahun.

  1. Jadwal terbang

Menurut saya, jadwal terbang ini penting. Ayah dan Ibu bisa memilih penerbangan dengan menyesuaikan jadwal tidur anak. Sehingga saat penerbangan akan berlangsung, anak sudah tidur. Kita sebagai orang tua hanya tinggal memangku dan membuat posisi nyaman untuk anak tidur. Kitapun juga bisa tidur nyenyak.

  1. Pastikan kenyang

Pastikan perut anak kenyang. Jika memang usia di bawah enam bulan, maka cukup ASI saja. Tapi jika sudah di atas enam bulan, maka bisa diberikan MPASI sebelum terbang. Jika ASI eksklusif, jangan malu untuk memberikan ASI langsung dari pabriknya saat di pesawat. Rasanya Ibu-Ibu tidak perlu malu. Sudah ada kain penutup untuk ibu menyusui kan? Kalau anak kenyang, kemungkinan rewel kecil.

  1. Siapkan mainan

Untuk jaga-jaga, siapkan mainan untuk dibawa di pesawat. Saya waktu itu membawa buku yang biasa Kafka mainkan dan teether. Jadi sewaktu-waktu kalau rewel bisa dengan mudah dikeluarkan untuk dijadikan mainan anak.

*****

Tiga tips itu yang bisa saya bagikan. Semoga bermanfaat untuk Ayah Ibu yang membaca tulisan ini. Jika memang masih rewel, please jangan dimarahin. Saya suka kesal jika satu pesawat dengan orang tua yang membawa anak, kemudian memarahinya saat ia rewel. Mungkin saja anaknya risih karena pup atau sakit karena beda tekanan. Ini bisa terjadi lho! Oh ya, buat penumpang yang masih single, mohon juga dimaklumi jika ada anak yang rewel saat naik tranportasi (tidak hanya pesawat). Kami sebagai orang tua juga tidak menginginkan anak kami rewel.

IMG_9635
Kafka Sesaat Sebelum Tidur di Pesawat

Selamat jalan-jalan bersama keluarga!

Bojo dan Ibu Terhebat

Tanggal 18 April Bojo ulang tahun yang ke-17 tahun (keluarga Saputro satu garis keturunan dengan keluarga Cullen, jadi umurnya stop di 17 tahun). Saya dan Bojo bukan termasuk pasangan yang harus merayakan hari spesial, baik ulang tahun maupun anniversary (ya elah baru juga setahun). Ya biasa saja. Paling ngucapin saja dan mentoknya makan di luar. Biasanya kan ada thu pasangan yang memberikan kejutan di kantor atau tempat umum. Duhh, bukan kami banget lah. Bukan berarti perayaan di kantor atau tempat umum salah. Tergantung preferensi masing-masing.

Saya dari awal pulang cuti sudah bilang kalau bakal kembali ke Kalimantan tanggal 18 April, bertepatan dengan ulang tahun dia. Padahal baliknya tanggal 24 April. Saya ingin kasih sedikit kejutan Bojo. Romantis dikit lah, biar hubungan sebagai suami istri terjaga meski kami harus LDR sebulan (tapi berasa lama sekali).

Di hari itu, Bojo curiga kalau dibohogin. Bojo minta foto boarding pass dan foto saya sedang di bandara. Saya matikan HP, pura-pura mau flight. Sorenya sudah saya kabari kalau sampai hotel dengan melampirkan foto hotel tempat saya tinggal (foto lama 😂😂). Dia telfon dan saat itu sedang menggendong Kafka. Apa jadinya kalau pas telfon Kafka ngoceh. Kan doi sedang suka ngoceh. Tak kuangkat. Biar tidak curiga, jam 7an, aku kirim foto angkringan (foto hasil search di google). Dia percaya.

Saya beli kue dan memberikan sedikit properti ulang tahun di kamar. Saat Bojo pulang, buka kamar dan surprise!!!

Semoga berkah umurnya Bojo. Sehat selalu dan dilancarkan semua mimpi-mimpi kamu. Selalu menjadi Bojo dan Ibu yang hebat buat saya dan Kafka.

Bojo saya luar biasa. Selain menjadi ibu rumah tangga, dia juga bekerja di salah satu bank. Saya saat ini bekerja di Kalimantan yang mana mengharuskan jauh dengan keluarga selama sebulan (4 minggu di Kalimantan, 2 minggu cuti). Bojo dan Kafka ditemani sama Mbah Uti. Kami sedang mencari mbak-mbak untuk menemani Mbah Uti. Kemarin sempat dapat tapi tidak cocok.

Setiap hari Bojo berangkat naik motor. Saya suruh naik ojek online tidak mau. Hemat katanya. Saya suruh naik transportasi umum tidak mau. Lama katanya. Tahu sendiri kan jalanan Jakarta seperti apa? Macet. Belum kalau ban bocor atau hujan. Saya selalu kepikiran hal ini di Kalimantan. Bojo mah santai-santai saja.

Soal fashion, Bojo juga tidak rewel. Tidak harus bermerek dan mahal. Yang penting nyaman buat dia. Kelar. Bojo juga tidak begitu doyan belanja. Ya secukupnya saja lah.

Meski bekerja, Bojo juga seorang ibu yang baik untuk Kafka. Bojo berkomitmen untuk ASI eksklusif dan MPASI homemade. Tidak pernah absen untuk membuatkan menu MPASI Kafka sebelum berangkat kerja. Secapek apapun pulang kantor, selalu bahagia bermain dengan Kafka. Duhhh, Allah memang baik banget menjodohkan saya dengan Bojo.

Rina, kamu adalah Bojo terhebatku!

Peralatan MPASI Kafka

Setelah sekian lama, akhirnya saya punya mood untuk menulis tentang peralatan MPASI Kafka. Ternyata peralatan MPASI itu banyak dan sering terlupakan oleh pasangan suami istri yang baru punya anak. Peralatan MPASI juga sering terlupakan untuk dikasihkan kado saat ada temannya yang melahirkan. Kebanyakan kado yang diberikan adalah kado seputar keperluan dari usia 1-3 bulan bayi. Misal, baju, gendongan, stroller, bouncer, dan lainnya. Jarang sekali yang memberikan kado untuk persiapan MPASI, mentok ya satu paket tempat makan. Buat kalian semua yang mungkin akan memberikan kado buat temennya, mungkin bisa salah satunya peralatan MPASI.

Peralatan Makan

Ini peralatan wajib ada untuk persiapan MPASI. Barang ini menjadi salah satu kado favorit teman untuk menjenguk Ibu pasca melahirkan karena praktis dan mudah dicari. Saat Kafka lahir, saya dan Bojo mendapatkan lima kado yang sama, set peralatan makan. Kelimanya hanya beda tipe, merek dan warna saja. Satu set biasanya terdiri dari piring yang lebih mirip mangkok, piring kedua yang lebih ceper, sendok, garpu, dan gelas. Kami hanya memakai piring, sendok dan gelas.

Harga: kado (gratis)

 

Baby Food Maker

Kami menggunakan merek Pigeon. Ini bukan kado tapi kami beli sendiri. Satu set terdiri dari alat pemeras jeruk, alat penyaring, alat penghalus, parutan, dan wadah penyimpanan. Lengkap! Kalau mau merek lain juga boleh atau mau beli yang bukan satu set juga boleh. Kami beli ini karena praktis saja, satu merek bisa dipakai berbagai fungsi. Fungsi yang paling berguna adalah saringan dan pemeras jeruk. Saat Kafka baru MPASI, saringan kawat ini menjadi alat yang harus ada untuk mempersiapkan MPASI.

Harga: Rp. 265.000 – Rp. 300.000

 

Food Processor atau Blender

Dua alat ini tidak wajib dalam mempersiapkan MPASI. Kalau punya banyak waktu tidak perlu alat ini. Semua bahan bisa di parut atau ditumbuk. Saya dan Bojo kan sama-sama bekerja, jadi harus lebih efisien. Solusinya menggunakan blender (untuk awal MPASI) dan food processor (untuk MPASI lanjutan, naik tekstur). Blender kami menggunakan blender kado dari pernikahan sedangkan food processor menggunakan merek Baby Safe, kado dari teman yang memang sengaja kami minta.

Harga: kado (gratis)

 

Peralatan Masak

Kami dari awal memang berkomitmen untuk memberikan Kafka MPASI homemade. Alasannya bisa dibaca di tulisan tentang menu tunggal MPASI. Oleh karena itu, kami juga harus mempersiapkan segalanya, salah satunya peralatan masak. Kami memisahkan peralatan masak Kafka dengan yang biasa kami gunakan. Mulai dari panci, parutan, sampai pencuci peralatannya. Tujuannya biar lebih steril saja.

Harga: relatif (bervariasi)

 

Baby Cubes atau wadah

Baby cubes adalah wadah kecil untuk menyimpan makanan. Pada menu tunggal, MPASI Kafka dimasak saat akan makan. Sedangkan pada menu 4 bintang, MPASI dimasak di pagi hari, kemudian dibagi menjadi tiga, satu disajikan dan dua lainnya disimpan. Wadah untuk menyimpan ini biasanya disebut baby cubes. Kami menggunakan wadah merek lock & lock karena tahan panas. Makanan yang disimpan di lemari es. Jika waktunya makan, wadah dikukus kembali.

Harga: Rp. 25.000

 

Kursi Makan

Ini juga peralatan yang tidak wajib. Bisa ada, bisa juga tidak. Kami ingin membiasakan Kafka untuk makan sambil duduk sehingga kami membeli kursi ini. Memang butuh kesabaran untuk menjadikan Kafka terbiasa. Kafka paling lama bertahan di kursi kurang lebih 10 menit. Setelah itu ya nangis minta turun. Kami turunkan, kemudian kami naikkan kembali ke kursi. Begitu seterusnya sampai habis. Tapi berhubung kami berdua kerja, Mbah Uti-nya lah yang menyuapi Kafka. Mbah Uti-nya kurang sabar, jadi Kafka digendong saja. Tapi tak apa, kalau libur kami biasakan lagi. Yang terpenting Kafka doyan makan dan tidak gerakan tutup mulut (GTM).

Babydoes

 

Harga: Rp. 250.000 (merek BABYDOES)

———-

Itulah beberapa peralatan yang kami gunakan untuk mempersiapkan MPASI Kafka. Sebentar lagi Kafka berusia 10 bulan. Dengan bertambahnya usia, tekstur MPASI juga semakin kasar. Alhamdulillah, Kafka bukan anak yang picky eater alias pemilih makanan dan GTM jarang dilakukan Kafka.

Urusan Perlengkapan Anak = Urusan Ibu?

Saya akan membuka tulisan ini dengan sebuah percakapan antara saya (S) dan seorang yang menyewakan pompa ASI (P).

S: “Mba, mau nanya. Untuk pompa ASI merek Sp***a 9+ masih ada untuk disewa?
P: “Kosong, Bunda. Adanya yang 9S.
S: “Saya kebetulan Ayah, bukan Bunda. 😀”
P: “Maaf, Ayah.

Percakapan berlanjut hingga pompa ASI bisa saya sewa. Tulisan ini tidak ingin membahas bagaimana cara menyewa pompa ASI melainkan menunjukkan bahwa beberapa orang masih berpikir kalau urusan domestik rumah tangga (yang saya bahas di sini adalah perlengkapan anak) adalah urusan Ibu.

Saya dan Bojo dari awal menikah berkomitmen tidak ada yang namanya pekerjaan suami atau pekerjaan istri. Selagi keduanya bisa melakukan ya pekerjaan bersama. Begitu juga tentang persiapan kelahiran Kafka. Perlengkapan yang dibutuhkan anak lanang tidak menjadi tanggungan Bojo tapi kami berdua.

Kami membutuhkan stiker label untuk botol ASIP-nya Kafka dan menemukan akun di Instagram untuk jasa perbuatan stiker label. Saya sapa via WhatsApp. Apa yang terjadi? Sama seperti kejadian saat ingin sewa pompa ASI (bisa dilihat gambar di bawah).

Kog bisa gitu ya? Apa karena orang-orang ini kebanyakan yang pesan Ibu-Ibu? Kalau memang benar, ya tetap tidak bisa mengeneralisir bahwa setiap yang ingin beli adalah Ibu-Ibu. Karena ada Ayah seperti saya yang mau untuk terlibat dalam setiap proses untuk anaknya bahkan hanya urusan stiker label ASI.

Awalnya biasa saja. Lama-lama kesal karena dari 6 penjual online yang saya hubungi, 5 diantaranya langsung memanggil Bunda/Ibu/Mba. Satu sisanya memilih menggunakan kata Anda.

Tambah dongkol lagi, saat pergi ke pasar untuk membeli perlengkapan mandi Kafka di Jakarta. Mbak penjualnya bilang gini,

Kog yang beli suaminya. Suami takut istri ya?

Ya Allah.. mindset orang separah itulah urusan domestik. Lha wong beli peralatan bayi sendiri di pasar dibilang suami takut istri. Antara ingin ketawa dan sedih miris. Jawaban saya ke penjualnya,

Saya bukan takut istri, Mbak. Saya suami sayang istri.

Urusan yang bisa dikerjakan baik saya dan Bojo ya kita kerjakan bersama. Bukan memilah ini tugas istri, ini tugas suami. Prinsip saya dan Bojo dalam menjalani rumah tangga adalah kerjasama, saling membantu berbagai pekerjaan. Semoga prinsip ini terjaga sampai maut memisahkan. Kog tetiba romantis. Uhuy!

Back to topic, wahai penjual online dimanapun berada, alangkah baiknya gunakan sapaan Anda. Khususnya untuk penjual peralatan bayi, yang membeli/menyewa dagangan kalian bukan hanya Ibu-Ibu saja. Ada Ayah seperti saya yang juga menjadi customer kalian.

Tertanda,

Ayah yang mau rela ke pasar beli peralatan anak

Kafka dan Imunisasi

Saya dan Bojo menginginkan hal yang terbaik dalam proses tumbuh kembang Kafka. Salah satunya dalam hal imunisasi, hukumnya wajib untuk dilakukan. Kami percaya bahwa imunisasi itu penting untuk perkembangan Kafka sehingga menjadi salah satu prioritas kami. Dengan mempertimbangan kondisi finansial, kami ingin membekali Kafka dengan vaksin lengkap sesuai dengan usianya.

Pertama kali kami mengimunisasi Kafka di rumah sakit saat dia lahir, RS Aisyah Bojonegoro. Dokternya memberikan informasi yang cukup lengkap mengenai imunisasi berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Beliau merekomendasikan untuk memberikan vaksin lengkap, minimal imunisasi dasar yang ditanggung oleh Pemerintah. Silakan dicari di google vaksin apa saja yang ditanggung oleh Pemerintah atau imunisasi dasar ini.

Dari RS Aisyah, imunisasi kedua dilakukan di salah satu Puskesmas di Jakarta. Saya dan Bojo yang mana adalah kategori keluarga menengah tanggung ingin mencoba bagaimana pelayanan imunisasi di pusat kesehatan milik Pemerintah. Toh sebenarnya imunisasi dasar yang dari Pemerintah sama kualitasnya dengan imunisasi di rumah sakit. Ekpektasi kami terlalu tinggi. Kafka hanya ditimbang berat badan dan kemudian diimunisasi. Tidak ada pencatatan di buku perkembangannya, tidak ada basa basi bertanya tentang Kafka, dan bahkan saat ingin bertanya langsung dipotong. “Ya elahhh, Ndik. Sudah gratis masih protes?” Bukannya seharusnya tugas bidan di Puskesmas menjelaskan semuanya? Ya sudah lah ya. Semoga Puskesmas lainnya memberikan pengalaman yang lebih baik dari saya dan Bojo. Terlepas dari masalah itu, imunisasi dasar di Puskesmas sangat saya rekomendasikan. Gratis dan sehat Tapi ya jangan terlalu tinggi ekspektasi pelayanannya, yang terpenting kan tujuannya dapat. Waktu itu kami hanya membayar dua ribu rupiah untuk administrasi.

Imunisasi berikutnya saya lakukan di Rumah Sakit Kemang Medical Care (RS KMC) dengan Dokter Made. Kebetulan imunisasi yang kedua ini adalah imunisasi yang bisa dicover oleh asuransi, jadi Alhamdulillah tidak bayar. Alasannya tidak terkait dengan itu saja, tapi kami juga ingin berkonsultasi mengenai perkembangan Kafka, baik fisik (berat badan, tinggi badan, lingkar kepala) dan tumbuh kembangnya. Dokter Made juga menjelaskannya detail sekali. Sebagai gambaran untuk biaya, imunisasi di Puskesmas gratis, di RS KMC biaya untuk vaksinnya 900 ribu rupiah (kalau vaksin yang sama seperti di Puskesmas, di RS KMC sekitar 350 ribu). Itu belum biaya dokternya. Pemerintah memang perhatian ke warganya dengan memberikan imunisasi dasar gratis. Jadi manfaatkan ya Ibu dan Bapak sekalian. Jadi tidak ada alasan Ibu dan Bapak tidak mengimunisasi anaknya dengan alasan biaya.

Imunisasi ketiga Kafka masih imunisasi dasar sekaligus imunisasi tambahan yang tidak ditanggung Pemerintah (berarti juga tidak ditanggung asuransi). Saya dan Bojo mencari alternatif tempat imunisasi. Setelah searching di google, ketemulah Rumah Vaksin (RV) Kebagusan. Kami tertarik untuk mencobanya. Kabar yang beredar di google, harganya lebih murah ketimbang di rumah sakit. Plusnya lagi adalah tidak ada biaya dokter. Sebagai keluarga kelas menengah tanggung, itu jadi point penting. Imunisasi tambahannya adalah PCV yang mana sebenarnya tidak wajib. Kami sepakat mengalokasikan dana untuk imunisasi ini. Datanglah kami ke Rumah Vaksin Kebagusan yang dekat sama kontrakan rumah.

Cukup mudah untuk menuju ke RV Kebagusan karena di aplikasi ojek daring sudah ada. Kesan pertama sampai di RV Kebagusan adalah nyaman sekali. Tidak ada kesan rumah sakit sama sekali, seperti rumah. Banyak mainan untuk anak-anak di ruang tunggu. Kami harus melakukan appointment terlebih dahulu sebelumnya untuk imunisasi di sini. Jangan langsung datang karena pasti akan ditolak. Kami disambut ramah oleh resepsionis yang merangkap sebagai kasir sekaligus asisten dokter. Kafka ditimbang dan diukur tinggi badannya. Kami dapat giliran kedua. Masuk ruang periksa, sudah ada dokter muda cantik yang ramah. Ruang periksanya lebih warna-warni dan banyak mainannya. Kami diajak ngobrol terlebih dahulu. Kemudian dijelaskan tentang imunisasi yang akan kami berikan ke Kafka. Setelah kami mengerti, dokternya langsung mengobservasi perkembangan Kafka, detail juga seperti Dokter Made. Waktu itu kami diingatkan tentang pembersihan area kelamin Kafka. Soalnya ada kemungkinan fimosis (lubang jalur kencingnya tertutup, sehingga akan jadi sarang bakteri). And it’s happen, sebulan berikutnya Kafka sakit ISK. Dokternya juga ngemong sekali saat imunisasi. Kafka diajak komunikasi. Setelah imunisasi, dokternya mengisi buku perkembangan dengan lengkap dan memberikan kami tips-tips apabila Kafka demam pasca imunisasi.

RV Kebagusan sangat saya rekomendasikan untuk tempat imunisasi bagi Ibu dan Bapak yang tinggal di area Jakarta Selatan. Oh ya, waktu itu dokternya bukan dokter anak. Tapi penjelasannya detail layaknya dokter anak. Dokter anak ada hanya tiap hari Sabtu atau Minggu (lupa). Jika memang ingin imunisasi vaksin yang tidak ditanggung Pemerintah (read: asuransi juga), RV Kebagusan bisa menjadi solusi. Lumayan bisa menghemat biaya dokter (misal di RS KMC, 300 ribu). Sebagai keluarga hemat ceria, jumlah itu cukup untuk beli pampers Kafka.

Imunisasi berikutnya dilakukan di RV Kebagusan. Sekarang Kafka sudah berusia 9 bulan, artinya jadwal imunisasi campak. Vaksin di RV Kebagusan sedang kosong. Kami coba di RS KMC, ternyata juga kosong. Akhirnya balik lagi ke Puskesmas yang mana pasti ada. Ternyata memang masih ada stok. Karena saya masih di Kalimantan, Bojo datang ke Puskesmas bersama Mbah Uti. Tentunya dengan ekpektasi yang sudah kita adjust, minimal tujuannya tercapai, bisa imunisasi.

Intinya, dimanapun imunisasinya, yang terpenting tujuannya tercapai. Mau di Puskesmas yang gratis, mau di rumah sakit yang ada biaya dokternya, atau mau di rumah vaksin yang tidak ada biaya dokter, TIDAK MASALAH! Ibu dan Bapak sekalian jangan lupa jadwal imunisasi buah hatinya ya.

Salam Ayah ASI!